Dampak Kekeringan di RI, Pasokan Nikel Baterai EV China Terancam

Smelter nikel di Indonesia mengurangi produksi akibat kekeringan. CRU menilai pasokan baterai EV China terancam. Simak penjelasannya.

Cahya Alena Fauza
Oleh Cahya Alena Fauza- Reporter
Dampak Kekeringan di RI, Pasokan Nikel Baterai EV China Terancam
Deforestasi akibat aktivitas eksploitasi proyek pertambangan nikel terbesar di dunia yang beroperasi di sana. (Foto oleh AFP)

Kekeringan berkepanjangan di sejumlah wilayah Indonesia memaksa pabrik pengolahan nikel menurunkan kapasitas. Kondisi ini menimbulkan risiko gangguan pada rantai pasokan bahan baku baterai kendaraan listrik (EV) di China dan pasar global.

Indonesia memegang peran kunci sebagai produsen nikel terbesar di dunia sekaligus pemasok utama bahan baku baterai lithium-ion. Namun, proses ekstraksi nikel berteknologi high-pressure acid leach (HPAL) membutuhkan volume air yang besar, sehingga krisis air langsung menekan output di lapangan.

Salah satu fasilitas utama yang dikelola Nickel Industries berbasis Sydney di Sulawesi Tengah mengumumkan pemangkasan produksi signifikan. Operasi kini berjalan di sekitar 30% kapasitas, turun dari sebelumnya 50%. Lembaga analisis pasar CRU Group menilai penyesuaian serupa berpotensi meluas di sepanjang lini industri bulan ini.

"Sangat rasional untuk memperkirakan bahwa seluruh operasi HPAL lainnya, yang menghadapi kelangkaan air serupa dan beroperasi menggunakan fasilitas infrastruktur bersama, sedang mempertimbangkan pengurangan produksi sementara dalam skala sejenis," tulis CRU Group dalam laporan risetnya, dikutip dari South China Morning Post, Selasa (3/11/2026).

CRU Group memangkas proyeksi produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) pada semester kedua tahun ini menjadi 370.000 ton, dari estimasi awal 400.000 ton. Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang disebut sebagai salah satu pendorong utama, sementara data S&P Global menunjukkan Indonesia menyumbang lebih dari separuh total produksi nikel dunia.

Keterpaparan Investor China pada Kelangkaan Nikel

Sekitar tiga perempat industri pengolahan nikel di Indonesia melibatkan investasi dari China, menurut estimasi Center for Advanced Defense Studies (C4ADS) yang berbasis di Amerika Serikat.

"Investor China memiliki keterpaparan (exposure) yang sangat signifikan pada industri nikel berbasis HPAL di Indonesia," ujar Co-Coordinator Program Studi Indonesia di ISEAS–Yusof Ishak Institute Singapura, Siwage Dharma Negara.

Ia memperkirakan produsen baterai kendaraan listrik asal China akan terdampak oleh tersendatnya pasokan nikel, terlebih China menguasai sekitar 80% produksi baterai EV dunia menurut data Badan Energi Internasional (IEA).

Krisis air juga memicu lonjakan biaya operasional dan menekan margin keuntungan para investor nikel di dalam negeri.

Laporan S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) di Nanyang Technological University (NTU) Singapura mencatat, investor China pada fasilitas HPAL menghadapi kendala pasokan dan risiko penutupan operasional di tengah regulasi lingkungan serta keselamatan kerja yang semakin ketat.

Meski begitu, investor diperkirakan tetap bertahan di Indonesia karena peran strategisnya bagi rantai pasokan baterai China. Namun, ekspansi proyek baru kemungkinan ditunda, sementara fokus diarahkan pada peningkatan efisiensi fasilitas yang sudah beroperasi.

Rekomendasi