Kementerian Kehutanan (Kemenhut) meminta aparat kepolisian menyelidiki kebakaran yang melanda Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur. Kebakaran ini diperkirakan menghanguskan 673,4 hektare lahan konservasi.
Kemenhut menduga kejadian di kawasan TNWK berpotensi disebabkan unsur kesengajaan. Salah satu dugaan yang mencuat berkaitan dengan aktivitas pemburu liar di kawasan tersebut.
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik Kemenhut, Ahmad Munawir, menyatakan penyelidikan akan melibatkan kepolisian setempat.
"Ya, justru itu, kita akan melibatkan Polri, dalam hal ini Polres Lampung Timur, dan kita akan usut," kata Ahmad Munawir.
Pernyataan itu ia sampaikan di Balai TNWK, Lampung Timur, Lampung, Minggu (23/8/2026).
Advertisement
Polri Diminta Selidiki Kebakaran, Ancaman Pidana Disiapkan
Ahmad menegaskan proses hukum akan ditempuh jika ditemukan unsur kesengajaan setelah penyelidikan. Ia merujuk ketentuan pidana dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990.
"Kita akan usut. Kalau memang ada indikasi ke arah kesengajaan, maka itu pasti ada proses hukumnya. Seperti di Undang-Undang 5/90, ada ancaman pidananya," tegas Ahmad.
Ia menambahkan pelibatan Polres Lampung Timur menjadi langkah awal untuk mengurai penyebab kebakaran yang kembali terjadi di kawasan konservasi tersebut.
Advertisement
Patroli Diperkuat dan Imbauan di Musim Kering
Selain pemadaman, Kemenhut memperkuat pencegahan melalui patroli dan kolaborasi dengan berbagai unsur masyarakat. Sejumlah pihak dilibatkan, antara lain Masyarakat Mitra Polhut, Masyarakat Peduli Api, dan Kelompok Tani Hutan.
Ahmad mengimbau warga tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api di dalam kawasan hutan, terutama pada musim kemarau ketika vegetasi mudah terbakar.
"Misalnya mungkin lewat buang puntung dan lain-lain. Itu bahaya sekali di musim kemarau seperti ini," terang Ahmad.
Ia juga mengingatkan perlunya kewaspadaan bersama di tengah kondisi kering yang berkepanjangan.
"Apalagi sekarang katanya super El Nino, kering, sehingga kita harus berkolaborasi menjaga hutan kita ini," tandasnya.
Advertisement
Pemadaman Terkendala Medan dan Air, Tambahan Peralatan Dibutuhkan
Sebelumnya, Kepala Balai TNWK MHD Zaidi mengungkapkan dugaan adanya unsur kesengajaan dalam peristiwa ini.
"Dugaan kami seperti itu (sengaja dibakar)," kata Zaidi.
Ia menyebut tim gabungan dari Balai TNWK, TNI-Polri, dan relawan masih berjibaku di lapangan untuk mencegah api meluas. Namun proses pemadaman tidak mudah karena medan sulit dijangkau kendaraan.
"Tim gabungan dari balai, TNI-Polri hingga relawan hingga siang ini masih melakukan upaya pemadaman. Namun memang kondisi jalan yang tidak bisa diakses kendaraan membuat proses pemadaman terkendala," ujar Zaidi.
Di sisi lain, keterbatasan sumber air menjadi kendala tambahan. Kemarau membuat banyak sungai di dalam maupun sekitar TNWK mengering.
"Kemudian kami juga terkendala air. Di musim kemarau ini membuat banyak sungai di area Way Kambas dan di sekitarnya mengering," katanya.
Zaidi menyatakan perlunya tambahan personel, logistik, serta peralatan, terutama mesin pompa portabel untuk menjangkau titik api yang sulit diakses.
"Kami membutuhkan bantuan personel, logistik dan mesin pompa portable. Mesin ini bisa membantu tim untuk memadamkan api yang sulit dilalui kendaraan," kata Zaidi.