Apa Beda Darah Tinggi dan Darah Rendah? Ini Penjelasan Lengkapnya
Berikut penjelasan lebih lengkap mengenai beda darah tinggi dan darah rendah.
Sebelum membahas perbedaan darah tinggi dan darah rendah, penting untuk memahami apa itu tekanan darah normal. Tekanan darah adalah ukuran kekuatan aliran darah terhadap dinding pembuluh darah arteri saat jantung memompa darah ke seluruh tubuh.
Tekanan darah normal pada orang dewasa umumnya berada di kisaran:
- Sistolik: 90-120 mmHg
- Diastolik: 60-80 mmHg
Tekanan darah merupakan salah satu indikator penting kesehatan tubuh. Baik tekanan darah tinggi (hipertensi) maupun tekanan darah rendah (hipotensi) dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan jika tidak ditangani dengan baik.
Tekanan darah dapat berfluktuasi sepanjang hari tergantung pada aktivitas, posisi tubuh, tingkat stres, dan faktor lainnya. Namun, jika tekanan darah secara konsisten berada di luar rentang normal, hal ini dapat mengindikasikan adanya masalah kesehatan.
Apa beda darah tinggi dan darah rendah? Melansir dari berbagai sumber, Kamis (3/4), simak ulasan informasinya berikut ini.
Pengertian
1. Pengertian Darah Tinggi (Hipertensi)
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi medis kronis di mana tekanan darah dalam arteri secara konsisten berada di atas nilai normal. Seseorang didiagnosis mengalami hipertensi jika tekanan darahnya secara konsisten berada di atas 140/90 mmHg.
Hipertensi sering disebut sebagai “silent killer” karena umumnya tidak menimbulkan gejala yang spesifik, namun dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ-organ vital seperti jantung, otak, dan ginjal jika tidak ditangani dengan baik.
2. Pengertian Darah Rendah (Hipotensi)
Hipotensi atau tekanan darah rendah adalah kondisi di mana tekanan darah berada di bawah nilai normal, yaitu kurang dari 90/60 mmHg. Meskipun tidak selalu berbahaya, hipotensi dapat menyebabkan gejala yang mengganggu dan dalam kasus tertentu dapat mengindikasikan masalah kesehatan yang serius.
Berbeda dengan hipertensi, hipotensi sering kali menimbulkan gejala yang lebih terasa, seperti pusing, lemas, dan bahkan pingsan dalam kasus yang parah.
Perbedaan Utama Darah Tinggi dan Darah Rendah
Berikut adalah beberapa perbedaan utama antara darah tinggi (hipertensi) dan darah rendah (hipotensi):
1. Nilai Tekanan Darah:
- Hipertensi: > 140/90 mmHg
- Hipotensi: < 90/60 mmHg
2. Gejala:
- Hipertensi: Sering tanpa gejala, namun dapat menyebabkan sakit kepala, pandangan kabur, dan sesak napas pada kasus berat
- Hipotensi: Pusing, lemas, mual, pandangan kabur, dan pingsan
3. Risiko Jangka Panjang:
- Hipertensi: Meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal
- Hipotensi: Umumnya kurang berbahaya, namun dapat menyebabkan jatuh dan cedera, terutama pada lansia
4. Penyebab Umum:
- Hipertensi: Gaya hidup tidak sehat, genetik, usia, dan penyakit tertentu
- Hipotensi: Dehidrasi, pendarahan, gangguan jantung, dan efek samping obat-obatan tertentu
5. Pendekatan Pengobatan:
- Hipertensi: Fokus pada penurunan tekanan darah melalui perubahan gaya hidup dan obat-obatan
- Hipotensi: Tergantung pada penyebab, dapat melibatkan peningkatan asupan cairan, penyesuaian obat, atau pengobatan kondisi yang mendasari
Kapan Harus Konsultasi ke Dokter
Mengetahui kapan harus berkonsultasi dengan dokter mengenai masalah tekanan darah sangat penting untuk pencegahan dan penanganan dini. Baik untuk kasus hipertensi (tekanan darah tinggi) maupun hipotensi (tekanan darah rendah), ada beberapa situasi di mana konsultasi medis sangat dianjurkan:
Untuk Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi):
1. Pemeriksaan Rutin:
Jika Anda berusia di atas 40 tahun, lakukan pemeriksaan tekanan darah setidaknya sekali setahun. Untuk usia di bawah 40 tahun, pemeriksaan setiap 2-3 tahun direkomendasikan jika tidak ada faktor risiko lain.
2. Tekanan Darah Tinggi Persisten:
Jika hasil pengukuran mandiri menunjukkan tekanan darah konsisten di atas 140/90 mmHg. Bahkan jika tidak ada gejala, tekanan darah tinggi yang persisten memerlukan evaluasi medis.
3. Gejala Hipertensi Berat:
- Sakit kepala parah dan persisten.
- Penglihatan kabur atau gangguan penglihatan.
- Nyeri dada atau sesak napas.
- Detak jantung tidak teratur.
- Kebingungan atau perubahan kesadaran mendadak.
4. Faktor Risiko Tinggi:
Jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi atau penyakit jantung. Jika Anda mengalami obesitas, diabetes, atau penyakit ginjal.
5. Kehamilan:
Wanita hamil harus rutin memeriksakan tekanan darah sebagai bagian dari perawatan prenatal. Hipertensi dalam kehamilan dapat menimbulkan risiko serius bagi ibu dan janin.
6. Efek Samping Obat:
Jika Anda mengalami efek samping dari obat antihipertensi yang diresepkan. Jangan menghentikan atau mengubah dosis obat tanpa konsultasi dokter.
Untuk Hipotensi (Tekanan Darah Rendah):
1. Gejala yang Mengganggu:
- Pusing atau kepala terasa ringan yang sering atau parah.
- Pingsan atau hampir pingsan.
- Kelelahan ekstrem atau kelemahan yang tidak biasa.
- Penglihatan kabur atau berkunang-kunang.
2. Perubahan Mendadak:
Jika Anda mengalami penurunan tekanan darah yang tiba-tiba dan signifikan. Terutama jika disertai dengan gejala seperti pusing, mual, atau keringat dingin.
3. Hipotensi Postural:
Jika Anda sering merasa pusing atau hampir pingsan saat berdiri dari posisi duduk atau berbaring.
4. Setelah Cedera atau Kehilangan Darah:
Jika Anda mengalami penurunan tekanan darah setelah cedera atau kehilangan darah yang signifikan.
5. Terkait Obat-obatan:
Jika Anda baru memulai pengobatan baru dan mengalami gejala hipotensi. Terutama jika Anda mengonsumsi obat untuk tekanan darah tinggi, jantung, atau kondisi neurologis.
6. Kondisi Medis Lain:
Jika Anda memiliki kondisi medis seperti diabetes, penyakit Parkinson, atau gangguan endokrin dan mengalami gejala hipotensi.
Situasi Darurat:
- Segera cari bantuan medis darurat jika Anda mengalami:
- Penurunan kesadaran atau pingsan.
- Nyeri dada yang parah atau gejala serangan jantung.
- Kesulitan bernapas yang parah.
- Gejala stroke seperti kesulitan berbicara, kelemahan pada satu sisi tubuh, atau wajah yang melorot.
- Tekanan darah yang sangat tinggi (misalnya, di atas 180/120 mmHg) disertai gejala seperti sakit kepala parah, penglihatan kabur, atau mual.