6 Kebiasaan agar Hubungan Bertahan Sampai Tua Versi Terapis

Terapis hubungan Marni Feuerman memaparkan enam kebiasaan yang membantu pasangan tetap dekat dan setara hingga usia lanjut. Apa saja langkah konkretnya?

Kanaya Nanda Putri
Oleh Kanaya Nanda Putri - Reporter
6 Kebiasaan agar Hubungan Bertahan Sampai Tua Versi Terapis
Komunikasi dan kesepakatan bersama diperlukan agar rencana pernikahan tidak hanya mengikuti keinginan salah satu pihak. (Foto/Dok: Pexels)

Tidak semua pasangan yang telah lama bersama otomatis memiliki hubungan yang sehat. Seiring bertambahnya usia, perubahan prioritas, dinamika keluarga, pekerjaan, hingga kebutuhan emosional akan muncul dan menuntut penyesuaian.

Karena itu, mempertahankan hubungan hingga lanjut usia membutuhkan kebiasaan yang dibangun sejak awal agar kedua belah pihak tetap merasa dekat, dihargai, dan aman dalam menjalani keseharian.

Psikoterapis hubungan dan keluarga Marni Feuerman menjelaskan sejumlah kebiasaan yang kerap terlihat pada pasangan yang mampu menua bersama secara sehat. Menurutnya, hubungan yang kuat ditandai ketertarikan satu sama lain, rasa saling menghargai, serta kontribusi yang seimbang dari kedua pihak.

Kepercayaan dan Kejujuran dalam Hubungan

Hal pertama yang perlu dijaga adalah kepercayaan. Pasangan perlu merasa bahwa satu sama lain memiliki niat baik dan dapat dipercaya, dikutip dari YourTango, Selasa (6/10).

Kejujuran tidak hanya tampak dari perkataan, tetapi juga perilaku sehari-hari. Saat rasa aman sudah terbentuk, seseorang lebih mudah menyampaikan pikiran dan perasaannya tanpa terus-menerus khawatir mendapat tanggapan negatif dari pasangan.

Kepercayaan inilah yang menjadi fondasi bagi komunikasi, keterbukaan, empati, dan kasih sayang dalam hubungan.

Kompak Menyikapi Konflik

Hubungan yang sehat bukan berarti bebas dari konflik. Perbedaan pendapat dan masalah tetap akan muncul, namun yang membedakan adalah pilihan cara pasangan menghadapinya.

Feuerman menekankan pentingnya komunikasi yang terbuka, produktif, dan saling menghormati saat menyelesaikan masalah. Penghinaan, intimidasi, maupun kekerasan tidak seharusnya menjadi bagian dari proses tersebut.

Memilih waktu yang tepat juga krusial. Ketika kedua pihak sudah lebih tenang dan sama-sama terbuka untuk berdiskusi, percakapan biasanya berjalan lebih baik dan risiko konflik semakin memanas bisa ditekan.

Menyatukan Nilai Inti Kehidupan

Selain cara menghadapi masalah, keselarasan dalam hal-hal mendasar membantu hubungan bertahan jangka panjang.

Kesamaan minat memang menyenangkan, tetapi bukan satu-satunya hal penting. Pasangan perlu memiliki kesepahaman tentang komitmen, anak, karier, cara mengekspresikan kasih sayang, tujuan hidup, hingga pilihan tempat tinggal.

Batasan dengan keluarga maupun teman juga perlu disepakati. Meski demikian, keselarasan tidak berarti harus melakukan semua hal bersama. Masing-masing tetap membutuhkan ruang untuk menjadi dirinya sendiri di luar hubungan.

Saling Membuka Kehidupan

Kedekatan tumbuh saat pasangan bersedia membuka bagian-bagian penting dalam kehidupannya. Ini mencakup pengalaman pribadi, masalah yang sedang dihadapi, hal yang disukai dan tidak disukai, hingga latar belakang keluarga.

Menurut Feuerman, keterbukaan dapat dilakukan secara bertahap sambil melihat bagaimana pasangan merespons. Ketika keterbukaan disambut empati dan perhatian, rasa percaya serta kedekatan akan semakin kuat.

Sebaliknya, terlalu sering menutup diri atau menyimpan hal-hal penting seorang diri dapat membuat pasangan perlahan berjarak.

Latih Empati Sehari-Hari

Keterbukaan perlu diikuti kemampuan memahami perasaan dan sudut pandang pasangan. Di sinilah empati berperan.

Dalam hubungan, pasangan sebaiknya terbiasa saling memberi dukungan, mengakui kesalahan dan meminta maaf ketika keliru, serta berusaha memahami sudut pandang satu sama lain meski berbeda pendapat.

Hubungan yang sehat juga tidak menempatkan salah satu pihak sebagai sosok yang selalu lebih tinggi. Kedua pasangan perlu saling menghargai dan diperlakukan setara.

Rawat Kasih Sayang dan Keintiman

Kedekatan dalam hubungan tidak hanya dibangun melalui percakapan. Kasih sayang dan keintiman fisik juga membantu pasangan mempertahankan rasa terhubung.

Feuerman menyebut sentuhan dan kasih sayang sebagai bagian dari hubungan romantis. Namun, kedekatan fisik perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing dan memberi rasa nyaman bagi kedua pihak tanpa tekanan.

Hal tersebut sebaiknya berjalan beriringan dengan kedekatan emosional. Berbagi perasaan, saling memahami, memberikan apresiasi, dan menunjukkan kepedulian adalah kebiasaan sederhana yang membantu pasangan tetap merasa dekat, bahkan ketika usia bertambah.

Rekomendasi