DPRD Kalsel Dorong Hilirisasi Pertanian Kalsel dan Gudang Pangan untuk Petani Lokal
DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) aktif mendorong Hilirisasi Pertanian Kalsel terpadu dengan pembangunan gudang pangan untuk memperkuat posisi petani dan peternak lokal, menciptakan nilai tambah, dan menjaga stabilitas harga.
Anggota Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kalimantan Selatan, Firman Yusi, menyatakan bahwa pihaknya secara serius mendorong inisiatif hilirisasi terpadu. Langkah ini akan diiringi dengan pembangunan gudang pangan sebagai penguat utama bagi petani dan peternak lokal di Kalsel. Tujuan utama dari kebijakan ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan pelaku sektor pertanian dan peternakan di wilayah tersebut.
Firman Yusi menegaskan bahwa hilirisasi tidak boleh berhenti hanya pada peningkatan produksi bahan mentah saja. Namun, hilirisasi harus mampu mendorong penciptaan nilai tambah melalui proses pengolahan, pengemasan, hingga distribusi produk. Strategi ini diharapkan dapat menjadikan petani dan peternak Kalsel sebagai bagian integral dari rantai industri yang memberikan keuntungan lebih besar.
Pernyataan ini disampaikan Firman Yusi dalam Rapat Koordinasi Teknis Perencanaan Pembangunan Perkebunan dan Peternakan Provinsi setempat di Banjarbaru. Menurutnya, integrasi hilirisasi dengan sistem cadangan pangan daerah akan memperkuat ketahanan pangan Kalsel secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Pentingnya Hilirisasi Pertanian Kalsel untuk Kesejahteraan
Firman Yusi menekankan bahwa hilirisasi merupakan kunci vital untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak di Kalimantan Selatan. Ia berpendapat bahwa menjual produk dalam bentuk bahan baku saja tidak akan memberikan nilai tambah yang optimal. Oleh karena itu, perlu adanya pengolahan, penguatan branding, dan jaminan pasar yang jelas bagi produk-produk lokal.
Dengan hilirisasi, produk perkebunan seperti kelapa, karet, sawit rakyat, dan komoditas hortikultura dapat diolah lebih lanjut. Demikian pula subsektor peternakan, seperti sapi, ayam, dan produk turunannya, perlu didorong untuk mengembangkan industri pengolahan daging, susu, hingga pakan berbasis bahan baku lokal. Pendekatan ini akan membuka peluang ekonomi baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
DPRD Kalsel berharap perencanaan pembangunan perkebunan dan peternakan ke depan benar-benar mengedepankan orientasi nilai tambah. Hal ini juga mencakup peningkatan ketahanan pangan serta kesejahteraan pelaku usaha kecil dan menengah di sektor pangan. Hilirisasi yang terencana akan menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih kuat dan mandiri.
Gudang Pangan sebagai Penyangga Ekonomi Lokal
Salah satu strategi penting yang perlu segera diwujudkan adalah pembangunan gudang pangan sebagai cadangan pangan provinsi. Gudang ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan, tetapi juga menjadi instrumen stabilisasi harga dan penguatan ekonomi lokal. Keberadaan gudang pangan akan memberikan jaminan pasar bagi petani dan peternak.
Firman Yusi menambahkan bahwa gudang pangan provinsi harus diisi oleh komoditas dan produk olahan dari petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) lokal. Dengan skema pembelian yang terencana dan harga yang wajar, pemerintah daerah dapat menyerap hasil produksi masyarakat saat panen raya atau ketika harga pasar melemah. Ini akan mencegah jatuhnya harga komoditas saat produksi melimpah.
Gudang pangan ini diharapkan menjadi 'buffer stock' daerah sekaligus penyangga harga. Saat produksi melimpah dan harga turun, pemerintah hadir menyerap produk. Sebaliknya, saat terjadi kelangkaan atau gejolak harga, stok ini bisa dilepas untuk menjaga stabilitas pasar. Hal ini menciptakan siklus ekonomi yang sehat di dalam daerah.
Sinergi Lintas Sektor dan Infrastruktur Pendukung
Untuk mencapai tujuan hilirisasi dan ketahanan pangan yang optimal, Firman Yusi menekankan pentingnya sinergi lintas sektor. Ini termasuk koordinasi antara Dinas Perkebunan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Kelautan dan Perikanan, serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian. Keterpaduan perencanaan dan penganggaran sangat krusial agar hilirisasi tidak berjalan secara parsial.
Selain itu, dukungan infrastruktur pendukung juga menjadi elemen penting. Ketersediaan cold storage, rumah potong hewan yang memenuhi standar, unit pengolahan hasil perkebunan, serta fasilitas logistik yang memadai sangat diperlukan. Tanpa infrastruktur yang memadai, pengembangan hilirisasi akan sulit berkembang secara optimal.
Strategi pembangunan gudang pangan berbasis produk lokal ini juga merupakan bentuk keberpihakan pada ekonomi kerakyatan. Dengan melibatkan UMKM dalam rantai pasok cadangan pangan, pertumbuhan ekonomi daerah akan menjadi lebih inklusif. Ini akan memastikan bahwa uang berputar di dalam daerah, produk lokal dibeli pemerintah, disimpan sebagai cadangan, dan dimanfaatkan kembali untuk masyarakat.
Sumber: AntaraNews