Cristian Chivu Ciptakan Sejarah Baru di Inter Milan: Scudetto sebagai Pemain dan Pelatih Rasanya Sama
Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, merasakan kebahagiaan yang mendalam. Selain berhasil membawa timnya meraih gelar juara Serie.
Inter Milan telah resmi meraih gelar juara Liga Italia 2025/2026 setelah mengalahkan Parma dengan skor 2-0 pada Senin, 4 Mei 2026, dini hari WIB. Kemenangan tersebut memastikan bahwa perolehan poin Nerazzurri tidak dapat dikejar oleh tim-tim rivalnya.
Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, sangat bahagia dengan pencapaian ini. Bukan hanya berhasil membawa timnya menjadi juara Serie A, tetapi juga menciptakan sejarah baru dalam kariernya.
Menurut laporan dari Tuttomercatoweb, Cristian Chivu menjadi orang kedua di era sepak bola modern yang merasakan scudetto bersama Inter Milan, baik sebagai pemain maupun pelatih, setelah Armando Castelazzi.
Chivu sebelumnya meraih Treble bersama Inter sebagai pemain pada tahun 2010, sebelum memulai karier kepelatihannya di akademi muda klub tersebut.
Pada saat itu, ia bekerja sama dengan Francesco Pio Esposito. Meskipun bukan pilihan utama untuk posisi pelatih di Inter Milan, Chivu berhasil membuktikan kemampuannya dan mengamankan Scudetto ke-21 bagi timnya.
Ketika diberitahu bahwa namanya kini tercatat dalam sejarah Inter, Chivu menjawab dengan gaya humor keringnya yang khas.
"Saya pikir saya sudah ada di sana sebelumnya," ucap Chivu kepada DAZN Italia, seperti yang dilansir oleh Football Italia.
"Saya telah melakukan beberapa hal saat menjadi pemain. Tapi saya bahagia untuk para pemain ini, untuk klub ini, dan untuk para penggemar luar biasa yang mendukung kami sejak awal."
"Saya tidak akan mengungkit seluruh narasi dari musim lalu, cemoohan dan penghinaan terhadap grup ini, tetapi para pemain berhasil bekerja keras, bangkit kembali, dan menemukan apa yang dibutuhkan untuk musim kompetisi yang baru."
Chivu merasa bangga dengan pencapaian ini. "Ini adalah gelar ke-21 dan lembaran lain dalam sejarah gemilang klub ini. Saya lebih muda saat itu, sekarang saya punya beberapa rambut beruban, tetapi saya sama bahagianya seperti saat saya masih menjadi pemain. Para pemain pantas mendapatkan pujian hari ini, mereka luar biasa," imbuhnya.
Dengan semangat yang tinggi, Chivu menunjukkan dedikasinya terhadap tim dan penggemar yang selalu mendukungnya.
Tim Paling Konsisten
Nerazzurri mengakhiri musim lalu tanpa meraih gelar. Pelatih Simone Inzaghi kemudian meninggalkan klub sebelum Piala Dunia Antarklub, dan Inter pun mendatangkan Chivu, yang baru saja menjalani beberapa minggu sebagai manajer tim senior di Parma.
Tak banyak yang mengira bahwa ia akan membawa tim meraih gelar Serie A dengan tiga laga tersisa, dan berpotensi meraih Double. Mereka akan berhadapan dengan Lazio di Final Coppa Italia pada 13 Mei.
"Berdasarkan apa yang direpresentasikan oleh klub ini, sudah menjadi tugas kami untuk menjadi kompetitif. Ada pasang surut, musim ini adalah maraton, dan kami adalah tim yang paling konsisten secara keseluruhan, bahkan setelah kalah dalam beberapa pertandingan, karena kami selalu berhasil bereaksi dan bangkit kembali," ujar Chivu.
"Saya pikir pada Januari dan Februari kami meraih 14 kemenangan dalam 15 pertandingan, atau sekitar itu, kami menyadari bahwa kami bisa melakukannya. Kami juga harus melewati momen sulit seperti tersingkir dari Liga Champions oleh Bodo/Glimt, kekalahan dalam derby, tetapi kami selalu menegakkan kepala dengan martabat dan keinginan untuk kompetitif hingga akhir," tambahnya.
Apresiasi untuk Pemain
Hasil imbang melawan Parma sebenarnya sudah cukup bagi Inter untuk meraih trofi. Namun, Inter memilih untuk tampil lebih baik dengan meraih kemenangan 2-0 berkat gol dari Marcus Thuram yang mencetak gol di lima pertandingan berturut-turut, serta sontekan Henrikh Mkhitaryan yang memanfaatkan assist dari Lautaro Martinez.
"Tentu saja saya senang, dan sudah sepatutnya para pemain mengambil pujian itu, menikmati semua cinta dan kasih sayang dari para penggemar ini. Ini adalah kesempatan untuk mengunci Scudetto di depan para pendukung dan kami berhasil melakukannya."
Chivu sempat terlihat menghilang ke dalam terowongan sesaat setelah peluit akhir berbunyi, mungkin ia ingin memberikan seluruh perhatian kepada para pemainnya.
"Saya pergi merokok, saya punya beberapa kebiasaan buruk, maaf soal itu. Tapi ya, mereka pantas mendapatkannya, begitu juga klub, yang selalu mencoba menghibur dan mendukung kami di saat-saat sulit," ungkapnya.
Sumber: Football Italia