Wagub Jabar Soroti Bobibos, Minta Kajian Mendalam Pastikan Bahan Bakar Ramah Lingkungan
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menyoroti inovasi Bobibos, bahan bakar dari jerami. Ia meminta kajian menyeluruh untuk memastikan Bobibos benar-benar ramah lingkungan.
Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, menyatakan pihaknya ingin meninjau secara mendalam kajian terkait inovasi energi alternatif bernama Bobibos. Inovasi yang belakangan ini mencuat ke publik tersebut, dikembangkan dari limbah jerami dan diklaim sebagai bahan bakar ramah lingkungan.
Pernyataan ini disampaikan Erwan di Gedung DPRD Jawa Barat, Bandung, pada Kamis (14/11). Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa setiap inovasi energi baru benar-benar memenuhi standar keberlanjutan dan tidak merugikan lingkungan.
Erwan Setiawan menambahkan bahwa hingga saat ini dirinya belum menerima laporan teknis lengkap mengenai bahan bakar dari jerami tersebut. Oleh karena itu, ia akan segera meminta dinas terkait untuk melakukan kajian komprehensif. "Kita ingin lihat dulu kajiannya. Karena kita ingin semua ini betul-betul yang diutamakan agar ramah lingkungan," kata Erwan.
Mengenal Bobibos: Inovasi Bahan Bakar dari Limbah Jerami
Bobibos merupakan singkatan dari Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos, sebuah inovasi dari PT Inti Sinergi Formula. Produk ini diperkenalkan pada Minggu (2/11) di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebagai solusi bahan bakar nabati (BBN) yang dikembangkan dari limbah pertanian, khususnya jerami.
Penggunaan jerami sebagai bahan baku menjadi sorotan karena limbah ini selama ini seringkali dibakar pasca panen, menimbulkan masalah polusi udara. Bobibos dikembangkan oleh M. Ikhlas Thamrin bersama tim risetnya, dengan tujuan mengubah limbah menjadi sumber energi bernilai tinggi.
Melalui proses bioenergi dan suntikan serum khusus, jerami diubah menjadi bahan bakar performa tinggi yang diklaim setara dengan Research Octane Number (RON) 98. Selain itu, Bobibos disebut mampu menekan emisi gas buang hingga mendekati nol, menjadikannya alternatif yang lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil.
Keunggulan Teknis dan Ekonomi Bobibos
Inovasi Bobibos lahir dari upaya serius untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. M. Ikhlas Thamrin telah melakukan riset mandiri selama lebih dari 10 tahun untuk menemukan alternatif energi yang dapat bersumber dari bahan baku lokal yang melimpah.
Jerami dipilih karena ketersediaannya yang sangat banyak di Indonesia, serta efisiensi produksinya yang tinggi. Dengan memanfaatkan bahan baku lokal ini, biaya produksi Bobibos dapat ditekan, sehingga harga jualnya ditargetkan lebih kompetitif dibandingkan bahan bakar konvensional.
Bobibos diproduksi dalam dua varian, yaitu bensin dan solar, yang dapat digunakan pada berbagai jenis kendaraan dan mesin. Mulai dari sepeda motor, mobil, traktor, kapal nelayan, hingga mesin industri rakyat, Bobibos menawarkan solusi energi yang serbaguna.
- Nilai oktan tinggi: Memiliki RON 98,1, lebih tinggi dari bahan bakar RON 98 atau Pertamax Turbo.
- Efisiensi jarak tempuh: Kendaraan dapat menempuh jarak lebih jauh dibandingkan dengan solar biasa.
- Rendah emisi: Teknologi pengolahan mampu menekan emisi gas buang hingga mendekati nol.
- Performa stabil: Hasil uji lapangan menunjukkan mesin bekerja lebih ringan dan hemat bahan bakar.
- Harga ekonomis: Harga Bobibos ditargetkan lebih murah dibandingkan bahan bakar RON 98.
Dampak Positif Bobibos bagi Petani dan Ketahanan Energi
Selain memberikan manfaat signifikan bagi sektor energi, penggunaan jerami sebagai bahan baku Bobibos juga menciptakan nilai ekonomi baru bagi petani. Limbah pertanian yang sebelumnya tidak memiliki nilai jual, kini dapat diolah menjadi produk bernilai tinggi.
Hal ini berarti petani berpotensi memperoleh tambahan penghasilan dari penjualan limbah jerami mereka. Inisiatif ini tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di sektor pertanian.
Dengan bahan baku lokal, Bobibos juga mendukung ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor. Model produksi Bobibos yang terdesentralisasi memungkinkan pengembangannya di berbagai wilayah Indonesia, yang dapat mengurangi biaya distribusi dan memperkuat kemandirian energi.
Sumber: AntaraNews