AS Bakal Terapkan Sanksi Terberat ke Iran, Ada Apa?

Menkeu AS Scott Bessent memaparkan tekanan ekonomi maksimal untuk Iran dalam wawancara CNBC. Ia sebut pesan ke sekutu: 'Anda bersama kami atau melawan kami'.

Thurfah Mahira Ahnaf
Oleh Thurfah Mahira Ahnaf - Reporter
AS Bakal Terapkan Sanksi Terberat ke Iran, Ada Apa?
<p>Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent berbicara di Ruang Oval Gedung Putih, Jumat, 5 September 2025, di Washington, dalam sebuah acara bersama Presiden Donald Trump. (Foto AP/Alex Brandon)</p>

Amerika Serikat menyiapkan paket sanksi terberat untuk Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyebut tekanan ekonomi maksimal yang dirancang pemerintahan Presiden Donald Trump ditujukan untuk meniadakan kebutuhan operasi militer skala besar terhadap Teheran.

Pernyataan itu disampaikan Bessent kepada CNBC pada Kamis (20/8/2026) dalam wawancara eksklusif di program Squawk on the Street. "Jika kita memberikan tekanan ekonomi maksimal, maka kemungkinan besar tidak akan terjadi eskalasi konflik bersenjata skala besar," kata Bessent.

Komentar Bessent muncul setelah Trump menulis di Truth Social bahwa AS akan menghancurkan ekonomi Iran dengan menjatuhkan sanksi berat terhadap negara mana pun yang memberikan segala jenis bantuan kepada Teheran. "Ini akan menjadi HARI-H EKONOMI, dan kita membutuhkan semua Sekutu kita untuk berdiri bersama Amerika Serikat untuk mengisolasi dan mengalahkan ancaman Iran," tulis Trump pada Rabu malam.

Scott Bessent Janjikan Tekanan Terkoordinasi

Harga minyak bergerak naik setelah wawancara CNBC dengan Bessent. Ia bersumpah AS akan menciptakan "isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia" terhadap Iran.

Bessent menyebut Departemen Keuangan akan memaparkan rincian rencana dalam konferensi pers pada Senin. Ia mengatakan, komunikasi kepada para sekutu akan disampaikan lebih dulu sebelum pengumuman lengkap.

"Anda bersama kami atau melawan kami," ujar dia.

Pengumuman sanksi disiapkan di tengah perang melawan Iran yang mendekati enam bulan, tanpa tanda-tanda AS segera meraih kemenangan diplomatik atau militer.

Sanksi Ditambah Blokade Laut

Bessent menepis skeptisisme awal atas efektivitas paket sanksi. Ia berargumen kampanye tekanan ekonomi akan berjalan beriringan dengan blokade laut AS yang sedang berlangsung terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di Teluk Oman.

"Jika Anda bersikeras melakukan bisnis dengan Iran, baik mentransfer uang, membeli minyak, atau melakukan transfer kapal, maka Departemen Keuangan dan pemerintah AS akan mengerahkan seluruh kekuatan dan tenaganya untuk menindak Anda," kata Bessent.

"Sudah saatnya sekutu kita dan seluruh dunia mengambil keputusan," ia menambahkan.

"Ini adalah pukulan ganda. Kita memiliki blokade, dan akan menerapkan sanksi terberat dalam sejarah," katanya.

"Kita akan meruntuhkan rezim ini," ujar dia.

Ekonomi Iran, Selat Hormuz, dan Sikap Kawasan

Trump berulang kali mengklaim AS telah menghancurkan militer dan ekonomi Iran, seraya menyebut Teheran kini terpojok. Di lapangan, produk domestik bruto (PDB) Iran diyakini menyusut di tengah perang, sementara inflasi melonjak ke tingkat tertinggi. Sejumlah ahli, meski demikian, mengingatkan agar tidak berasumsi ekonomi Iran akan segera runtuh.

Iran tetap memanfaatkan kemampuannya mengacaukan Selat Hormuz, jalur vital yang sebelum perang menampung sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Pelayaran kapal tanker melalui selat tersebut masih sangat berkurang meskipun tekanan dari AS dan kekuatan regional lainnya meningkat.

Uni Emirat Arab pada Rabu mengatakan akan menghentikan semua perdagangan dengan Iran setelah menghadapi serangan rudal balistik baru. Dari Teheran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menanggapi ancaman terbaru Trump melalui X.

"Memperkuat kebijakan yang gagal hanya akan membuahkan kekalahan dan permusuhan dari rakyat Iran," kata Menteri Luar Negeri, Iran Abbas Araghchi, di X sebagai tanggapan atas ancaman terbaru Trump.

Rekomendasi