Masa Kecil Menlu Retno Marsudi, Kenangan Ayam Suwir dan Pesan Eling Sang Ibunda
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi selalu ingat kehidupan masa kecil dan pesan ibundanya seperti yang tertuang dalam buku biografinya "Saya Bukan Siapa-Siapa".
Bagi banyak orang menjadi seorang diplomat bahkan menteri pasti hidupnya bisa digambarkan amat glamor. Pesta, jamuan, jas dan blazer serta perjalanan ke luar negeri menjadi makanan mereka sehari-hari.
Namun nyatanya hal itu tidak sepenuhnya benar. Setidaknya pada Menteri Luar Negeri Retno Marsudi atau yang akrab disapa Retno. Sebelum terjun di dunia diplomasi hidupnya ternyata serba terbatas.
Retno sendiri tidak datang dari keluarga pejabat. Orang tuanya adalah orang biasa yang tinggal di Semarang dengan menjual kain batik. Ia dan keluarganya bahkan sempat dua tiga kali pindah kontrakan sebelum bisa membangun rumah sendiri.
Sewaktu kecil bisa makan sepotong ayam saja sudah dianggap mewah. Ayam yang dikenal Retno semasa kecil hanya ayam yang bentuknya sudah disuwir-suwir karena harus dibagi dengan dua adiknya.
Saking seringnya makan ayam suwir, Retno ingin sekali pergi ke rumah makan untuk makan ayam satu potong utuh, tapi nyatanya hal itu tak pernah terjadi saat itu.
Mengingat masa kecilnya yang serba terbatas, ketika memulai karirnya di dunia diplomasi sampai menjadi Menteri Luar Negeri hidupnya selalu sederhana.
“Sampai sekarang saya tidak bisa makan ayam satu potong utuh, ayam yang saya kenal adalah ayam suwir dan telur yang dibagi,” kata Retno suatu kali, seperti dikutip dari buku "Saya Bukan Siapa-Siapa".
Pesan ibu untuk tetap eling
Nilai-nilai yang diturunkan keluarganya terutama ibunya menjadikan Retno sosok yang pekerja keras mengingat keluarganya bukan siapa-siapa.
Setiap kali ada kesempatan, ibunya selalu berpesan pada Retno untuk sentiasa “eling”, ingat asal-usul dan posisi dirinya. Falsafah “Eling lan waspada” selalu menjadi bagian dari hidup menlu perempuan pertama Indonesia ini.
“Eling ya, Mbak, eling,” begitu pesan ibunya.
“Saya merasa diberkahi Gusti Allah karena tidak berubah cara berpikir saya dan tidak ngiwut (balas dendam) dengan hidup enak. Saya selalu ingat nasihat ibu saya itu, eling,” tutur Retno.
Berbagi menurut Retno juga merupakan wujud dari nasihat “eling” dari ibunya. Dengan berbagi ia akan “eling” dengan asal-usulnya, “eling” selalu melakukan yang benar dan “eling” apa yang dilakukan bermanfaat bagi orang lain.
“Buat orang Jawa, eling itu sangat dalam. Buat saya, kata eling itu luar biasa,”
Reporter Magang: Elma Pinkan Yulianti