Demi Kualitas Hidup Sehat, Pekerja Diingatkan Lebih Peduli soal Tidur

​Usia harapan hidup naik ke 74 tahun, tapi yakin masa tua kita sebagai pekerja bebas dari sakit kronis? Saatnya intip pentingnya merapikan jam tidur biar para pekerja gak cuma panjang umur, tapi juga tetap bugar!

Auria Setiarum Cahayani
Demi Kualitas Hidup Sehat, Pekerja Diingatkan Lebih Peduli soal Tidur
Rutinitas yang padat sering membuat hari terasa berjalan sangat cepat. Pekerjaan menumpuk, jadwal kegiatan terus bertambah, belum lagi waktu untuk keluarga, teman, atau diri sendiri yang terkadang ikut terabaikan. (Foto/Dok: Pexels)

Temuan riset Zurich Indonesia mencatat angka harapan hidup (lifespan) masyarakat di tanah air kini meningkat signifikan mencapai 74 tahun. Angka tersebut melonjak dibanding 35 tahun lalu saat Zurich pertama kali hadir di Indonesia, yang kala itu masih di bawah 50 tahun. 

​Namun, meningkatnya usia hidup tersebut belum diimbangi oleh masa hidup sehat (healthspan). Terdapat kesenjangan (gap) hingga 10 tahun di mana individu menghabiskan masa tuanya dalam kondisi kesehatan yang menurun atau mengidap penyakit kronis.

Kesenjangan ini salah satunya dipicu oleh kebiasaan pekerja yang kerap mengabaikan jeda setelah jam kerja. Banyak pekerja rela memangkas jam tidur demi mengejar deadline pekerjaan atau sekadar menikmati waktu luang di malam hari. Padahal, kebiasaan menumbalkan waktu istirahat ini berisiko merusak daya tahan fisik dan mental dalam jangka panjang.

​Dalam konferensi pers peringatan 35 tahun kehadirannya di Indonesia pada Selasa (3/11) di Jakarta Pusat, Zurich Indonesia memaparkan temuan riset global bertajuk The Resilient Workforce. Salah satu poin krusial yang terungkap adalah pentingnya menjaga kualitas tidur sebagai pilar utama ketahanan (resilience) seorang pekerja.

Lantas, mengapa kualitas tidur justru menjadi kunci utama ketahanan pekerja, dan bagaimana dampaknya terhadap masa tua kita?

Tidur Adalah Fondasi Utama Resilience

Berdasarkan studi yang digagas Zurich bersama para peneliti dari University of Oxford, tidur bukanlah sekadar aktivitas melepas penat di akhir hari, melainkan fondasi dasar yang menyokong seluruh pilar ketahanan atau resilience individu.

Kualitas tidur yang buruk terbukti berdampak langsung pada penurunan ketahanan fisik, kesehatan mental, hingga stabilitas finansial pekerja.  

​Kurang tidur secara konsisten dapat menurunkan tingkat fokus, memicu stres berkepanjangan, hingga memperbesar risiko penanganan kesehatan yang mahal di kemudian hari. Oleh karena itu, ketahanan kerja yang optimal tidak akan pernah tercapai jika fondasi utamanya, yaitu tidur yang berkualitas, terus-menerus diabaikan. 

Ubah Gaya Hidup dengan Tidur Cukup

Kualitas tidur yang buruk tak bisa lagi dianggap sebagai imbalan biasa demi mengejar target karir. Mengubah pola pikir dari sekadar mengobati saat sakit menjadi perawatan kesehatan mandiri secara proaktif (proactive care) harus dimulai dari pembenahan gaya hidup harian.  

​Pekerja perlu lebih bijak mengatur batas antara jam kerja dan waktu istirahat, termasuk mengurangi kebiasaan scrolling gawai sebelum tidur yang sering memangkas waktu lelap.  

​Country Manager Zurich Indonesia dan Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara menegaskan bahwa pendekatan kesehatan kini harus berfokus pada pencegahan sejak dini.  

​"Fokus kesehatan bukan hanya sekadar untuk membayar klaim saat sakit, tetapi bagaimana kita mengambil langkah lebih jauh dalam menyiapkan proactive care dan preventive care," ujar Edhi dalam konferensi pers peringatan 35 tahun Zurich di Indonesia pada Selasa (3/11) di Jakarta Pusat. 

Country Manager Zurich Indonesia dan Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara
Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk, Edhi Tjahja Negara dalam konferensi pers peringatan 35 tahun kehadirannya Zurich Indonesia pada Selasa (3/11) di Jakarta Pusat.

Memperbaiki kualitas tidur dan konsisten melakukan pemeriksaan kesehatan berkala menjadi investasi paling realistis. Langkah sederhana ini memastikan pekerja tak hanya mengejar angka usia yang panjang, tetapi juga menikmati masa tua yang tetap bugar dan bebas dari ancaman penyakit kronis.  

Rekomendasi