Kecantikan Merekah di Gaza, Salon Noor Bawa Secercah Harapan Bagi Perempuan yang Letih di Tengah Kehancuran
Kecantikan di tengah perang bukan lagi sebuah mimpi untuk para perempuan yang telah lama mendambakan perawatan diri.
Di tengah kekacauan kota Gaza atas perang yang tidak berkesudahan, berdiri satu tenda biru kecil milik Noor al-Ghamari. Seorang wanita muda yang berhenti dari kuliah keperawatan untuk mengejar kecintaannya pada tata rambut dan tata rias. Tenda tersebut merupakan salon kecantikan miliknya yang hanya ditandai dengan secarik kertas berwarna putih bertuliskan “Salon Noor” di sisi tenda.
Kecantikan di tengah perang bukan lagi sebuah mimpi untuk para perempuan yang telah lama mendambakan perawatan diri. Noor percaya perang sangat kejam terhadap perempuan karena merampas rumah, keamanan, serta kapasitas perempuan Gaza untuk merawat diri sendiri saat mereka menghabiskan energi mereka untuk bertahan hidup.
“Saya melihat banyak sekali perempuan dengan keadaan kulit terbakar matahari karena tinggal di tenda yang panas, terus-menerus memasak di atas api kayu, mencuci pakaian menggunakan tangan, dan membawa wadah air yang berat,” ujar Noor, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (11/3).
“Selain itu, mereka tidak memiliki privasi di tenda pengungsian yang penuh dan sesak. Belum lagi ketika rasa takut datang disertai pengeboman dan semua kekejaman perang.”
Tenda biru kecil berisi satu meja yang di atasnya berisi cermin rusak, peralatan pencabut bulu, pelembab, dan beberapa alat rias itu merupakan salon kecantikan impian Noor.
Dia mendirikannya sekitar tiga minggu lalu di atas trotoar yang hancur, satu-satunya tempat yang tersedia saat dia dan keluarganya kembali ke Gaza Utara dari pengungsian mereka di Selatan.
“Sejak salon ini buka, banyak sekali wanita yang datang dengan cerita-cerita yang menyayat hati, tentang kehilangan keluarga dan orang-orang terkasih. Mereka datang dengan keadaan lelah, wajah mereka pucat,” kata Noor.
Pelanggan Noor
Amani Dweima datang ke salon dengan seorang anak perempuannya berusia 16 tahun, bernama Aya. Ibu berusia 39 tahun itu ingin membentuk alisnya, dan riasan lengkap untuk putrinya. Ternyata, mereka ingin datang ke acara pernikahan yang diadakan malam itu setelah buka puasa.
“Pernikahan keponakan saya,” kata Amani. “Kami merayakan pernikahan pengantin wanita dengan acara kumpul keluarga kecil-kecilan sebelum pengantin pria membawanya ke tenda mereka.”
Noor menyapa Amani dan Aya, setelahnya dia mulai melunakkan sepotong kecil pasta gula, meremasnya dengan lembut di tangannya, dan mulai merias.
“Aku mencoba menawarkan mereka sebuah momen kenyamanan, bisa dibilang sebagai pelarian sejenak. Tujuan utamaku adalah agar perasaan mereka sedikit tenang dan ringan, sedikit lebih bahagia,” ucap Noor.
Amani baru-baru ini kembali ke utara setelah sebelumnya mengungsi ke Deir el-Balah. Awalnya sama sekali tidak berpikir untuk pergi ke ahli kecantikan pada awal masa perang.
Akhirnya, ia menemukan salon serupa di Deir el-Balah dan mulai rutin pergi kesana.
“Merawat diri sendiri bisa mengubah suasana hati saya, terutama saat saya melihat bayangan saya di cermin. Saya ingin selalu tampil rapi,” kata Amani.
“Tragedi di sekitar kita tidak pernah berakhir. Mengunjungi salon kecantikan adalah salah satu pelarian sejenak dari semua kesulitan yang ada di sekitar kami,” tambahnya.
Sangat Gembira
Saat kembali ke Utara, dia “sangat gembira” melihat tenda salon biru kecil milik Noor dan segera menyebarkan kabar baik itu kepada tetangga dan kerabat dekatnya. Selain Amani dan Aya, Noor bercerita bahwa dia memiliki klien dari segala usia yang merasa bahwa perawatan diri penting bagi mereka.
“Saya bertemu banyak perempuan yang tidak tahan dengan sehelai rambut pun di wajah atau alis mereka. Ada yang datang kepadaku setiap minggu, ada yang rutin atau hanya sesekali,” kata Noor.
Noor juga teringat pada seorang klien yang pernah datang, seorang wanita berusia 30-an yang mengalami trauma berat ketika orang tua dan semua saudaranya syahid dalam serangan udara Israel.
“Saya merasa sangat kasihan padanya,” kata Noor.
“Saya memberinya perawatan lengkap, mencabut bulu, membentuk alis, dan memotong rambutnya, bahkan Noor memberikan bonus pijat wajah dan masker gratis.”
“Ketika dia bercermin, matanya berkaca-kaca.”
Ide salon kecantikan di tengah perang mungkin tampak aneh. Amani dan Noor setuju akan hal itu, tetapi kegiatan perawatan diri dapat membantu meringankan beban wanita.
Reporter Magang: Devina Faliza Rey