Volume Barang Terminal Kijing Melonjak Signifikan, Tembus 3,59 Juta Ton hingga November 2025
Kinerja Terminal Kijing di Kalimantan Barat menunjukkan peningkatan drastis, dengan volume barang mencapai 3,59 juta ton hingga November 2025. Apa saja faktor pendorongnya?
Terminal Kijing di Kalimantan Barat mencatat peningkatan volume barang yang signifikan hingga November 2025. Kinerja operasional pelabuhan ini menunjukkan tren positif yang kuat, menegaskan posisinya sebagai simpul logistik penting. Peningkatan ini mencerminkan aktivitas logistik yang semakin menguat di wilayah tersebut.
Data terbaru menunjukkan bahwa volume barang Terminal Kijing telah menembus angka 3,59 juta ton. Angka tersebut didominasi oleh muatan curah kering yang mencapai 2,03 juta ton. Lonjakan ini menjadi indikator kepercayaan tinggi dari para pengguna jasa.
Dwi Rahmad Toto, Direktur Komersial dan Pengembangan Usaha sekaligus Pelaksana Tugas Direktur Operasi PTP Nonpetikemas, menyampaikan informasi ini melalui siaran rilisnya pada Sabtu (2/5). Ia juga menjelaskan bahwa peningkatan ini didukung oleh penanganan komoditas strategis dari grup Mining Industry Indonesia (MIND ID).
Peningkatan Kinerja Volume Barang Terminal Kijing Melonjak Drastis
Kinerja Terminal Kijing di Kalimantan Barat menunjukkan tren peningkatan yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Volume barang atau throughput pelabuhan ini terus mengalami lonjakan. Hal ini jelas mencerminkan aktivitas logistik yang semakin menguat dan kepercayaan tinggi dari pengguna jasa di wilayah tersebut.
Data mencatat, throughput Terminal Kijing meningkat dari 1,95 juta ton pada tahun 2023 menjadi 2,75 juta ton pada tahun 2024. Proyeksi menunjukkan angka ini akan menembus 4 juta ton pada tahun 2025. Hingga November 2025, total throughput telah mencapai 3,59 juta ton secara keseluruhan.
Muatan curah kering menjadi dominasi utama dalam volume tersebut, dengan kontribusi sebesar 2,03 juta ton hingga November 2025. Peningkatan ini tidak hanya menunjukkan pertumbuhan kuantitas, tetapi juga kualitas layanan. Rata-rata throughput mencapai 3.620 ton per ship per day (T/S/D), meningkat tajam dari 879 T/S/D pada periode hingga November 2024.
Dukungan Komoditas Strategis dan Proyek Nasional
Sejumlah komoditas penting yang ditangani di Terminal Kijing berasal dari grup Mining Industry Indonesia (MIND ID). Khususnya, PT Borneo Alumina Indonesia menjadi salah satu kontributor utama. Komoditas ini berperan penting dalam mendukung pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN).
Komoditas tersebut meliputi bauksit, batu bara, dan aluminium hidroksida sebagai curah kering. Selain itu, caustic soda liquid sebagai curah cair juga ditangani dengan baik. Aluminium hidroksida dalam bentuk general cargo turut menjadi bagian dari layanan pelabuhan.
Terminal Kijing berfungsi sebagai simpul penting logistik nonpetikemas dengan melayani beragam komoditas. Ini termasuk crude palm oil (CPO) dan turunannya, batu bara, pupuk, palm kernel, beras kemasan, serta produk perkayuan. Posisi Kalimantan Barat sebagai sentra produksi CPO nasional memberikan dukungan hinterland yang kuat.
Efisiensi Operasional dan Sinergi Jaringan Pelabuhan
Kinerja operasional Terminal Kijing juga mengalami lonjakan signifikan hingga November 2025. PTP Nonpetikemas Cabang Pontianak Terminal Kijing mencatat pertumbuhan komoditas curah kering. Peningkatan ini dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Rata-rata throughput mencapai 3.620 ton per ship per day (T/S/D), meningkat tajam dari 879 T/S/D pada periode hingga November 2024. Peningkatan volume kargo ini menjadi indikator kuat. Hal tersebut menunjukkan meningkatnya kepercayaan pengguna jasa terhadap layanan pelabuhan.
Dari sisi operasional, PTP Nonpetikemas terus menjaga kelancaran layanan. Upaya ini dilakukan dengan mengoptimalkan proses bongkar muat dan penataan alur logistik. Pengelolaan waktu sandar kapal secara efisien juga menjadi fokus utama.
Realokasi aset dari pelabuhan lain dalam jaringan Subholding Pelindo Multi Terminal (SPMT) menjadi langkah strategis. Tujuannya adalah mengoptimalkan pemanfaatan aset dan memperkuat sinergi antarunit. Langkah ini bukan hanya pemanfaatan aset yang tidak terpakai, tetapi juga mencerminkan sinergi dalam menciptakan keunggulan operasional yang berdampak nyata pada kinerja dan pelayanan.
Sumber: AntaraNews