Fenomena You Only Live Once (YOLO) kerap menghantui generasi muda, khususnya Gen Z, dalam mengelola keuangan. Benturan antara kebutuhan dan keinginan tak jarang memicu dilema saat menyusun skala prioritas.
Tak berhenti di situ, fenomena Fear of Missing Out (FOMO) alias takut ketinggalan tren makin memperkeruh suasana. Banyak anak muda lebih memilih menyesal kehabisan uang demi kepuasan sesaat daripada mengelola finansial secara bijak.
Lantas, bagaimana cara mengeram kebiasaan spending ugal-ugalan ala Gen Z ini?
Isu tersebut dikupas tuntas oleh perwakilan perbankan digital hingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam acara peluncuran buku “Dear Money, We Need to Talk” sekaligus Peresmian Rekor MURI di Wisma Habibie dan Ainun, Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026).
Advertisement
Butuh Tools Praktis, Bukan Sekadar Teori
Pada dasarnya, anak muda saat ini cukup melek dan paham literasi keuangan. Kendati demikian, mereka membutuhkan tools atau alat bantu praktis untuk mempraktikkan pengetahuan tersebut.
Head of Brand & Communication BCA Digital, Duardi Prihandiko, menyoroti bahwa menyuapi Gen Z dengan teori edukasi saja tidak cukup. BCA Digital pun berupaya memfasilitasi perilaku anak muda lewat berbagai fitur teknis di aplikasi blu.
"Di blu, kami menyiapkan 'pos-pos' atau kantong tabungan terpisah, fitur auto-debit, sampai fitur unik tempat belanja bisa sambil otomatis menabung. Jadi kami dengarkan pain point mereka, lalu diterjemahkan ke fitur yang mudah diaplikasikan," ujar Duardi.
Advertisement
Pegang Prinsip 2L: Legal dan Logis
Di sisi lain, fenomena FOMO dan YOLO rentan membuat Gen Z mengabaikan logika serta legalitas finansial. Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Muhammad Andi Yusuf, menekankan pentingnya mitigasi risiko agar anak muda tidak gampang tergiur tren akibat tekanan sosial.
"Fenomena FOMO dan YOLO ini terjadi karena ketidakpahaman terhadap risiko. Kami memiliki prinsip 2L: Legal dan Logis. Cek dulu legalitasnya, cek juga apakah imbal hasilnya wajar atau tidak," tegas Yusuf.
Ia turut mewanti-wanti pentingnya rasionalitas serta perlindungan data pribadi sebelum Gen Z memutuskan terjun ke tren investasi atau menggunakan produk keuangan digital.