Kisah Korban Banjir Sumbar Tetap Bersyukur Meski Kehilangan Semua Harta Benda
Nasrudin, salah satu korban banjir, menceritakan bahwa rumahnya yang bertingkat dan bercat putih telah musnah akibat sapuan banjir bandang.
Nasrudin mengamati dengan seksama kawasan tanah yang kini dipenuhi lumpur dan batuan di depannya. Di lokasi tersebut tidak terlihat lagi sisa-sisa bangunan, hanya bekas material yang ditinggalkan oleh banjir bandang yang menerjang kampungnya, Toboh, Malalak Timur, Kecamatan Malalak, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, sore hari, 26 November 2025.
Rumahnya yang megah, yang dulunya dicat putih, kini hanya tersisa dalam ingatannya.
"Saya sudah 63 tahun hidup lahir dan besar di sini, belum sekalipun peristiwa seperti ini terjadi," ungkap Nasrudin kepada Liputan6.com pada Sabtu (13/12/2025).
Tetap Bersyukur
Meski demikian, dia tetap bersyukur karena selamat dari bencana tersebut, berkat kemampuannya untuk melarikan diri ke tempat yang lebih aman saat banjir melanda.
“Iya sore hari, saya sedang duduk di rumah adik saya, lalu dari bagian atas sana terdengar gemuruh dan orang-orang berlarian, saya ikut lari bersama keluarga,” jelasnya.
Saat ini, Nasrudin bergantung pada bantuan yang disalurkan ke kampungnya, karena saat kejadian, hanya baju yang melekat di badannya yang tersisa.
"Lah tajadi, baa lai (sudah terjadi, mau bagaimana lagi)," tuturnya.
Data dari BPBD Agam mencatat, sebanyak 14 orang meninggal dunia di Toboh Malalak dan hingga saat ini, 3 orang masih dalam pencarian. Pantauan Liputan.com di Malalak menunjukkan bahwa dua minggu setelah bencana, kondisi di Malalak masih jauh dari pulih.
Material galodo seperti lumpur, pohon, dan bebatuan masih menutupi rumah-rumah warga.
Jumlah Rumah yang Rusak dan Hanyut
Sementara itu, informasi yang dihimpun menunjukkan bahwa setidaknya 75 rumah di Toboh mengalami kerusakan berat hingga hanyut.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Agam, Rahmad Lasmono, menjelaskan bahwa secara keseluruhan, dampak kerusakan rumah akibat bencana mencakup 256 unit rumah yang hanyut, 511 unit yang rusak berat, 396 unit yang rusak sedang, dan 486 unit yang rusak ringan.
"Penanganan akan dilakukan secara bertahap sesuai dengan tingkat kerusakan," ujarnya.