Kisah Balas Dendam Sony ke Nintendo Gara-gara Pengkhianatan
Dari konflik dengan Nintendo hingga dominasi grafis 3D, perjalanan Sony PlayStation mengubah wajah industri gim selamanya.
Pada 28 Mei 1991, di ajang Consumer Electronics Show di Chicago, Sony dengan bangga mengumumkan kolaborasinya dengan Nintendo untuk menciptakan versi Super NES dengan drive CD bawaan.
Proyek yang disebut Nintendo PlayStation ini, telah dikerjakan secara diam-diam sejak 1989. Dengan popularitas CD-ROM yang sedang memuncak, pengumuman ini seharusnya menjadi sorotan utama pameran tersebut.
Namun di balik layar, hubungan antara kedua perusahaan tidak berjalan mulus. Ada syak wasangka satu dengan yang lain. Pemicunya adalah Nintendo. Ia mulai merasa was-was terhadap niat Sony.
Niat yang dianggap ingin mengambil alih industri gim, terutama konsol gim. Kekhawatiran ini barangkali tidak berlebihan. Sebab, kolaborasi ini terjadi karena ide dari Ken Kutaragi, salah seorang insinyur Sony.
Mengutip VentureBeat, Minggu (29/12), merasa curiga, Nintendo mengambil langkah drastis. Sehari setelah pengumuman kolaborasi dengan Sony, Nintendo menyatakan bahwa mereka menghentikan kerja samanya. Yang lebih menyakitkan, Nintendo berpaling dan bekerja sama dengan Philips, perusahaan asal Belanda.
Terang saja pengumuman itu membuat Sony terkejut. Bagi Sony, langkah Nintendo benar-benar mempermalukannya. Norio Ohga, presiden Sony pada saat itu, marah besar. Ia murka dengan pengkhianatan Nintendo.
Dalam keadaan jengkel, ia memutuskan untuk membalas dendam. Didukung Kutargi, dia membentuk divisi baru bernama Sony Computer Entertainment. Divisi ini bertujuan untuk membawa Sony langsung masuk ke bisnis konsol gim.
Hasilnya adalah lahirnya Sony PlayStation, sebuah konsol yang menggabungkan teknologi penyimpanan CD dengan grafis 3D tercanggih pada masanya. Inilah yang nantinya kemudian menjadi boomerang bagi Nintendo.
Mengubah Perspektif Industri Gim
Saat Sony mulai mencoba menarik minat para pengembang gim terhadap sistem 3D mereka pada 1993, industri masih terbelah dalam pandangannya terhadap grafis 3D. Sebagian besar terobosan grafis 3D belum terjadi pada saat itu.
Gim Doom, yang dirilis pada akhir tahun tersebut, masih menggunakan gambar 2D untuk karakternya, meskipun dunianya dibuat dalam format 3D. Bahkan di arcade, tempat teknologi gim terbaru biasanya diuji coba, pengembang baru mulai mengeksplorasi grafis 3D.
Banyak pihak yang pesimis bahwa perangkat keras canggih PlayStation dapat memberikan harga jual yang kompetitif. Hal ini ditekankan ketika Panasonic meluncurkan konsol gim berbasis standar 3DO pada Oktober 1993.
Dibanderol dengan harga USD699,95, harga yang sangat tinggi pada waktu itu, konsol ini gagal menarik minat konsumen meskipun memiliki teknologi canggih.
Trip Hawkins, pendiri 3DO, awalnya bermimpi menciptakan platform gim universal seperti VHS untuk video. Namun, kenyataan berbicara lain. Konsol 3DO gagal di pasar, sementara pengembang gim mulai melirik alternatif lain yang lebih menjanjikan, yaitu Sony PlayStation.
Dampak Virtua Fighter dan Kemenangan Sony
Ironisnya, salah satu alasan utama pergeseran minat pengembang gim ke Sony adalah keberhasilan gim Virtua Fighter dari Sega pada 1993. Gim ini membuktikan bahwa karakter 3D yang dibangun dengan poligon bisa diterima oleh pemain, meskipun terlihat sederhana seperti boneka kayu. Keberhasilan Virtua Fighter mematahkan anggapan bahwa grafis 3D tidak cocok untuk karakter gim.
Namun, meskipun Sega memimpin awal dengan Sega Saturn, keputusan mereka untuk tidak sepenuhnya fokus pada grafis 3D memberikan Sony keunggulan. Sega Saturn awalnya dirancang sebagai konsol grafis 2D dengan kemampuan 3D terbatas, sementara PlayStation secara khusus dibuat untuk mendukung grafis 3D.
Sony berhasil menarik perhatian pengembang besar seperti Namco, yang kemudian membawa gim balap 3D mereka, Ridge Racer, ke PlayStation. Ketika PlayStation diluncurkan di Jepang pada Desember 1994, gim ini menjadi salah satu andalannya.
Persaingan yang Ketat
Meskipun PlayStation meraih kesuksesan besar, Sega Saturn tetap menjadi pesaing kuat, terutama di Jepang. Sega memanfaatkan popularitas gim arcade mereka seperti Virtua Fighter untuk menarik konsumen.
Dalam beberapa bulan setelah peluncurannya, Sega Saturn menjadi konsol Sega yang paling sukses di Jepang.Namun, keunggulan Sony dalam grafis 3D dan dukungan dari pengembang gim besar memastikan bahwa PlayStation akan menjadi kekuatan dominan di pasar konsol gim.