Kerajinan Krey Sawit Lebak: Mengubah Limbah Pelapah Jadi Harapan, Memutus Rantai Kemiskinan
Kisah inspiratif warga Lebak yang berhasil memutus rantai kemiskinan berkat inovasi kerajinan krey sawit. Pelapah kelapa sawit yang semula limbah, kini jadi sumber penghidupan dan harapan baru.
Pagi yang baru merekah di perkebunan sawit PTPN III Cisalak, Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, menjadi saksi bisu sebuah transformasi. Puluhan warga berdatangan membawa golok dan tali pengikat, bukan untuk memanen buah, melainkan memburu pelapah kelapa sawit yang selama ini dianggap limbah belaka.
Dari tumpukan pelepah yang dibuang petugas perkebunan, tangan-tangan cekatan warga Kampung Cihiyang, Desa Rangkasbitung Timur, mulai bekerja. Mereka memotong tulang daun, mengikat, dan mengangkutnya ke rumah untuk diolah. Benda yang tampak tak bernilai itu kini menjadi jalan keluar dari jerat kemiskinan.
Pelapah sawit tersebut kemudian diolah menjadi krey, tirai tradisional yang biasa digunakan untuk menahan terik matahari dan tampias hujan. Suara bilah-bilah sawit yang diraut dan dianyam kini menjadi denyut kehidupan, membawa kesejahteraan yang dulu terasa mustahil bagi masyarakat setempat.
Transformasi Hidup Berkat Kerajinan Krey Sawit
Dulu, Kampung Cihiyang dikenal sebagai salah satu kantong kemiskinan di sekitar pusat pemerintahan Kabupaten Lebak. Ironisnya, kedekatan dengan kota tidak serta merta membawa kesejahteraan bagi warganya. Sebagian besar warga bekerja serabutan sebagai buruh tani atau kuli bangunan dengan penghasilan yang tak menentu dan seringkali di bawah satu juta rupiah per bulan.
Pendapatan yang pas-pasan membuat banyak keluarga hanya mampu bertahan hidup dari hari ke hari, bahkan pendidikan anak seringkali harus dikorbankan. Tidak sedikit anak yang putus sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan menengah pertama. Namun, kini wajah kampung itu perlahan berubah, rumah-rumah semi permanen berdiri, sepeda motor terparkir, dan peralatan elektronik mulai menghiasi ruang tamu warga.
Perubahan signifikan ini datang bersama berkembangnya kerajinan krey sawit. Nursaad (60), seorang perajin krey, merasakan langsung dampak positifnya. Bersama istrinya, ia mampu membuat sekitar lima lembar krey per hari, menghasilkan sekitar Rp150 ribu atau Rp4,5 juta per bulan, jauh lebih besar dari pendapatan sebelumnya sebagai buruh harian. Penghasilan ini memungkinkan anak-anaknya melanjutkan pendidikan hingga SMK dan bercita-cita kuliah.
Kisah serupa datang dari pasangan Mulyadi (45) dan Sa’adah (40) yang selama sepuluh tahun menggantungkan hidup dari anyaman pelapah sawit. Sebelum menjadi perajin, Mulyadi adalah buruh tani dengan penghasilan tak menentu. Kini, usaha krey memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus menyekolahkan dua anak hingga SMP dan SMA. Ketersediaan bahan baku pelapah sawit yang melimpah di Lebak menjadi keuntungan besar bagi para perajin.
Peran Perintis dan Jaringan Pemasaran Krey Sawit
Perjalanan kerajinan krey sawit di Lebak tidak lepas dari sosok Toto (55), Ketua Paguyuban Perajin Krey Kabupaten Lebak. Pria asal Tasikmalaya itu pertama kali mengenal usaha krey sawit saat bekerja di Palembang, Sumatera Selatan, sebelum akhirnya memperkenalkannya ke Kabupaten Lebak pada tahun 2010, dimulai dari Kampung Cihiyang.
Saat itu, Toto mengajarkan warga cara mengolah pelapah sawit menjadi krey bernilai jual melalui pelatihan sederhana. Pelatihan ini perlahan mengubah kehidupan masyarakat, memberikan mereka keterampilan baru dan sumber penghasilan yang berkelanjutan. Kini, ia menjadi salah satu penampung hasil produksi warga, memastikan adanya pasar bagi produk mereka.
Krey-krey buatan perajin Lebak kini dipasarkan ke berbagai kota besar seperti Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Permintaan terus meningkat, terutama dalam dua tahun terakhir ketika curah hujan tinggi membuat kebutuhan akan penutup teras dan ruangan ikut naik. “Sekarang permintaan cukup besar. Kami bisa memasok sekitar 10 ribu lembar per bulan,” kata Toto.
Dengan harga penampungan Rp30 ribu per lembar, perputaran uang dari usaha ini mencapai sekitar Rp300 juta per bulan hanya dari satu jaringan penampung. Saat ini terdapat sekitar 290 perajin yang tergabung dalam paguyuban dan tersebar di Desa Rangkasbitung Timur hingga Pasir Tanjung. Jika dihitung secara keseluruhan, perputaran uang dari kerajinan krey dan sapu lidi di Kabupaten Lebak telah mencapai miliaran rupiah setiap bulan.
Dukungan Pemerintah dan Pengentasan Kemiskinan di Lebak
Pemerintah Kabupaten Lebak melihat usaha kerajinan krey sawit sebagai salah satu jalan nyata pengentasan kemiskinan di wilayahnya. Bupati Lebak, Mochamad Hasbi Asyidiki, menyatakan komitmen pemerintah daerah untuk menurunkan angka kemiskinan hingga 2029, sesuai Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 tentang penghapusan kemiskinan ekstrem.
Data Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapperida) Kabupaten Lebak tahun 2024 mencatat terdapat 5.698 kepala keluarga atau sekitar 30.115 jiwa yang masih berada dalam kategori miskin ekstrem. Oleh karena itu, pemerintah mendorong berbagai program pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk pengembangan UMKM berbasis limbah sawit seperti krey dan sapu lidi.
Menurut Hasbi, usaha kecil semacam itu terbukti mampu meningkatkan pendapatan masyarakat pedesaan secara signifikan. Saat ini terdapat sekitar 500 unit usaha krey dan sapu lidi di sejumlah kecamatan seperti Rangkasbitung, Maja, Cimarga, Cileles, Banjarsari, hingga Leuwidamar. Rata-rata pelaku usaha memperoleh pendapatan sekitar Rp3 juta per bulan, dengan total perputaran uang diperkirakan mencapai Rp1,5 miliar setiap bulan.
“Kami meyakini pendapatan itu bisa meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menghapus kemiskinan,” katanya. Di Kampung Cihiyang, keyakinan itu bukan lagi sekadar angka statistik. Setiap pagi, ketika warga berebut pelapah sawit yang dibuang perkebunan, sesungguhnya mereka sedang memungut kesempatan hidup yang dulu terasa mustahil. Dari limbah yang terabaikan, mereka merajut harapan, menyekolahkan anak-anak, dan perlahan memutus rantai kemiskinan yang telah lama membelit kampung mereka.
Sumber: AntaraNews