Bukan Lewat Barak Militer, Ki Hajar Dewantara Pernah Bentuk Pendidikan Karakter Siswa Melalui Program Ini
Ki Hajar Dewantara punya program pendidikan karakter melalui Taman Siswa.
Perdebatan seputar pendidikan karakter anak-anak di Indonesia kembali mencuat. Program pendidikan karakter dengan mengirim anak-anak bermasalah ke barak militer, seperti yang diinisiasi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, kini menjadi sorotan publik.
Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, ternyata pernah memiliki program membangun karakter siswa menggunakan sistem pendidikan Taman Siswa yang ia dirikan.
Berbeda dengan pendekatan yang cenderung otoriter, Ki Hajar Dewantara menawarkan metode pendidikan yang berlandaskan tiga prinsip utama: Kodrat Alam, Kemerdekaan, dan Kebudayaan.
Bukan hanya sekadar lembaga pendidikan, Taman Siswa juga menjadi simbol perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif. Ki Hajar Dewantara berjuang agar pendidikan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, tanpa memandang status sosial ekonomi.
Metode Pendidikan Humanis Ki Hajar Dewantara
Salah satu kunci keberhasilan Taman Siswa dalam membentuk karakter siswa adalah penerapan sistem "Among".
Dalam sistem ini, guru berperan sebagai "pengasuh" yang membimbing pertumbuhan murid secara holistik, layaknya petani yang merawat tanamannya. Guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai moral, etika, dan rasa cinta tanah air.
Meskipun terpengaruh sistem pendidikan modern Belanda, kurikulum Taman Siswa lebih menekankan pada nilai-nilai dan kebudayaan Indonesia. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan mempersiapkan kepemimpinan bangsa Indonesia.
Pendidikan karakter di Taman Siswa tidak dipaksakan, melainkan tumbuh secara alami melalui proses pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan.
Jenjang pendidikan di Taman Siswa pun beragam, mulai dari Taman Lare (untuk anak usia dini) hingga pendidikan tingkat tinggi. Ini menunjukkan komitmen Ki Hajar Dewantara dalam memberikan akses pendidikan yang merata dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Taman Siswa juga mengembangkan pendidikan bagi para pengajar, menunjukkan pentingnya kualitas guru dalam membentuk karakter siswa.
Peran 'Tut Wuri Handayani' dalam Pembentukan Karakter
Semboyan "Tut Wuri Handayani" yang dipopulerkan Ki Hajar Dewantara, merupakan inti dari filosofi pendidikannya. Semboyan ini mengandung makna mendalam tentang peran guru sebagai pengarah dan pembimbing, bukan sebagai penguasa.
Guru harus berada di belakang memberikan dukungan dan arahan serta membiarkan siswa berkembang sesuai potensi mereka. Dalam konteks pembentukan karakter, "Tut Wuri Handayani" menekankan pentingnya memberikan kebebasan kepada siswa untuk bereksplorasi dan belajar dari kesalahan.
Guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan memotivasi siswa untuk mencapai potensi terbaiknya. Metode ini jauh lebih efektif daripada pendekatan yang otoriter dan menekan.
Konsep "Ing Ngarsa Sung Tuladha", bagian lain dari Patrap Triloka, juga penting dalam pembentukan karakter. Guru harus menjadi teladan bagi siswanya, menunjukkan perilaku dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan.
Dengan demikian, pembentukan karakter menjadi proses pembelajaran yang integral dan berkelanjutan.