Kemenkes Luruskan Isu 'Superflu' di Tengah Lonjakan Kasus Influenza

Kemenkes mencatat kenaikan kasus influenza pekan ke-38 dengan positivity rate 56%. Varian yang dominan di Indonesia pun diungkap, bukan 'superflu'.

Benedikta Desideria
Oleh Benedikta Desideria - Reporter
Kemenkes Luruskan Isu 'Superflu' di Tengah Lonjakan Kasus Influenza
Meskipun diet keto efektif menurunkan berat badan, tetapi sebelum melakukannya diharapkan untuk mengenali beberapa bahaya ini. (Sumber: Freepik/benzoix).

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyampaikan adanya kenaikan kasus influenza di Indonesia sejak awal September 2026, sejalan dengan pola musiman tiap tahun. "Dan memang di minggu ke-38 pada bulan September ini ada peningkatan, positivity rate menjadi 56%," tutur Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni.

Andi menambahkan, berdasarkan tren sebelumnya, peningkatan ini lazimnya diikuti penurunan selepas memasuki pekan 39 dan 40. "Kita tentunya berharap bahwa setelah minggu ini terjadi penurunan, kita juga bisa lihat trend-trend sebelumnya, itu bahwa ketika sudah melampaui sekitar minggu 39, 40 itu trennya akan menurun," lanjut Andi dalam konferensi pers daring pada Senin (28/9/2026).

Ia juga menegaskan varian influenza yang saat ini paling banyak terdeteksi di Indonesia adalah influenza A(H1N1)pdm09, bukan varian yang belakangan disebut masyarakat sebagai "superflu". "Dan untuk kasus di Indonesia, yang predominan adalah influenza A(H1N1)pdm09. Influenza A(H3N2) subclade K justru kasusnya di Indonesia menurun drastis," terang Andi.

Menurut data Kemenkes, kasus influenza A(H3N2) subclade K tercatat 22 kasus sepanjang 2026 dan tidak ada penambahan sejak April. Angka tersebut turun dibandingkan 166 kasus pada 2025.

Andi sekaligus meluruskan penggunaan istilah yang ramai di publik. "Istilah 'superflu' tidak dikenal dalam nomenklatur resmi WHO maupun Kemenkes. Istilah awam itu merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K," terang Andi.

Memahami Varian Influenza yang Beredar di Indonesia

Andi menjelaskan tidak ada perbedaan klinis bermakna antara infeksi influenza A(H1N1)pdm09 dan influenza A(H3N2) subclade K. "Keduanya merupakan subtipe virus influenza A musiman yang menyerang saluran pernafasan terutama," jelas Andi menjawab pertanyaan Liputan6.com.

Ia mengingatkan penyebutan 'super flu' dapat menimbulkan salah kaprah di masyarakat. "Meskipun varian H3N2 subclade K sering dijuluki masyarakat sebagai 'super flu' karena kemampuannya bermutasi dan menular dengan sangat cepat, data dari organisasi kesehatan dunia WHO dan Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa tingkat keparahan intrinsik varian ini tetap serupa dengan flu musiman lainnya," ujar Andi.

Di kesempatan berbeda, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, SpA, Subsp IPT(K) dari Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI, menekankan bahwa influenza bukan common cold dan dapat menimbulkan kondisi yang lebih berat.

Berikut gejala influenza A:

  • Demam tinggi (di atas 38 derajat Celsius)
  • Batuk kering
  • Tenggorokan sakit
  • Badan nyeri
  • Pusing
  • Hidung berair
  • Lemas intens
  • Sulit napas.

"Ingat yang namanya tanda dan gejala influenza ini enggak mesti semuanya ada. Kadang ada yang demam dengan muntah-muntah, diare. Tapi yang biasanya selalu ada itu demam, sakit kepala dan sakit badan," kata Guru Besar dalam Bidang Infeksi dan Penyakit Tropis Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran itu.

Anggraini menambahkan, anak dengan faktor risiko berpotensi mengalami komplikasi serius. "Pada anak dengan faktor risiko, influenza dapat menyebabkan komplikasi berat seperti pneumonia, eksaserbasi asma, miokarditis, hingga ensefalopati," tuturnya.

Rekomendasi