Indonesia tak lagi bisa cuma mengandalkan kekayaan sumber daya alam (SDA) jika ingin memacu pertumbuhan ekonomi. Pemerintah menegaskan pentingnya memperkuat kemampuan mengolah bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi agar Indonesia bisa lepas dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap).
Hal tersebut ditegaskan dalam Prasasti Indonesia Policy Forum 2026 di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
"Kita harus bergerak dari sekadar memiliki sumber daya alam menjadi menguasai kemampuan pengelolaannya; dari memproduksi barang menjadi merancang produk bernilai tambah tinggi, bukan sekadar menjadi pasar bagi produk global," tegasnya.
Indonesia dinilai perlu menggeser pola pertumbuhan ekonomi yang selama ini masih dominan ditopang oleh konsumsi domestik dan investasi infrastruktur. Penguatan industri yang lebih kompleks menjadi kunci agar nasional mampu menghasilkan produk berteknologi tinggi.
Merujuk data Harvard Growth Lab, Indeks Kompleksitas Ekonomi Indonesia saat ini masih tertahan di peringkat ke-69. Posisi ini masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, hingga India. Kondisi tersebut tecermin dari struktur ekspor tanah air yang masih didominasi komoditas mentah.
"Kita harus segera beralih menuju produksi bahan baku antara yang lebih canggih dan manufaktur bernilai tambah tinggi," lanjutnya.
Advertisement
Sinergi Pendidikan, Riset, dan Industri
Pengembangan industri canggih diyakini tak hanya memperluas akses pasar ekspor, tetapi juga membuka lapangan kerja berkualitas yang membutuhkan keterampilan tinggi.
Guna mewujudkannya, pemerintah mendorong integrasi yang lebih kuat antara dunia pendidikan, lembaga riset, perkembangan teknologi, dan sektor usaha. Kualitas sumber daya manusia (SDM) harus ditingkatkan agar relevan dengan kebutuhan industri masa depan.
Kendati demikian, strategi pembangunan ini tidak bisa serta-merta mengekor negara lain. Indonesia harus merancang formula khusus yang sesuai dengan karakteristik nasional—memanfaatkan potensi SDA, besarnya pasar domestik, serta kesiapan industri dalam negeri.
Dengan akselerasi industrialisasi dan inovasi, Indonesia diharapkan mampu bertransformasi dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi pemain utama yang kompetitif di pasar global.