HP Lipat Memang Bikin Kagum, Tapi Apakah Layak Dibeli Sekarang?
HP lipat mulai dikenal sejak 2019. Teknologinya kian matang, namun harga, daya tahan, serta persoalan lain masih membatasi adopsi pasar secara luas.
HP lipat mulai menarik perhatian global pada 2019, ketika Samsung dan Huawei sama-sama memperkenalkan perangkat lipat pertama mereka.
Samsung merilis Galaxy Fold pada 20 Februari 2019, disusul Huawei dengan Mate X empat hari kemudian. Kedua perangkat ini memungkinkan layar berubah dari ukuran ponsel menjadi tablet.
Tak lama setelah itu, produsen lain seperti Oppo dan Xiaomi ikut menghadirkan ponsel lipat dengan konsep serupa, yakni menggabungkan portabilitas ponsel dan layar lebar untuk aktivitas seperti menonton video, bermain gim, atau mengedit dokumen.
Mengutip GizChina, Minggu (28/12), generasi awal ponsel lipat menghadapi sejumlah kendala teknis. Galaxy Fold generasi pertama sempat mengalami masalah layar dan engsel, sementara Mate X menuai kritik terkait ketahanan lipatan. Produsen kemudian melakukan berbagai penyempurnaan pada generasi berikutnya.
Pada model terbaru seperti Galaxy Z Fold 6 dan Galaxy Z Flip 6, Samsung memperkenalkan desain engsel dan layar yang lebih halus.
Huawei juga melakukan peningkatan melalui Mate Xs, Mate X2, hingga Mate XT dengan bodi lebih tipis dan struktur engsel lebih kuat.
Sementara itu, seri Find N dari Oppo dikenal memiliki lipatan layar yang relatif kecil dengan konstruksi engsel yang kokoh.
HP Lipat Punya Masalah Kompleks
Meski teknologinya berkembang, ponsel lipat masih menghadapi hambatan utama dari sisi harga. Galaxy Z Fold 6 dipasarkan di kisaran US$1.800, sementara Mate X3 berada pada rentang harga yang serupa.
Nilai ini hampir dua kali lipat dibandingkan ponsel pintar konvensional, sehingga membatasi adopsi secara luas.
Selain harga, isu durabilitas juga menjadi perhatian. Ponsel lipat memiliki konstruksi lebih kompleks dengan engsel, layar fleksibel, dan komponen tambahan yang memerlukan perawatan ekstra.
Risiko bekas lipatan pada layar masih ada, meski semakin berkurang. Biaya aksesori pelindung dan perbaikan pun relatif lebih mahal.
Daya tahan baterai turut menjadi tantangan. Ponsel lipat umumnya membutuhkan dua baterai atau susunan baterai besar untuk menopang layar luas, yang berdampak pada bobot dan ketebalan perangkat.
Dalam penggunaannya, ponsel lipat lebih diminati oleh segmen tertentu. Kreator konten, gamer, dan pengguna bisnis memanfaatkan layar besar serta fitur multi-window untuk menjalankan beberapa aplikasi secara bersamaan.
Model lipat vertikal seperti Galaxy Z Flip juga menarik perhatian konsumen muda karena desain ringkas dan fungsi kamera swafoto.
Meski demikian, mayoritas konsumen masih memilih ponsel datar karena dinilai lebih terjangkau dan praktis.
Hingga 2025, ponsel lipat masih tergolong pasar niche, meski menunjukkan pertumbuhan. Sejumlah produsen terus memasarkan perangkat ini melalui gerai ritel agar konsumen dapat mencoba langsung pengalaman layar lipat sebelum memutuskan membeli.