Mengapa Tubuh Bisa Mabuk saat Naik Mobil atau Pesawat? Ini Penjelasannya

Mabuk Perjalanan muncul saat otak menerima sinyal gerak yang tidak selaras. Kenali gejalanya dan langkah sederhana untuk mencegahnya.

Kanaya Nanda Putri
Oleh Kanaya Nanda Putri- Reporter
Mengapa Tubuh Bisa Mabuk saat Naik Mobil atau Pesawat? Ini Penjelasannya
<p>Ilustrasi cara mengatasi mabuk perjalanan/Copyright unsplash/Elvis Bekmanis</p>

Perjalanan menggunakan mobil, pesawat, kapal, hingga wahana permainan dapat memicu mabuk perjalanan atau motion sickness. Kondisi ini memunculkan keluhan seperti mual, pusing, dan kelelahan yang pada sebagian orang masih terasa setelah perjalanan usai.

Menurut ahli saraf Victor S. Wang, MD, motion sickness adalah respons tubuh terhadap gerakan ketika otak menerima informasi yang tidak selaras dari beberapa sistem sensorik. Mata memberikan masukan visual, telinga bagian dalam menjaga keseimbangan, sementara sentuhan dan proprioception membantu tubuh mengenali posisi serta gerak anggota badan. Ketika sinyal-sinyal tersebut tidak cocok, mabuk perjalanan dapat terjadi.

“Dalam proses tubuh mengolah informasi untuk menjaga keseimbangan, terdapat masukan dari isyarat visual, sistem telinga, serta sensorik lainnya,” ujar Wang, dikutip dari American Medical Association, Rabu (4/11).

Gejala Awal Mabuk Perjalanan dan Siapa yang Lebih Rentan

Mabuk perjalanan tidak selalu dimulai dengan mual atau pusing. Pada tahap awal, seseorang bisa merasakan tubuh tidak nyaman, produksi air liur meningkat, berkeringat, perubahan detak jantung, hingga sensasi melayang atau kepala terasa ringan.

Bila berlanjut, gejala dapat berkembang menjadi mual, pusing, vertigo, muntah, dan rasa lelah. Beberapa orang juga mengalami kesulitan bernapas, kesemutan atau mati rasa pada anggota tubuh, serta wajah yang tampak pucat.

“Rasa mual dan pusing mulai memburuk. Penderitanya juga bisa merasa semakin lelah dan terkuras seiring berkembangnya gejala,” kata Wang.

Pada individu yang sangat sensitif terhadap gerakan, keluhan mabuk perjalanan dapat bertahan selama 36 hingga 72 jam setelah perjalanan berakhir.

Wang menambahkan, perempuan cenderung lebih sering mengalami mabuk perjalanan dibandingkan laki-laki. Kondisi ini juga lebih umum pada anak-anak hingga sekitar usia sembilan tahun, kemudian kecenderungannya menurun seiring pertambahan usia.

Risiko motion sickness meningkat pada orang dengan migrain, kecemasan, gangguan vestibular (sistem keseimbangan), serta masalah pencernaan yang disertai mual.

Pilih Posisi Duduk dan Kebiasaan Ini untuk Redakan Mabuk Perjalanan

Ada beberapa langkah yang dapat membantu mengurangi risiko maupun meredakan gejala. Wang menyarankan untuk memperhatikan posisi duduk sepanjang perjalanan.

Saat bepergian dengan mobil, duduk di kursi depan atau menjadi pengemudi dapat membantu karena pandangan lebih leluasa mengikuti arah gerak kendaraan. Pada penerbangan, kursi di sekitar sayap pesawat cenderung lebih stabil.

Ketika naik bus, kereta, atau pesawat, usahakan duduk menghadap ke depan. Melihat objek diam atau cakrawala di kejauhan dapat membantu otak menyelaraskan informasi visual dengan gerakan yang dirasakan tubuh.

Selain itu, jaga kecukupan cairan dan hindari makan terlalu banyak sebelum berangkat. Jika memungkinkan, luangkan waktu untuk berdiri, berjalan sebentar, atau meregangkan kaki selama perjalanan.

Menjaga suhu kabin atau ruangan tetap sejuk juga bermanfaat. Bagi sebagian orang, konsumsi camilan ringan atau jahe sebelum perjalanan dapat membantu meredakan mual.

Rekomendasi