Mengapa Manusia Tidak Punya Ekor? Begini Penjelasan Ilmuwan dan Peneliti
Para ilmuwan kini menunjuk pada mutasi genetik tunggal yang terjadi sekitar 25 juta tahun lalu, sebagai pemicu utama hilangnya ekor pada manusia.
Pertanyaan kuno yang kerap dilontarkan anak - anak, 'mengapa manusia tidak punya ekor?', kini mulai menemukan titik terang. Berbeda dengan mayoritas vertebrata, termasuk kerabat dekat seperti monyet, manusia dan kera besar lainnya bervolusi tanpa anggota tubuh yang penting untuk keseimbangan dan komunikasi tersebut.
Para ilmuwan kini menunjuk pada mutasi genetik tunggal yang terjadi sekitar 25 juta tahun lalu, sebagai pemicu utama hilangnya ekor pada garis keturunan hominoid.
Secara teknis, manusia memiliki ekor, namun hanya pada tahap awal perkembangan embrio, antara minggu ke-5 higga ke-8 kehamilan. Ekor primitive ini terdiri dari 10-12 ruas tulang belakang, yang kemudian menghilang seiring berkembangannya janin. Peninggalannya kini hanya berupa tulang ekor atau coccyx.
Hilangnya ekor terjadi sebelum pemisahan kera besar (termasuk manusia, simpanse, gorilla, dan orangutan) dari monyet sekitar 25 juta tahun lalu. Semua kera besar, termasuk kera yang lebih rendah seperti siamang, tidak memiliki ekor.
Bukan Bipedalisme, Tapi DNA
Meskipun hilangnya ekor sering dikaitkan dengan evolusi bipedalisme (berjalan tegak) pada manusia, di mana ekor dianggap menghalangi. Penelitian terbaru menunjukan bahwa ekor ternyata menghilang lebih dahulu. Antropolog biologi Liza Shapiro menjelaskan, gerakan yang dikaitkan dengan kera hidup berevolusi setelah hilang ekor, sehingga hilangnya ekor tidak secara langsung membantu menjelaskan evolusi bipedalisme.
Kunci teka-teki ini ditemukan oleh BO Xia dan timnya dari NYU Grossman School of Medicine pada tahun 2021, setelah membadingkan DNA kera tak berekor dengan monyet berekor.
Para peneliti menemukan urutan pendek DNA non-coding yang disebut elemen Alu yang 100 persen hadir pada semuah kera namun tidak ada pada monyt berekor. Elemen Alu adalah gen 'melompat' yang dapat berpindah dan memicu mutasi.
Ditemukan bahwa pada suatu titik di masa lalu, satu elemen Alu menyisipkan dirinya ke dalam gen TBXT, yang bertanggung jawab mengatur panjang ekor. Kehadiran elemen Alu ini secara tiba-tiba dan efektif menghentikan pembentukan ekor. Para ilmuwan membuktikan hal ini dengan menyisipkan elemen Alu ke dalam gen ekor tikus, yang kemudian lahir tanpa ekor.
Perubahan genetik ini diperkirakan terjadi secara mendadak, bukan bertahap.
Kompromi Evolusi dan Risiko Kesehatan
Meskipun mutasi ini memberikan perubahan besar pada anatomi primata, hal itu bukannya tanpa biaya. Tim Xia menemukan bahwa tikus yang mengalami mutasi yang sama memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami cacat sumsum tulang belakang yang mirip dengan spina bifida pada manusia.
Fakta bahwa mutasi tersebut dipertahankan dalam garis keturunan, meskipun menimbulkan risiko penyakit, menunjukkan adanya tekanan evolusi yang sangat besar untuk menghilangkan ekor. Hal ini menandakan manfaat dari tidak memiliki ekor (meski mekanismenya belum sepenuhnya jelas) dianggap sepadan dengan risiko kesehatan tersebut.
Walaupun mekanisme genetik hilangnya ekor telah teridentifikasi, para ilmuwan masih berupaya memecahkan pertanyaan yang lebih dalam mengapa ekor itu hilang dan mengapa manfaat evolusinya begitu signifikan hingga mutasi berbahaya ini dipertahankan selama jutaan tahun.
Reporter Magang: Ahmad Subayu