Mengapa Seseorang Suka PDKT, tetapi Tak Mau Berkomitmen?

Sebagian orang kencan demi merasa diinginkan. Melansir SELF, ini 7 tandanya saat kamu mengejar validasi, bukan kedekatan emosional.

Kanaya Nanda Putri
Oleh Kanaya Nanda Putri- Reporter
Mengapa Seseorang Suka PDKT, tetapi Tak Mau Berkomitmen?
Mulai dari piknik saat matahari terbenam hingga menonton film di rumah, berbagai aktivitas sederhana bisa menjadi pilihan kencan yang seru. (Foto/Dok: Pexels)

Kencan tidak selalu berangkat dari niat membangun kedekatan emosional. Dalam sejumlah kasus, orang justru berkencan untuk merasa disukai, diinginkan, atau mendapatkan pengakuan. Pola ini dikenal sebagai dating for validation, ketika fokus utamanya adalah memastikan diri terlihat menarik dan layak dipilih, alih-alih menumbuhkan hubungan yang tulus.

Melansir SELF pada Senin (2/11), pakar hubungan menjelaskan bahwa kebiasaan ini kerap samar karena sekilas menyerupai proses pendekatan pada umumnya. Meski begitu, ada beberapa pola yang dapat dikenali sebagai tanda bahwa kencan lebih didorong kebutuhan validasi daripada membangun koneksi.

  1. Mengejar Status Pacaran, Bukan Mengenal Pribadi

    Alih-alih penasaran pada karakter dan nilai-nilai orang yang didekati, perhatian lebih tertuju pada hasrat “punya pasangan”. Menurut terapis pernikahan dan keluarga, Moe Ari Brown, ketertarikan yang tulus membuat seseorang melihat calon pasangan sebagai individu yang utuh, bukan sekadar sosok dalam bayangan atau fantasi.

  2. Kedekatan Menguat Saat Bertemu, Hilang Saat Berjauhan

    Koneksi terasa intens ketika berdua, namun meredup begitu berpisah tempat. Psikolog klinis Sabrina Romanoff menyebut pola ini sebagai performative chemistry: hangat di momen kebersamaan, tetapi tanpa investasi emosional yang konsisten.

  3. Terlalu Cepat Membuka Diri Demi Kesan Intim

    Curhat mendalam di awal interaksi bisa jadi bukan karena rasa percaya yang tumbuh alami, melainkan jalan pintas untuk menciptakan keintiman. Romanoff menambahkan, intensitas pada fase awal memang kerap terasa bermakna, namun dalam sejumlah situasi justru terkait dorongan memperoleh validasi secara instan.

  4. Chat Ramai, Tetapi Menghindari Ajakan Bertemu

    Komunikasi dijaga tetap hidup—rutin bertukar pesan atau menggoda—namun rencana tatap muka selalu diulur. Romanoff menjelaskan, saat ego yang memimpin, seseorang bisa sengaja mempertahankan atensi tanpa benar-benar memperdalam relasi.

    "Ketika seseorang didorong oleh egonya, mereka cenderung menjaga agar orang lain tetap tertarik dengan cara memberikan harapan semu," kata Sabrina Romanoff.
  5. Perhatian Naik-Turun Tanpa Pola

    Ketertarikan muncul kuat ketika bosan, kesepian, atau butuh perhatian, lalu menghilang setelah kebutuhan itu terpenuhi. Perilaku yang tidak konsisten semacam ini merupakan salah satu tanda dating for validation.

  6. Memperlakukan Banyak Orang dengan Cara Serupa

    Minim ketertarikan khusus pada individu; pendekatan terhadap beberapa orang dilakukan dengan pola yang hampir sama. Psikoterapis Danielle Madonna menilai hal ini mencerminkan kebutuhan validasi dari banyak pihak, bukan investasi untuk membangun kedekatan mendalam dengan satu orang.

  7. Lebih Suka Mengejar ketimbang Menikmati Balasan

    Antusias saat mengejar, tetapi meredup ketika perhatian dibalas serius. Madonna menjelaskan, kondisi ini kerap menandakan dorongan utamanya adalah merasa diinginkan—bukan membangun keintiman.

    "Ini bukan soal membangun hubungan, melainkan soal perasaan diinginkan orang lain," kata Danielle Madonna.

Mengubah Pola Kencan

Brown menyarankan langkah awal berupa mengenali kebiasaan diri tanpa menghakimi. Keinginan memperoleh pengakuan adalah manusiawi, namun penting untuk memahami apa yang sebenarnya dicari dari sebuah hubungan.

Ajukan pertanyaan reflektif kepada diri sendiri: apakah kamu merasa nyaman saat bersamanya? Apakah benar-benar ingin mengenalnya lebih jauh? Bisakah menjadi diri sendiri tanpa terus berusaha tampil mengesankan?

Kurangi ketergantungan pada penilaian orang lain ketika menentukan pilihan pasangan. Dengan begitu, perhatian tidak hanya tertuju pada apakah kamu “dipilih”, tetapi juga apakah hubungan tersebut selaras dengan kebutuhan serta keinginanmu.

Hubungan yang sehat bertumpu pada ketertarikan terhadap pribadi seseorang, bukan semata rasa menyenangkan karena mendapat perhatian. Memahami perbedaan ini membantu menjalani proses kencan dengan lebih mindful dan membuka peluang pada hubungan yang lebih tulus.

Rekomendasi