Jejak Langkah Denada: Sang 'Lady Rapper' yang Bermetamorfosis Jadi Ratu Lintas Genre
Denada tidak memulai karier dengan jalan pintas. Awalnya ia mencoba jalur Pop lewat album Kujelang Hari (1994). Namun, sejarah mencatatnya berbeda.
Di balik sorotan tajam mata publik terkait konflik keluarga yang baru-baru ini mencuat, sosok Denada Elizabeth Anggia Ayu Tambunan sejatinya adalah legenda hidup. Putri sulung dari "Singa Panggung Asia", Emilia Contessa ini memiliki rekam jejak yang tak main-main di belantika musik tanah air.
Dari sepatu boots Docmart hingga kebaya Jaipong, berikut adalah perjalanan metamorfosis karier Denada yang penuh kejutan.
Era 90-an: Lahirnya "Lady Rapper" Indonesia
Denada tidak memulai karier dengan jalan pintas. Awalnya ia mencoba jalur Pop lewat album Kujelang Hari (1994). Namun, sejarah mencatatnya berbeda.
Lagu andalannya, "Sambutlah", meledak di pasaran bukan sebagai lagu pop mendye-menye, melainkan pop-rap yang energik. Di era 90-an, Denada mendobrak standar penyanyi wanita. Ia tampil tomboy dengan kemeja flanel dan sepatu boots, memberinya julukan ikonik: The Lady Rapper atau Ratu Rap Indonesia.
Prestasinya tak kaleng-kaleng. Video klip "Sambutlah" membawanya menyabet penghargaan internasional MTV Video Music Awards Asia Viewer’s Choice Award pada tahun 1995. Saat menerima piala di New York, ia dengan bangga mengenakan kostum tradisional Jaipong.
Era 2000-an: Banting Setir ke Dangdut
Setelah sempat vakum untuk melanjutkan studi di Australia, Denada kembali dengan kejutan besar. Ia meninggalkan citra rapper cadas dan banting setir ke musik Dangdut.
Bukan sekadar aji mumpung, Denada membuktikan kualitasnya. Album Matahari atau yang dikenal dengan Ma... E... Dangdut Gaul (2005) dan One Stop Dangdut (2007) sukses besar. Ia bahkan meraih penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) dan MTV Indonesia Awards pada tahun 2005 berkat karya dangdutnya. Publik pun mengakui, Denada bisa menyanyikan apa saja.
Era 2010-an: Pop, R&B, dan Ujian Seorang Ibu
Denada terus bereksperimen. Album Call Me Dena (2010) menunjukkan sisi R&B-nya. Namun, ujian terberat datang bukan dari panggung, melainkan kehidupan pribadi.
Putri semata wayangnya, Aisha (dulu dikenal sebagai Shakira), didiagnosis leukemia. Denada rela menepi dari dunia hiburan, pindah ke Singapura, menjual aset, hingga bekerja sebagai instruktur Zumba demi pengobatan sang buah hati. Di fase ini, publik melihat sosok Denada bukan lagi sebagai entertainer, melainkan seorang fighter (pejuang) yang tangguh.
Era Sekarang: Comeback yang Garang
Tak mau larut dalam kesedihan, Denada kembali mengaum. Pada 2018, ia merilis single Hip-hop/Trap berjudul "Mutha Futha" yang kontroversial namun artistik, seolah mengingatkan publik bahwa "darah rapper" itu masih ada.
Terbaru, di tahun 2024, Denada merilis lagu "Cuan" dan aktif menjadi juri di ajang kompetisi tari Amazing Dance Indonesia.
Reporter magang : Muhammad Naufal Syafrie