Gara-Gara Telat Rapat 5 Menit, Menteri Jepang Minta Maaf kepada Rakyat
Siapakah menteri Jepang yang dimaksud? Berikut ini adalah penjelasan lengkapnya.
Menteri Keamanan Ekonomi Jepang, Kimi Onoda, menarik perhatian publik setelah videonya berlari menuju rapat kabinet viral di media sosial. Kejadian yang berlangsung pada Jumat pagi, 6 Maret 2026, tersebut semakin ramai dibicarakan setelah Onoda meminta maaf kepada masyarakat Jepang atas keterlambatannya.
Dalam rekaman, Onoda yang berusia 43 tahun terlihat melompat keluar dari taksi di depan gedung tempat rapat kabinet berlangsung. Ia berlari membawa tas tangan dan melewati wartawan yang menunggu di lokasi, sementara seorang ajudan berlari di sampingnya.
Setelah memasuki gedung, Onoda tampak cepat menuruni tangga menuju ruang rapat kabinet. Saat bersamaan, kamera menangkap momen ketika Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, memasuki ruang rapat.
Anggota kabinet yang sudah berada di dalam ruangan terlihat berdiri sambil merapikan jas mereka. Ketika para anggota kabinet mulai duduk di kursi masing-masing, kamera menyorot kursi Onoda yang masih kosong.
Setelah insiden tersebut, Onoda yang merupakan anggota Partai Demokrat Liberal (LDP) meminta maaf kepada publik. Ia menjelaskan bahwa keterlambatannya disebabkan oleh kemacetan yang terjadi akibat kecelakaan di jalan.
"Saya terjebak dalam kemacetan karena kecelakaan dan tidak bisa bergerak," ujarnya sebagaimana dilaporkan oleh Daily Mail.
Ia menegaskan akan lebih waspada agar dapat menghadapi situasi tak terduga di masa mendatang.
Respons Masyarakat
Permintaan maaf yang disampaikan oleh Menteri Keamanan Ekonomi Jepang, Kimi Onoda, telah memicu berbagai reaksi di media sosial. Banyak pengguna internet yang memberikan pujian terhadap sikap Onoda, yang dianggap menunjukkan tanggung jawabnya sebagai seorang pejabat publik.
Salah satu pengguna di platform X menyatakan, "Keterlambatan lima menit Menteri Keamanan Ekonomi Jepang, Kimi Onoda, jelas disebabkan oleh situasi di luar kendalinya—kemacetan lalu lintas akibat kecelakaan di jalan tol."
Pengguna tersebut juga menambahkan bahwa kebiasaan Onoda yang selalu datang 15 hingga 20 menit lebih awal menunjukkan komitmennya yang kuat terhadap tanggung jawab. Selain itu, permintaan maaf yang cepat serta pernyataannya tentang perlunya 'menerapkan manajemen krisis yang lebih baik' menjadi contoh yang layak dicontohkan oleh seorang politisi.
Menurutnya, membesar-besarkan masalah ini adalah reaksi yang berlebihan dan mencerminkan ketidaksadaran terhadap realitas risiko.
Pengguna yang sama kemudian menutup komentarnya dengan ungkapan, "Menteri Onoda, terima kasih atas kerja keras Anda. Saya berharap Anda terus meraih keberhasilan."
Selain itu, ada juga komentar yang menyoroti bahwa tindakan Onoda berkaitan erat dengan prinsip kepercayaan publik. Seorang pengguna berpendapat bahwa ketika para pemimpin menghargai waktu orang lain, hal tersebut dapat menjadi standar yang diikuti oleh masyarakat secara umum.
Seorang pengguna lain yang mengaku sebagai warga Jepang menambahkan bahwa masyarakat Jepang sangat menghargai ketepatan waktu. Ia menjelaskan bahwa di Jepang, waktu mulai suatu kegiatan dianggap sangat sakral, sedangkan waktu berakhirnya sering kali lebih fleksibel.
Pengguna lainnya juga menegaskan bahwa keterlambatan di Jepang sering dianggap sebagai tanda kelalaian atau ketidakandalan, sehingga datang tepat waktu dianggap sebagai bentuk dasar rasa hormat dan kepercayaan. Beberapa komentar bahkan menyebut bahwa budaya ketepatan waktu di Jepang dan negara-negara Asia seharusnya dijadikan tolok ukur bagi negara lain di seluruh dunia.
Di Jepang, nilai sosial ketepatan waktu sangat dihormati. Datang terlambat sering dianggap sebagai tindakan yang tidak sopan dan dapat merusak kepercayaan, sehingga permintaan maaf atas keterlambatan menjadi hal yang umum dilakukan, bahkan ketika penyebabnya berada di luar kendali individu.
Profil Kimi Onoda
Onoda pertama kali terpilih sebagai anggota Dewan Penasihat, yang merupakan majelis tinggi dalam parlemen Jepang yang dikenal dengan nama Diet Nasional, pada bulan Juli 2016. Selanjutnya, pada bulan Oktober tahun lalu, ia diangkat menjadi Menteri Keamanan Ekonomi.
Dalam kancah politik Jepang, Onoda dikenal sebagai sosok sayap kanan yang cukup menonjol dan pernah dibandingkan dengan tokoh sejarah Joan of Arc. Ia juga sering disebut sebagai "bintang baru" di kalangan kelompok sayap kanan di Jepang.
Onoda memiliki pandangan yang sangat tegas mengenai masalah imigrasi. Pada bulan Januari lalu, ia menyatakan bahwa Jepang perlu menangani kekhawatiran masyarakat terkait perilaku ilegal yang dilakukan oleh sebagian warga asing.
Pada bulan Oktober tahun lalu, ia mengungkapkan bahwa tindakan kriminal dan perilaku mengganggu yang dilakukan oleh beberapa imigran, serta penyalahgunaan sistem publik, telah menimbulkan rasa cemas dan ketidakadilan di masyarakat Jepang. Ia menegaskan pentingnya penerapan langkah-langkah tegas terhadap imigran yang tidak mematuhi peraturan yang berlaku di Jepang.