Gaji pertama atau penghasilan dari pekerjaan tentu menjadi momen yang menyenangkan. Setelah sebulan bekerja, rasanya ingin menikmati hasil jerih payah dengan nongkrong, ngopi, jajan, atau membeli barang yang sudah lama diinginkan.
Namun, tanpa pengaturan yang jelas, pengeluaran kecil justru bisa membuat gaji cepat habis. Karena itu, pekerja muda perlu menentukan prioritas sejak menerima penghasilan.
Bagi sebagian Gen Z, mengatur keuangan bukan berarti harus menghilangkan kebiasaan nongkrong atau jajan. Kuncinya adalah mengetahui mana kebutuhan, tabungan, dana darurat, hingga uang yang memang boleh digunakan untuk bersenang-senang.
Hal itu dilakukan Nana, pekerja media yang baru sekitar satu bulan memasuki dunia kerja sebagai SEO. Dengan penghasilan sekitar Rp 5,7 juta per bulan, Nana membagi penghasilannya ke sejumlah pos.
"Sekitar Rp 1,5 juta disiapkan untuk makan sekaligus jajan, Rp 700 ribu untuk transportasi, Rp 1 juta untuk tabungan dan Rp 1 juta untuk dana darurat. Nana juga menyisihkan sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta untuk diberikan kepada orang tua," kata Nana saat berbincang kepada merdeka.com, Rabu (7/10).
Jika masih memiliki sisa uang, Nana memilih menggunakannya untuk investasi atau mengikuti kelas guna meningkatkan kemampuan. Kebiasaan tersebut sudah terbentuk sejak dirinya masih kuliah. Sebagai perantau, Nana terbiasa mengatur kebutuhan dan mengontrol pengeluaran sendiri.
Baginya, uang yang diterima dari bekerja sebaiknya lebih dulu digunakan untuk kebutuhan, bukan keinginan. Ia juga memiliki target untuk mengumpulkan Rp 100 juta pertama dalam beberapa tahun sebagai tabungan masa depan.
Meski cukup disiplin mengatur uang, Nana tidak sepenuhnya menghindari aktivitas nongkrong. Menurutnya, nongkrong tetap boleh dilakukan selama tidak terlalu sering.
Dia memilih membatasi kegiatan tersebut sekitar satu atau dua minggu sekali agar tidak mengganggu pengeluaran utama.
Kebiasaan hemat juga terlihat dari pilihan minuman sehari-hari. Dibandingkan rutin membeli es kopi dengan harga yang lebih mahal, Nana lebih memilih kopi saset karena dinilai lebih murah dan praktis.
Advertisement
Tetap Ikut Nongkrong
Pola serupa juga diterapkan Imam, pekerja media yang juga bekerja di bidang SEO.
Sejak awal bekerja, Imam sudah menentukan prioritas penggunaan penghasilannya. Uang yang diterima terlebih dahulu digunakan untuk membantu orang tua. Setelah itu, sebagian penghasilan disisihkan untuk tabungan, sedangkan sisanya digunakan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Imam mengalokasikan sekitar 15 persen dari total gaji untuk ditabung. Uang yang disisihkan untuk tujuan finansial kemudian ditempatkan di reksa dana.
Meski memiliki kebiasaan hemat, Imam tetap menikmati aktivitas nongkrong bersama teman. Bahkan, ia mengaku justru kerap menjadi orang yang mengajak teman untuk nongkrong.
Menurut Imam, aktivitas tersebut tetap bisa dilakukan selama tidak membuat pengeluaran melewati kemampuan finansial.
Dalam memilih kopi, Imam juga tidak selalu mengejar harga termurah. Ia mempertimbangkan rasa dan harga agar tetap mendapatkan minuman yang sesuai selera tanpa mengeluarkan uang secara berlebihan.
Imam memiliki target finansial yang lebih spesifik. Ia ingin sudah memiliki rumah sendiri ketika menginjak usia 27 tahun.
Advertisement
Jangan Lupakan Pengeluaran Kecil
Mengatur keuangan bukan hanya soal membatasi jajan. Pengeluaran kecil yang jarang diperhatikan juga bisa menggerus penghasilan secara perlahan.
Imam menilai biaya administrasi dan langganan layanan yang sudah jarang digunakan menjadi salah satu pengeluaran yang kerap luput diperhatikan.
Biaya tersebut bisa terus terpotong setiap bulan meski layanan hampir tidak pernah dimanfaatkan. Karena itu, pekerja muda perlu mengecek kembali layanan berlangganan dan biaya otomatis yang masih aktif.
Selain itu, mencatat pengeluaran juga penting. Pengeluaran untuk makan, transportasi, jajan, hingga nongkrong yang terlihat kecil bisa menjadi besar jika dilakukan berulang kali.
Advertisement
Urutan Mengatur Gaji
Dari kebiasaan Nana dan Imam, ada beberapa hal yang bisa diterapkan pekerja muda ketika gaji masuk.
Pertama, pisahkan uang untuk kebutuhan wajib. Biaya tempat tinggal, makan, transportasi, tagihan, hingga kewajiban kepada keluarga sebaiknya diamankan lebih dulu.
Kedua, sisihkan uang untuk tabungan sejak awal. Jangan menunggu akhir bulan untuk melihat apakah masih ada uang yang tersisa.
Ketiga, siapkan dana darurat secara terpisah dari tabungan. Dana tersebut dapat digunakan ketika menghadapi kebutuhan tidak terduga.
Keempat, tentukan anggaran untuk lifestyle. Jajan, nongkrong, ngopi atau membeli barang kesukaan tetap boleh dilakukan selama sudah masuk dalam batas pengeluaran yang direncanakan.
Kelima, manfaatkan uang lebih untuk tujuan jangka panjang, seperti investasi atau meningkatkan skill.
Dengan begitu, menerima gaji tidak harus selalu berakhir dengan saldo yang menipis. Menikmati hasil kerja tetap bisa dilakukan, tetapi kebutuhan hari ini dan rencana masa depan juga tidak boleh dilupakan.