Pencari Logam Temukan Pedang Abad ke-15 di Dasar Sungai, Kondisinya Bikin Kaget
Pedang “Zweihander” sepanjang 3 kaki ditemukan di samping senjata-senjata lain yang dibuang, termasuk kepala kapak.
Seorang pendetektor logam di Polandia menemukan sebilah pedang abad ke-14 atau 15 di sebuah sungai.
Bisa dibayangkan sebilah pedang yang cukup besar dan membutuhkan dua tangan untuk diayunkan dalam pertempuran pasti sangat melelahkan untuk dibawa-bawa pada era abad pertengahan di Polandia.
Karena itu, kita juga dapat memahami keputusan seorang prajurit malang untuk membuang pedang sepanjang hampir 1 meter (kemungkinan demi sesuatu yang lebih ringan), yang terkenal sebagai pedang “Zweihander” pada tempat penyimpanan senjata sekitar abad ke-14 atau 15.
Namun, seperti kata pepatah, sampah seseorang dapat menjadi harta karun berharga bagi orang lain.
Ahli detektor logam di Polandia yang berasal dari Asosiasi Detektor Bishop kini menganggap pedang tersebut – bersama dengan senjata dan peralatan lain yang mereka temukan di tempat yang sama - sebagai penemuan yang penting.
Dilansir Heritage Daily, pendetektor logam itu menyerahkan senjata-senjata tersebut ke Kantor Perlindungan Monumen Voivod dan kemudian ke Museum Ostroda. Para ahli terkesan dengan betapa terawatnya pedang itu – dengan pegangannya, pangkal gagangnya, dan pelindungnya- saat mereka terkubur di dekat dasar sungai, seperti
Pihak museum menulis di Facebook, pengawetan benda-benda tersebut akan dimulai dengan serangkaian sinar-X untuk lebih memahaminya. Museum yang bertempat di bekas kastil Teutonik menyatakan bahwa ini akan menjadi pedang dua tangan pertama dalam koleksinya. Sehingga museum ini menjadi lokasi yang tepat untuk penemuan semacam itu.
Menurut Asosiasi Seni Bela Diri Renaisans, popularitas pedang tersebut berlangsung sepanjang abad ke-15, abad pertengahan akhir. Zweihander secara harfiah berarti “pedang dua tangan”, pedang ini pada dasarnya tampak seperti pedang panjang yang lebih besar.
Zweihander dianggap sebagai senjata khusus, umum di seluruh Eropa dan terus berkembang popularitasnya hingga abad ke-16, khususnya di Swiss dan Jerman.
Pedang dua tangan dianggap efektif dalam jarak dekat, tapi membutuhkan keterampilan ekstra untuk menggunakannya. Senjata ini paling banyak digunakan pada Zaman Renaissance. Kondisi apik pedang ini mungkin karena telah terendam dengan baik di bawah air selama bertahun-tahun.
Asal-usul pedang Zweihander ini masih menjadi misteri.
Lukasz Szczpanski, seorang arkeolog Museum Ostroda memiliki sebuah teori, “secara meyakinkan,” ungkapnya, “endapan ini terhubung dengan perairan tenang Osa. Saat ini, sungai ini sudah diatur, tapi pada masa lalu, sungai ini memiliki karakter liar seperti dasar sungai yang berkelok-kelok. Mungkin karena ada jembatan di sana, tempat pedang ini dibuang oleh pemiliknya.”
Teori jembatan mungkin bukan satu-satunya penjelasan yang masuk akal bagaimana persenjataan itu berakhir dan tersebar.
Area potensial pemukiman abad pertengahan awal terletak dekat dengan tempat para pendetektor logam mencari, yang berarti mungkin ada lebih banyak lagi kepala kapak dan pedang unik yang tertanam di kawasan itu.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey