Kreator AS Angkat Musisi Indie Indonesia ke Pendengar Global Lewat TikTok
Algoritma layanan streaming musik cenderung merekomendasikan lagu-lagu dari artis yang telah memiliki basis pendengar besar.
Kreator konten musik asal Amerika Serikat, Jorden Smith, memanfaatkan platform TikTok untuk memperkenalkan karya musisi independen Indonesia kepada pendengar internasional. Berawal dari penemuannya terhadap sebuah lagu indie asal Yogyakarta, Jorden kini rutin membagikan rekomendasi musik dari berbagai negara yang dinilai belum mendapat ruang di platform streaming.
Menurut Jorden, algoritma layanan streaming musik cenderung merekomendasikan lagu-lagu dari artis yang telah memiliki basis pendengar besar. Kondisi tersebut membuat banyak karya berkualitas dari musisi independen, termasuk Indonesia, sulit menjangkau audiens global.
Perjalanan itu bermula ketika ia menemukan lagu dari seorang musisi indie asal Yogyakarta pada akhir tahun lalu. Meski tidak memiliki jumlah pemutaran yang besar maupun masuk dalam daftar putar populer, kualitas produksinya menarik perhatian.
"Aku tidak ngerti liriknya karena bahasa Indonesia, tapi mix-nya rapi, melodinya nempel, dan vokalnya punya karakter. Aku heran kenapa lagu ini tidak pernah muncul di radar siapapun di luar negeri," katanya dikutip Minggu (28/6).
Sejak saat itu, Jorden mulai aktif mencari musik independen Indonesia melalui berbagai komunitas kreator dan musisi. Ia tidak hanya mendengarkan lagu-lagu yang beredar di tangga lagu, tetapi juga karya dari musisi yang belum memiliki dukungan promosi maupun label besar.
Temuan tersebut kemudian ia bagikan melalui konten TikTok dengan pendekatan yang berbeda. Alih-alih sekadar memberikan ulasan, Jorden menjelaskan latar belakang musisi, konteks budaya, hingga alasan sebuah lagu layak mendapat perhatian.
Kontennya kemudian menarik audiens dari berbagai negara. Sejumlah pengikut bahkan mulai mengirimkan rekomendasi musik independen dari negara asal mereka, seperti Thailand, Filipina, hingga Brasil.
Menurut Jorden, persoalan utama bukan terletak pada minimnya karya musik berkualitas, melainkan terbatasnya jalur untuk menemukan karya-karya tersebut.
"Masalahnya bukan kurangnya musik bagus di dunia. Masalahnya adalah jalan untuk menemukannya. Kalau kamu hanya bergantung pada algoritma, kamu akan terus mendengarkan versi yang sama dari hal yang sama," ujarnya.
Selain memperkenalkan lagu kepada audiens internasional, Jorden juga memberikan masukan teknis kepada para musisi yang mengirimkan karya kepadanya. Ia menilai umpan balik yang spesifik lebih bermanfaat dibandingkan sekadar memberikan pujian.
"Kalau aku bilang 'lagu kamu bagus' tanpa menjelaskan kenapa, itu tidak membantu. Tapi kalau aku bilang 'verse kedua kebanyakan vokal, coba kurangi layer-nya supaya chorus terasa lebih besar,' itu mereka bisa pakai untuk lagu berikutnya," jelasnya.
Jorden mengungkapkan, sejumlah musisi Indonesia yang pernah direkomendasikannya mengalami peningkatan jumlah streaming setelah videonya dipublikasikan. Meski enggan mengklaim hal tersebut sebagai hasil kerja pribadinya, ia melihat bahwa penjelasan mengenai cerita dan kualitas sebuah lagu mampu mendorong pendengar untuk mencari karya tersebut secara mandiri.
Kini, dari tempat tinggalnya di Amerika Serikat, Jorden terus menerima kiriman lagu dari berbagai negara setiap hari. Baginya, musik berkualitas seharusnya memiliki kesempatan yang sama untuk ditemukan, tanpa dibatasi oleh bahasa, negara asal, maupun algoritma platform digital.