Chatib Basri Ungkap Strategi Bawa Investasi Toyota Rp61 Triliun ke Karawang
Pentingnya diversifikasi risiko bagi Toyota hingga akhirnya membangun pabrik di Indonesia.
Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) periode 2012–2013 sekaligus ekonom senior, Chatib Basri, mengungkapkan strategi di balik keberhasilannya menarik investasi Toyota dari Thailand ke Karawang, Jawa Barat.
Dalam forum Grab Business Forum 2025 yang digelar di Hotel Fairmont, Jakarta, Kamis (8/5), Chatib bercerita bahwa upaya tersebut dimulai ketika banjir besar melanda Thailand pada 2012, menyebabkan lumpuhnya pusat industri otomotif di negara tersebut.
Melihat peluang tersebut, Chatib bersama tim BKPM segera terbang ke Tokyo untuk menemui CEO Toyota saat itu, Akio Toyoda. Tujuannya adalah menawarkan Indonesia sebagai lokasi alternatif untuk investasi pabrik Toyota di Asia Tenggara.
Menariknya, dalam pertemuan tersebut, Chatib tidak mencoba membandingkan keunggulan Indonesia dengan Thailand. “Saat itu saya tidak bicara soal Indonesia lebih baik dari Thailand. Karena saya tahu, Thailand masih unggul dalam banyak hal soal iklim investasi,” ujarnya.
Sebaliknya, ia menekankan pentingnya diversifikasi risiko bagi Toyota. Chatib menyampaikan bahwa jika tidak segera membangun pabrik di lokasi lain seperti Indonesia, Toyota akan menghadapi risiko besar ketika terjadi bencana serupa di masa depan.
“Sekarang ada banjir di Thailand. Akibat banjir ini, produksi kamu untuk Asia Tenggara berhenti. Ini bencana alam, tidak bisa diprediksi. Jadi, alasannya Toyota pindah bukan karena kita lebih baik, tapi karena mereka harus memitigasi risiko,” jelasnya.
Hasil dari pendekatan tersebut cukup signifikan. Toyota akhirnya memutuskan untuk membangun fasilitas produksi di Karawang dengan total nilai investasi mencapai USD 3,7 miliar atau sekitar Rp61 triliun.
Chatib menilai keberhasilan ini sebagai bukti bahwa peluang sekecil apapun harus bisa dioptimalkan oleh pemerintah. Ia juga menekankan pentingnya menciptakan iklim investasi yang kondusif untuk menarik minat investor asing.
“Cara berpikir investor itu seperti animal spirit. Kalau satu bergerak, yang lain akan ikut. Kalau dibilang saham bagus, semua beli. Tapi kalau dibilang jelek, semuanya jual. Pemerintah harus memahami psikologi ini dalam menarik investasi,” pungkasnya.