Arkeolog Temukan Kerangka Prajurit Saka Berusia 2.500 Tahun Masih Genggam Pedang Perunggu

Tim arkeolog di Kazakhstan menemukan kerangka prajurit yang masih menggenggam pedang di makamnya.

Magang
Oleh Magang - Reporter
Arkeolog Temukan Kerangka Prajurit Saka Berusia 2.500 Tahun Masih Genggam Pedang Perunggu
pedang prajurit saka (Karaganda Regional History Museum)

Tim arkeolog dari Museum Sejarah Regional Karaganda menemukan makam seorang prajurit Saka yang berusia sekitar 2.500 tahun di wilayah Karaganda, Kazakhstan tengah. Yang membuat penemuan ini luar biasa, kerangka prajurit tersebut masih menggenggam pedang perunggu di tangan kanannya dalam kondisi hampir sempurna sejak dikubur ribuan tahun lalu.

Penemuan ini berlangsung di situs pemakaman Karabiye, distrik Aktogay. Kuburan yang belum pernah dijarah itu disebut sebagai salah satu temuan arkeologi paling penting dari Zaman Besi awal dalam beberapa dekade terakhir.

“Setelah mengangkat batu penutup, kami melihat kerangka dalam posisi anatomi sempurna. Di tangan kanannya masih tergenggam sebuah akinak. Kami sudah lama tidak menemukan hal seperti ini,” ujar Dauren Zhussupov, Kepala Departemen Arkeologi Museum Regional Karaganda, seperti dilansir Arkeonews, Selasa (11/11).

pedang prajurit saka
pedang prajurit saka Karaganda Regional History Museum

Pedang perunggu yang ditemukan berukuran sekitar 30 sentimeter, bermata dua, dan dihiasi dengan ukiran burung pemangsa serta tanduk domba gunung (argali) simbol kekuasaan dan kebebasan bangsa nomaden.

Arkeolog Arman Beissenov menyebut pedang tersebut sebagai “mahakarya metalurgi kuno” karena keindahan detail dan teknik pembuatannya yang maju.

Selain pedang, tim juga menemukan lima mata panah logam dan satu anting emas di dalam makam. Benda-benda itu diyakini menunjukkan status sosial tinggi sang prajurit kemungkinan seorang bangsawan atau kepala pasukan.

Kaum Saka merupakan konfederasi suku nomaden yang menguasai padang rumput Asia Tengah antara abad ke-8 hingga ke-3 SM. Mereka dikenal oleh bangsa Persia sebagai Saka dan oleh bangsa Yunani sebagai Scythian.

Tim Karaganda akan melakukan analisis lanjutan termasuk radiokarbon dan metalografi untuk menentukan usia pasti makam, asal-usul sang prajurit, serta komposisi logam pedangnya.

Hasil penelitian yang diharapkan selesai musim dingin mendatang diharapkan memberi wawasan baru tentang perdagangan, teknologi, dan kehidupan pada Zaman Besi awal.

“Pemakaman ini memungkinkan kita menatap langsung ke dunia kaum Saka. Setiap detail dari senjata hingga hiasannya menceritakan kisah tentang manusia yang hidup, berjuang, dan bermimpi di padang luas Kazakhstan,” ujar Beissenov.

Reporter Magang - Mochamad Aidil Akbar

Rekomendasi