3 Cara Sederhana Ini Bisa Membantu Orang Menabung Tanpa Terasa
Menurut survei, setiap generasi punya alasan tersendiri untuk menabung.
Ada cara yang benar dan salah dalam melakukan apa pun, termasuk menabung. Forbes Advisor menemukan realita bahwa beberapa generasi yang memiliki tabungan, sebagian besar menggunakan rekening tabungan standar alih-alih rekening yang memberikan hasil lebih tinggi.
Menurut survei tersebut, setiap generasi punya alasan tersendiri untuk menabung. Bagi, Gen X dan milenial berusaha membangun dana darurat, baby boomer fokus pada masa pensiun, dan Gen Z pada pembelian mobil.
Lebih jauh, persentase penabung dari setiap kelompok generasi mengaku mengambil tabungan mereka setiap bulan, dengan milenial memiliki persentase tertinggi sebesar 26%. Sementara itu, 49% responden mengatakan mereka berharap dapat menabung dalam jumlah yang sama atau lebih sedikit pada tahun 2024 seperti yang mereka lakukan pada tahun 2023.
Penelitian yang dipublikasikan dalam American Psychologist menunjukkan, ciri-ciri kepribadian seseorang menunjukkan strategi menabung apa yang paling cocok.
Ketika 6.056 peserta dengan tabungan kurang dari Rp1.600.000 100 diberi target menabung Rp500.000 per bulan dengan strategi berdasarkan kepribadian mereka, mereka lebih berhasil daripada kelompok yang tidak diberi target. Dengan kata lain, menabung bersifat psikologis, dan ada beberapa cara yang mungkin dapat menipu diri sendiri agar menabung lebih banyak dari yang sebenarnya.
Beli Saat Jam Kerja
Menurut Harvard Business Review, psikologi konsumsi membuat orang bertindak dengan cara yang bertentangan dengan apa yang mereka rasakan.
Misalnya, HBR memberi contoh dua orang yang berlangganan anggota pusat kebugaran, satu orang membayar Rp10 juta untuk satu tahun penuh saat mendaftar, sementara satu orang lainnya membayar Rp400.000-Rp500.000 untuk satu bulan.
Di antara kedua konsumen ini, orang yang membayar Rp400.000 per bulan lebih mungkin untuk pergi ke pusat kebugaran daripada orang yang membayar sejumlah uang sekaligus yang lebih besar. Itu karena, secara psikologis, pembayaran bulanan sebesar membuat biaya sebenarnya dari keanggotaan tetap ada di benak.
Berhenti Berlangganan Tidak Penting
Menurut survei Self Financial tentang langganan berbayar, rata-rata orang Amerika menghabiskan Rp531.000 per bulan untuk 4,1 langganan berbayar yang tidak terpakai, dengan 85,7% responden survei mengakui membayar setidaknya satu langganan yang tidak terpakai per bulan.
Ironisnya, 39,3% orang yang tidak membatalkan langganan yang tidak terpakai menyatakan bahwa pembaruan otomatis membuat hal itu terlalu rumit atau memakan waktu (beberapa alasan bagus untuk tidak menggunakan pembayaran otomatis untuk langganan). Dengan Rp531.000, rata-rata itu berarti sekitar Rp6,3 juta per tahun terbuang sia-sia untuk layanan yang bahkan tidak diperlukan.
Simpan Koin
The Wall Street Journal baru-baru ini melaporkan bahwa warga Amerika membuang koin sebanyak USD68 juta per tahun. Dari koin yang tidak dibuang, sekitar setengahnya tidak terpakai di rumah-rumah warga.
Dengan uang tunai yang digantikan oleh kartu kredit, debit, dompet digital, dan mata uang kripto, tampaknya sebagian besar dari kita tidak memanfaatkan aset yang teronggok begitu saja di antara bantal sofa kita.
Rupanya, bahkan Badan Keamanan Transportasi menemukan kembali koin senilai ratusan ribu dolar dari bandara setiap tahun. Pada tahun 2020 misalnya, TSA menemukan kembali koin senilai USD517.978.