DPR Desak InJourney Perkuat Dukungan Ekosistem Pariwisata Nasional
Anggota DPR menyoroti kesenjangan konektivitas pariwisata dan mendesak InJourney untuk memberikan dukungan strategis dalam pengelolaan ekosistem pariwisata nasional, demi mewujudkan Indonesia sebagai hub global.
Anggota Komisi VIII DPR RI, Novita Hardini, mendesak PT Aviasi Pariwisata Indonesia (InJourney) untuk memberikan dukungan strategis dalam pengelolaan ekosistem pariwisata nasional. Permintaan ini disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja spesifik ke kantor InJourney di Jakarta pada Kamis, 15 Januari. Novita menilai, keinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat pariwisata global masih terhambat oleh kesenjangan konektivitas yang belum ditangani secara serius.
Menurut Novita, hingga saat ini, ekosistem pariwisata Indonesia belum dipandang sebagai satu kesatuan utuh dan masih terpecah-pecah. Hal ini menciptakan tantangan signifikan dalam menarik wisatawan asing dan mengoptimalkan potensi pariwisata yang ada. Kurangnya integrasi antar moda transportasi dan informasi yang tidak memadai menjadi beberapa poin krusial yang disoroti oleh politisi tersebut.
Kunjungan kerja ini bertujuan untuk mengevaluasi peran InJourney sebagai holding BUMN aviasi dan pariwisata dalam memajukan sektor pariwisata Indonesia. Novita menekankan pentingnya InJourney untuk mengadopsi pendekatan yang lebih holistik dan terintegrasi. Ini diharapkan dapat mengatasi berbagai permasalahan konektivitas yang menghambat pertumbuhan pariwisata nasional.
Tantangan Konektivitas dan Pengalaman Wisatawan Asing
Novita Hardini menyoroti contoh konkret terkait transportasi bandara yang belum ramah bagi wisatawan asing. Kereta bandara yang ada saat ini, menurutnya, minim informasi multibahasa dan informasi pemberhentian tujuan berikutnya, sehingga membingungkan pengunjung internasional. Selain itu, transportasi bandara juga belum terintegrasi secara optimal dengan moda transportasi publik lainnya, seperti TransJakarta maupun sistem transportasi perkotaan.
Pengalaman pertama wisatawan asing tentang Indonesia dimulai dari bandara, dan apabila dari bandara saja sudah membingungkan, Indonesia bisa kehilangan nilai jual sebagai destinasi global. Novita juga melihat bahwa InJourney belum mampu memanfaatkan potensi destinasi wisata di sekitar bandara untuk menjadikan Jakarta sebagai destinasi transit yang menarik. Berbagai atraksi seperti factory outlet, pusat hiburan, dan wahana wisata tematik, seharusnya bisa dikoneksikan secara sistematis dengan bandara.
Hal ini dapat mendorong wisatawan asing untuk memperpanjang masa tinggal mereka, bahkan jika hanya transit selama 5–6 jam. Novita membandingkan kondisi ini dengan Bangkok, Thailand, di mana jarak Bandara Svarnabhumi menuju factory outlet hanya sekitar 5-10 menit, sangat kontras dengan Jakarta yang memerlukan waktu 1-2 jam. Jika potensi ini dimanfaatkan, perputaran nilai ekonominya akan jauh lebih besar.
Visi Jangka Panjang dan Posisi Indonesia sebagai Hub Global
Dalam kesempatan tersebut, Novita Hardini mempertanyakan visi jangka panjang InJourney dalam memposisikan Indonesia sebagai hub global pariwisata. Ia merujuk pada keberhasilan Singapura dan Abu Dhabi yang membangun hub pariwisata dengan visi jangka panjang yang konsisten, lintas sektor, dan terintegrasi. Pertanyaan besar yang diajukan adalah bagaimana Indonesia bisa menjadi hub global di masa depan, mengingat posisi geografisnya yang sangat strategis.
Indonesia berada di jalur perdagangan dunia, yakni sebagai penghubung Asia-Pasifik dan Asia-Australia. Jika dikelola secara serius, Novita berpendapat bahwa Indonesia seharusnya bisa lebih unggul dari Singapura dan Abu Dhabi. Namun, konektivitas bandara dengan destinasi wisata daerah juga masih belum optimal. Wilayah seperti Yogyakarta dan destinasi unggulan lainnya menghadapi persoalan serupa, seperti minimnya integrasi antara bandara, moda transportasi menuju Borobudur, dan paket wisata UMKM sekitar.
Bandara seharusnya tidak hanya menjadi tempat datang dan pergi, melainkan juga pintu gerbang yang terintegrasi dengan destinasi. Oleh karena itu, InJourney harus mampu membangun kolaborasi dengan maskapai global untuk menjadikan Indonesia sebagai tujuan utama dan destinasi transit dunia. Ini akan memperkuat posisi Indonesia di peta pariwisata internasional.
Investasi Teknologi dan Kolaborasi Global untuk Pariwisata Modern
Novita Hardini menekankan bahwa InJourney perlu mengoreksi bentuk investasi yang diperlukan, bukan hanya berupa fisik, melainkan juga layanan dan penguatan jaringan kolaborasi global. Penting bagi InJourney untuk berinvestasi pada maskapai terkemuka yang sering digunakan wisatawan asing. Selain itu, holding BUMN aviasi dan pariwisata tersebut juga perlu melakukan investasi teknologi.
Saat ini, belum ada keseriusan dalam membangun konsep bandara pintar (smart airport) dan logistik pintar (smart logistic), yang merupakan tulang punggung pariwisata modern. Negara-negara yang sukses menjadi hub global telah menjadikan digitalisasi bandara, manajemen logistik, dan integrasi data sebagai keunggulan kompetitif. Novita menegaskan bahwa smart airport dan smart logistic bukan pilihan, melainkan keharusan untuk menjadi hub global.
Tanpa investasi teknologi dan peningkatan kolaborasi dengan jejaring superhub global, Indonesia akan selalu tertinggal dalam persaingan pariwisata global. Sebagai mitra kerja di Komisi VIII DPR RI yang membidangi pariwisata, DPR akan terus mendorong InJourney untuk keluar dari pendekatan sektoral. InJourney harus mulai membangun visi besar yang terintegrasi, lintas moda, lintas destinasi, dan berorientasi global. Indonesia memiliki modal budaya, alam, dan pasar yang luar biasa, namun tanpa visi jangka panjang dan ekosistem yang terhubung, potensi itu akan terus terbuang sia-sia.
Sumber: AntaraNews