Tips Memberi ASI pada Bayi Bibir Sumbing, Penting untuk Cegah Tersedak
Metode paling efektif untuk memberikan ASI kepada bayi dengan bibir sumbing adalah dengan menggunakan sendok atau pipet.
Memberikan Air Susu Ibu (ASI) kepada bayi yang memiliki bibir sumbing dapat dilakukan dengan beberapa metode, salah satunya menggunakan sendok atau pipet. Dokter bedah plastik rekonstruksi dan estetik, Yantoko, menjelaskan bahwa "Cara paling mudah adalah dengan menggunakan sendok atau pipet, karena lebih terkontrol dibanding dot biasa, terutama untuk bayi yang celah lebar," saat acara Harmoni Ramadan Ciptakan Senyuman, di Wisma 46 Jakarta pada Selasa, 3 Maret 2026.
Meskipun penggunaan dot masih memungkinkan, teknik khusus diperlukan untuk bayi dengan celah lebar. Metode ini melibatkan penekanan pada sisi bibir yang mengalami celah untuk membantu menutupnya saat menyusu.
Namun, Yantoko menekankan bahwa cara ini memiliki batasan, terutama bagi bayi dengan celah yang lebih besar. Selain itu, posisi bayi saat menyusu juga sangat penting; posisi setengah duduk bisa menjadi pilihan yang ideal.
"Anak yang menderita sumbing itu berbeda, sehingga dia diposisikan miring 45 derajat dalam gendongan. Dan diberikan dalam posisi sadar," tegasnya.
Dengan posisi ini, cairan dapat mengalir dengan aman dan mengurangi risiko tersedak, karena tidak langsung mengarah ke saluran napas.
Bayi dengan bibir sumbing mungkin mengalami kesulitan saat menyusui dengan baik
Yantoko menjelaskan bahwa bayi yang lahir dengan bibir sumbing sering mengalami kesulitan saat menyusui sejak hari pertama kelahirannya. Hal ini disebabkan oleh adanya celah pada bibir yang mengakibatkan struktur bibir tidak dapat membentuk lingkaran yang rapat seperti seharusnya.
"Jadi kalau bibir sumbing, itu pasti ada gangguan untuk menyusui, karena kemampuan bibir untuk menutup dan membuka secara sempurna menjadi terganggu," ungkapnya.
Kondisi bibir yang tidak utuh ini membuat bayi kesulitan dalam menciptakan tekanan di dalam mulut yang diperlukan untuk mengisap ASI atau susu dengan efektif. Jika teknik pemberian ASI tidak tepat, asupan nutrisi bayi tidak akan optimal.
"Karena lingkar bibirnya itu terputus, baik satu sisi, sebagian, atau dua sisi. Gerakan menyusu tidak bisa seperti gelang karet. Bisa buka, tutup, buka, tutup. Itu kan proses untuk mengisap," jelasnya.
Bayi Menjadi Kurang Nutrisi
Yantoko juga menyoroti bahwa berat badan bayi seringkali sulit untuk meningkat karena kurangnya nutrisi dan kemampuan mengisap yang tidak maksimal. Jika asupan nutrisi tidak mencukupi dalam jangka waktu yang lama, pertumbuhan bayi dapat terhambat dan ia mungkin tidak mencapai berat badan yang ideal.
Kekurangan nutrisi pada bayi dengan bibir sumbing tidak hanya disebabkan oleh kurangnya makanan, tetapi juga oleh hambatan anatomis yang mengganggu proses menyusui. Selain itu, risiko tersedak dapat membatasi cara pemberian susu, yang berujung pada kemungkinan asupan yang tidak maksimal dalam periode tertentu.
Berisiko mengalami tersedak
Jika terdapat kondisi yang memengaruhi langit-langit mulut, maka akan tercipta celah yang menyebabkan rongga mulut dan rongga hidung tidak terpisah dengan baik. Hal ini dapat berisiko membuat anak tersedak.
"Ketika rongga mulut dengan rongga hidung menjadi satu. Ini berbahaya sekali apabila anak tersedak. Kemudian masuk ke saluran napas. Itu lebih bahaya daripada risiko operasinya sendiri," ungkapnya.
Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan risiko masuknya cairan ke dalam saluran pernapasan saat memberikan ASI atau susu. Orangtua tidak hanya perlu memastikan bahwa nutrisi anak tercukupi, tetapi juga harus memahami teknik pemberian yang aman untuk mencegah terjadinya tersedak.
Edukasi yang tepat sejak awal dianggap sangat penting agar keluarga tidak melakukan kesalahan dalam praktik sehari-hari.
Memahami cara yang benar dalam memberikan makanan atau minuman kepada anak akan membantu mengurangi risiko kesehatan yang mungkin terjadi. Dengan pengetahuan yang cukup, orangtua dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak mereka saat menyusui. Selain itu, meningkatkan kesadaran tentang bahaya yang mungkin ditimbulkan dari celah pada langit-langit mulut dapat membantu dalam pencegahan masalah kesehatan yang lebih serius di kemudian hari.