Fakta Menarik di Balik Hadiah Rolex untuk Pemain Timnas: Tak Semudah yang Dibayangkan
Arloji Rolex sudah menjadi standar kelas sosial bagi sebagian masyarakat saat ini.
Presiden terpilih, Prabowo Subianto, memberikan apresiasi kepada Tim Nasional Indonesia atas kemenangan tipis 1-0 melawan China dalam laga Kualifikasi Piala Dunia 2026. Tak lama setelah kemenangan tersebut, pada Jumat (6/6), Prabowo mengundang para pemain, termasuk Justin Hubner, Jay Idzes, dan pencetak gol tunggal Ole Romeny, ke kediaman pribadinya di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan.
Suasana makan siang berlangsung hangat dan penuh semangat. Di sela-sela hidangan, Prabowo memberikan motivasi langsung kepada skuad Garuda untuk tetap tampil maksimal dalam pertandingan berikutnya melawan Jepang. Meskipun Indonesia telah memastikan tempat di babak keempat, pesan yang disampaikan tegas jangan lengah.
“Bapak Presiden menitipkan, walaupun kita sudah lolos ke playoff, kita tetap harus fokus menghadapi Jepang dan bermain dengan maksimal,” ungkap Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, usai pertemuan. “Itu bukan karakter yang diajarkan oleh Bapak Presiden untuk bangsa kita. Kita harus terus berjuang.”
Lebih dari sekadar pesan taktis, Prabowo juga menyuntikkan rasa percaya diri kepada para pemain. “Jangan minder. Kita adalah bangsa besar, kita harus berani menghadapi semua tantangan,” lanjut Erick, menyampaikan pesan presiden.
Dengan hasil tersebut, Indonesia kini bertengger di peringkat ketiga grup dengan 12 poin. Jepang akan menjadi ujian berikutnya, dan semangat perjuangan akan kembali diuji.
Namun, bukan pertemuan Prabowo dengan para pemain Timnas ang menjadi sorotan publik. Hadiah berupa arloji Rolex yang diterima para pemain, menuai kontroversi mengingat nilai hadiah tersebut tidak mencerminkan atas kondisi ekonomi masyarakat yang lemah saat ini.
Selain itu, untuk membeli jam tangan Rolex dalam kuantitas banyak juga menjadi pertanyaan publik.
Rangkaian Membeli Rolex
Dilansir dari TechBullion, Rolex tidak menjual produknya secara online. Semua pembelian hanya bisa dilakukan melalui Authorized Dealer (AD), mitra resmi yang ditunjuk langsung oleh Rolex. Namun, sistem di balik itu sangat ketat dan penuh strategi eksklusivitas.
Tak Ada di Etalase, dan Tak Dijual untuk Semua
Saat Anda mengunjungi AD, jangan heran jika model idaman Anda tidak tersedia. Jam tangan Rolex incaran biasanya tidak dipajang dan hanya dijual kepada pelanggan yang dianggap “layak” biasanya mereka yang sudah punya track record belanja tinggi di toko tersebut.
Sistem Tak Resmi: Membership Terselubung
Walau tidak diakui secara formal, praktik seperti “membership tak resmi” banyak terjadi. Pelanggan yang telah membeli produk lain atau Rolex model kurang diminati, lebih mudah ditawari model top. Akibatnya, terbentuk kesan eksklusif, semacam klub tersembunyi yang tak bisa diakses hanya dengan uang.
Waiting List: Daftar Tunggu yang Tidak Transparan
Beberapa dealer menawarkan sistem waitlist, tapi daftar ini bukan seperti daftar antrean biasa. Sering kali, urutan tak bergantung pada siapa yang duluan mendaftar, tapi siapa yang dianggap "lebih bernilai" oleh pihak toko.
Grey Market
Bagi mereka yang tak sabar, pasar sekunder alias grey market menjadi jalan pintas. Namun, harga bisa jauh lebih mahal. Sebuah Rolex Submariner misalnya, bisa melambung dari harga retail Rp150 juta menjadi Rp250 juta di pasar sekunder.
Rolex Batasi Produk
Menariknya, kelangkaan ini bukan kebetulan. Rolex tidak pernah mempublikasikan jumlah produksinya. Menurut pengamatan dari Swisswatches Magazine, eksklusivitas adalah bagian dari strategi branding mereka menjaga permintaan tetap tinggi, dan citra tetap mewah.