Diabetes sering kali diasosiasikan dengan kelebihan berat badan atau obesitas. Namun, kenyataannya, terdapat banyak individu dengan tubuh kurus yang juga didiagnosis menderita diabetes, khususnya tipe 2. Hal ini menunjukkan bahwa risiko diabetes tidak hanya bergantung pada penampilan fisik, tetapi juga dipengaruhi oleh gaya hidup, pola makan, serta faktor genetik. Oleh karena itu, jangan merasa aman hanya karena tubuh terlihat langsing—itu bukan jaminan bebas dari risiko gula darah tinggi.
Artikel ini akan mengupas mengapa orang dengan tubuh kurus tetap bisa terkena diabetes serta faktor-faktor tersembunyi yang sering terabaikan. Dari resistensi insulin hingga lemak visceral, serta gaya hidup yang kurang aktif, semuanya memiliki kontribusi signifikan terhadap munculnya kondisi ini. Dengan memahami penjelasan lengkapnya, kamu dapat lebih waspada dan menjaga kesehatan, tanpa memandang bentuk tubuh yang dimiliki.
Advertisement
Fenomena "Thin Outside, Fat Inside" (TOFI)
Salah satu penyebab utama mengapa orang dengan tubuh kurus bisa mengalami diabetes adalah fenomena yang disebut "Thin Outside, Fat Inside" (TOFI) atau yang lebih dikenal dengan istilah "Skinny Fat". Kondisi ini merujuk kepada individu yang memiliki indeks massa tubuh (IMT) dan berat badan yang berada dalam batas normal, namun sebenarnya memiliki persentase lemak tubuh yang cukup tinggi. Lemak ini tidak terlihat secara langsung karena tersembunyi di area sekitar organ dalam. Lemak visceral, yang merupakan jenis lemak yang sangat berbahaya, terletak di sekitar organ-organ vital seperti hati dan ginjal. Berbeda dengan lemak subkutan yang berada di bawah kulit, lemak visceral dapat memproduksi hormon dan zat inflamasi yang dapat mengganggu metabolisme glukosa serta lemak dalam tubuh.
Sebuah penelitian oleh H Yaghootkar et al. yang dipublikasikan dalam The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism (2014) menunjukkan bahwa individu dengan komposisi tubuh TOFI memiliki resistensi insulin dan profil metabolik yang mirip dengan orang-orang yang mengalami obesitas, meskipun berat badan mereka tergolong normal. Hal ini menunjukkan bahwa memiliki berat badan yang normal tidak selalu berarti kesehatan metabolik yang baik. Seseorang mungkin tampak kurus, namun memiliki komposisi tubuh yang tidak sehat dengan persentase lemak visceral yang tinggi. Fenomena ini menjadi salah satu faktor utama penyebab diabetes pada individu yang memiliki berat badan ideal, sehingga penting untuk memeriksa komposisi tubuh, bukan hanya mengandalkan angka pada timbangan.
Advertisement
Resistensi Insulin
Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel tubuh, seperti otot, lemak, dan hati, tidak mampu merespons insulin dengan baik, sehingga glukosa tidak dapat masuk ke dalam sel dan malah menumpuk di dalam darah. Kondisi ini menyebabkan kadar gula darah meningkat dan menjadi salah satu penyebab utama perkembangan diabetes tipe 2. Menurut Wilcox (2005) dalam Clinical Biochemist Reviews, resistensi insulin merupakan tahap awal yang sangat penting dalam sindrom metabolik.
Untuk mengatasi resistensi ini, pankreas berusaha memproduksi insulin dalam jumlah yang lebih banyak. Namun, jika sel-sel tetap tidak responsif, kadar gula darah akan terus meningkat dan akhirnya dapat menyebabkan diabetes tipe 2. Menariknya, kondisi ini juga dapat dialami oleh individu yang memiliki berat badan normal, karena resistensi insulin tidak selalu berkaitan dengan jumlah lemak tubuh secara keseluruhan. Beberapa faktor, seperti tingginya lemak visceral, pola makan yang tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik, juga berperan dalam resistensi insulin pada orang yang kurus.
Samuel dan Shulman (2012) dalam The Journal of Clinical Investigation menjelaskan bahwa penumpukan lemak di hati dan otot dapat menghambat fungsi insulin, bahkan pada individu dengan berat badan yang normal. Oleh karena itu, resistensi insulin menjadi jembatan penting yang menghubungkan antara gaya hidup dan risiko diabetes, tanpa memandang bentuk tubuh seseorang.
Advertisement
Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga
Peran genetika dalam meningkatkan risiko diabetes tipe 2 sangat signifikan, bahkan pada individu yang tampak sehat dan memiliki berat badan yang normal. Mereka yang memiliki latar belakang keluarga, seperti orang tua atau saudara, yang menderita diabetes, cenderung lebih berisiko terkena penyakit ini. Menurut American Diabetes Association (ADA) dalam publikasi Standards of Medical Care in Diabetes (2023), riwayat keluarga merupakan salah satu faktor risiko utama yang tidak dapat dimodifikasi. Penelitian menunjukkan bahwa risiko seseorang untuk mengalami diabetes dapat meningkat hingga tiga kali lipat jika ada satu anggota keluarga inti yang menderita penyakit ini, dan bisa mencapai 70% jika kedua orang tua mengidapnya.
Groop dan Lyssenko (2008) dalam Nature Reviews Genetics menyatakan bahwa adanya kombinasi mutasi genetik tertentu dapat mengganggu fungsi sel beta pankreas sejak awal, sebelum gejala terlihat. Hal ini menjelaskan mengapa risiko genetik tetap ada meskipun penampilan fisik tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan metabolik. Oleh karena itu, individu yang memiliki riwayat keluarga penderita diabetes perlu lebih waspada dan proaktif dalam menjaga kesehatan. Meskipun gen tidak bisa diubah, penerapan pola makan yang sehat, olahraga secara teratur, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dapat secara signifikan mengurangi risiko. Deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah perkembangan penyakit lebih lanjut.
Advertisement
Gaya Hidup Pasif
Gaya hidup yang tidak aktif atau dikenal dengan istilah sedentary lifestyle adalah salah satu faktor risiko utama untuk diabetes tipe 2, terlepas dari berat badan individu. Mereka yang menghabiskan sebagian besar waktu dengan duduk atau berbaring memiliki kemungkinan hampir dua kali lipat untuk menderita diabetes dibandingkan dengan orang yang lebih aktif. Menurut Hu et al. (2001) dalam The New England Journal of Medicine, durasi waktu duduk yang lama sangat terkait dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2, bahkan setelah mempertimbangkan indeks massa tubuh.
Ketika tubuh tidak bergerak, sel-sel tidak memanfaatkan glukosa dengan baik sebagai sumber energi. Akibatnya, kadar gula darah tetap tinggi dalam aliran darah, yang dapat menyebabkan hiperglikemia atau gula darah tinggi. Aktivitas fisik berperan penting dalam meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin dan membantu penggunaan glukosa dengan lebih efisien, sehingga berkontribusi dalam pencegahan dan pengelolaan diabetes.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mencatat bahwa gaya hidup yang pasif termasuk dalam sepuluh penyebab utama kematian dini dan penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2. Hal ini ditekankan dalam laporan Global Health Risks (WHO, 2009), yang mengidentifikasi kurangnya aktivitas fisik sebagai faktor risiko utama global untuk kematian. Oleh karena itu, sangat penting untuk memasukkan aktivitas fisik dalam rutinitas sehari-hari, bahkan bagi mereka yang memiliki berat badan normal, untuk secara signifikan mengurangi risiko terjadinya diabetes.
Advertisement
Pola Makan Tinggi Gula dan Karbohidrat Olahan
Pola makan yang mengandung banyak gula dan karbohidrat olahan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya diabetes, bahkan pada individu yang terlihat ramping. Jenis makanan ini dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah, sehingga pankreas harus bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika konsumsi makanan ini dilakukan secara berlebihan dalam jangka waktu lama, hal ini dapat mengakibatkan resistensi insulin. Menurut Ludwig dan Ebbeling (2001) dalam jurnal The Journal of the American Medical Association (JAMA), makanan dengan indeks glikemik tinggi sangat berkontribusi terhadap perkembangan resistensi insulin, meskipun seseorang tidak mengalami obesitas. Selain itu, lemak visceral yang terbentuk akibat konsumsi gula yang berlebihan dapat mengganggu proses metabolisme, meskipun tidak terlihat dari penampilan luar.
Karbohidrat olahan, seperti nasi putih, roti putih, dan makanan manis, dapat mempercepat penumpukan lemak dalam tubuh. Saris (2003) dalam Nutrition and Metabolism menjelaskan bahwa konsumsi gula rafinasi dapat merangsang pembentukan lemak di hati, yang pada gilirannya berdampak pada toleransi glukosa dalam tubuh. Oleh karena itu, sangat penting untuk membatasi asupan makanan tinggi gula dan memilih alternatif yang lebih sehat, seperti makanan utuh yang kaya serat dan protein seimbang. Bahkan bagi mereka yang memiliki tubuh ideal, perhatian terhadap kualitas makanan tetaplah penting. Gaya hidup yang aktif dan pola makan dengan indeks glikemik rendah merupakan kunci untuk mencegah diabetes secara efektif.
Advertisement
Stres Kronis
Stres kronis sering kali dianggap remeh, namun sebenarnya dapat berpengaruh signifikan terhadap peningkatan risiko diabetes. Ketika seseorang mengalami stres yang berkepanjangan, tubuh akan memproduksi hormon kortisol dalam jumlah yang berlebihan. Hormon kortisol ini berfungsi untuk meningkatkan kadar gula darah sebagai respons alami tubuh terhadap tekanan. Menurut Rosmond (2005) dalam jurnal Endocrine, "kadar kortisol yang terus-menerus tinggi dapat menurunkan sensitivitas insulin dan memicu peningkatan glukosa darah," yang pada akhirnya meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Dalam jangka panjang, jika paparan kortisol yang berlebihan tidak diimbangi dengan pola hidup sehat, hal ini dapat membebani pankreas dan menyebabkan resistensi insulin.
Kondisi ini semakin parah jika disertai dengan gaya hidup yang kurang aktif dan pola makan yang tidak seimbang. Robert M. Sapolsky dalam bukunya Why Zebras Don't Get Ulcers (2004) menjelaskan bahwa "stres jangka panjang mengganggu sistem metabolik dan hormonal secara menyeluruh," serta berkaitan erat dengan sindrom metabolik dan gangguan regulasi gula darah. Oleh karena itu, pengelolaan stres menjadi langkah penting dalam mencegah diabetes, terutama bagi individu yang tampak sehat secara fisik. Aktivitas seperti meditasi, olahraga ringan, dan melakukan hobi yang menyenangkan terbukti efektif dalam menurunkan kadar kortisol dan menjaga keseimbangan metabolik. Menyadari dampak stres terhadap tubuh bukan hanya penting untuk kesehatan mental, tetapi juga untuk mencegah risiko penyakit kronis yang lebih luas.