Fakta Rudal Haj Qasem: Senjata Baru Iran yang Sulit Dicegat AS dan Israel
Rudal balistik taktis ini menggunakan bahan bakar padat. Rudal ini diperkenalkan pada tahun 2020 dan diklaim memiliki jangkauan sekitar 1.400 kilometer.
Iran telah memulai penggunaan rudal canggih Haj Qasem untuk pertama kalinya dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel. Menurut laporan dari antor berita Fars pada Selasa (17/3), yang mengutip pernyataan dari Garda Revolusi Iran (IRGC), rudal ini digunakan dalam serangkaian operasi militer terbaru. Operasi tersebut termasuk fase ke-59 dari operasi "True Promise 4," yang menargetkan pangkalan militer AS yang berada di Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Kurdistan Irak.
Selain itu, IRGC juga melaporkan telah melakukan serangan terhadap beberapa kota di Israel, seperti Tel Aviv, Yerusalem Barat, dan Beit Shemesh.
Dilansir dari Antara, rudal Haj Qasem termasuk dalam daftar senjata yang diluncurkan selama serangan tersebut, menandai debutnya dalam konflik yang sedang berlangsung. Rudal ini sebelumnya telah digunakan dalam pertempuran melawan Israel pada bulan Juni 2025. Haj Qasem merupakan rudal balistik taktis yang menggunakan bahan bakar padat dan diperkenalkan pada tahun 2020. Dengan jangkauan sekitar 1.400 kilometer, rudal ini diyakini mampu mencapai sasaran di wilayah selatan Israel dari dalam Iran.
Nama rudal ini diambil untuk menghormati Jenderal Qasem Soleimani, mantan komandan Pasukan Quds yang tewas dalam serangan drone oleh Amerika Serikat pada tahun 2020.
Kecanggihan Rudal Haj Qasem
Rudal ini diklaim sebagai senjata dengan kemampuan tinggi yang dirancang khusus untuk menghindari sistem pertahanan udara tercanggih. Contohnya adalah sistem pertahanan udara THAAD yang diproduksi oleh AS dan Patriot yang digunakan oleh Israel. Rudal ini dilengkapi dengan kendaraan luncur hulu ledak bermanuver (MaRV) serta sistem pemandu yang sangat canggih. Di antara fitur-fiturnya terdapat pencari optik dan inframerah, serta sistem navigasi inersia yang memungkinkan akurasi serangan. Menariknya, rudal ini tidak bergantung pada GPS, sehingga tetap dapat melancarkan serangan yang tepat meskipun dalam situasi gangguan elektronik.
Lebih dari 1.200 Orang Tewas
Iran terus melancarkan serangan terhadap Israel serta target-target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sebagai respons terhadap operasi militer gabungan yang dilakukan pada tanggal 28 Februari. Dalam operasi tersebut, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas, bersama dengan lebih dari 150 murid sekolah perempuan di bagian selatan Iran. Menurut laporan resmi, Iran mencatat lebih dari 1.200 orang tewas dan lebih dari 17.000 lainnya mengalami luka-luka.
Sementara itu, Amerika Serikat dan Israel awalnya mengklaim bahwa "serangan pendahuluan" tersebut diperlukan untuk menghadapi ancaman yang ditimbulkan oleh program nuklir Iran. Namun, seiring berjalannya waktu, kedua negara tersebut mengubah pernyataan mereka dan menyatakan bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk menggulingkan rezim yang sedang berkuasa di Iran.