Demo Gen Z di Jerman Berujung Ricuh, 100 Polisi Terluka

Demo besar di Jerman berakhir ricuh di beberapa kota. Di Frankfurt, lebih dari 100 polisi terluka dan puluhan orang ditahan. Ini penjelasan otoritas.

Khairisa Ferida
Oleh Khairisa Ferida- Reporter
Demo Gen Z di Jerman Berujung Ricuh, 100 Polisi Terluka
Sejumlah demonstran mengikuti aksi protes bertajuk "Gen Z Takes Care of It" (Gen Z yang Akan Mengurusnya) di Berlin, Jerman, Sabtu (31/10/2026). (Dok. AP Photo/Ebrahim Noroozi)

Lebih dari 100.000 orang turun ke jalan di berbagai wilayah Jerman pada Sabtu (31/10). Pada malam hari, sejumlah kota dilanda kerusuhan; di Frankfurt, lebih dari 100 polisi terluka akibat serangan terhadap petugas dan aksi penjarahan, menurut Associated Press.

Mayoritas peserta demonstrasi adalah anak muda yang menuntut pemerintah menambah anggaran untuk pendidikan, perumahan, dan perlindungan iklim. Mereka juga mendesak langkah konkret agar biaya hidup sehari-hari lebih terjangkau. Meski sebagian besar aksi berlangsung damai, ketegangan meningkat pada malam hari.

Di Frankfurt, polisi menahan 54 orang berusia 13 hingga 29 tahun setelah kerusuhan meletus di pusat kota. Belum ada data resmi mengenai jumlah demonstran yang terluka. Kepolisian menyebut 17 toko mengalami kerusakan, dan lima di antaranya dijarah. Situasi berangsur tenang pada Minggu (1/11) dini hari setelah akses ke sebuah kawasan di pusat kota ditutup.

Kepala pemerintahan Negara Bagian Hessen, Boris Rhein, mengecam aksi kekerasan tersebut. "Saya terkejut dengan tindakan kekerasan yang terjadi di Frankfurt. Para pelakunya tidak akan dibiarkan lolos dari hukuman," kata Boris Rhein.

Ia menambahkan, "Siapa pun yang bertindak seperti para penyerang di pusat kota Frankfurt telah menempatkan dirinya di luar masyarakat kita."

Kerusuhan juga terjadi di Cologne pada Sabtu malam, ketika polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan massa. Di Berlin, sejumlah demonstran melempari polisi dengan botol dan benda-benda piroteknik seperti kembang api.

Penyelenggara demonstrasi, kelompok gerakan anak muda "Gen Z regelt" (secara bebas diartikan sebagai "Gen Z Bisa Mengatasinya"), mengunggah pernyataan di Instagram yang menegaskan penolakan terhadap kekerasan, termasuk dari pihak-pihak yang tidak terkait dengan aksi tersebut. Kelompok itu menyatakan menolak "segala bentuk kekerasan, termasuk tindakan kekerasan oleh kelompok atau individu lain" yang tidak menjadi bagian dari demonstrasi.

Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt menuding kelompok sayap kiri dan para pembuat onar dari komunitas imigran telah membajak demonstrasi yang semula damai. "Para perusuh dan penjarah akan diidentifikasi dan dimintai pertanggungjawaban," kata Dobrindt kepada surat kabar harian Bild pada Minggu.

Di Tengah Aksi Gen Z di Jerman, Ketegangan di Prancis Mereda

Gerakan yang terinspirasi oleh aksi anak muda juga menyebar di berbagai wilayah Eropa pada Sabtu. Ratusan ribu orang mengikuti demonstrasi yang umumnya berlangsung damai, meski kerusuhan sempat terjadi di sejumlah lokasi.

Di Prancis, pemerintah menyatakan lega pada Minggu karena demonstrasi besar memprotes kenaikan biaya hidup berlangsung dengan tingkat kekerasan yang lebih rendah dibandingkan akhir pekan sebelumnya.

Namun, kepolisian memperkirakan aksi akan kembali marak ketika sekolah menengah atas dibuka pada Senin setelah libur musim gugur. Pelajar sekolah menengah selama ini berperan penting dalam gerakan tersebut.

Di Paris, sekelompok perusuh menyerang polisi dengan bom molotov menjelang berakhirnya demonstrasi di kawasan timur kota pada Sabtu. Serangan itu menyebabkan tiga petugas terluka dan sebuah mobil terbakar.

Pada lokasi lain di Paris, kelompok bertopeng menembakkan kembang api ke arah polisi di sebuah titik pandang yang berhadapan dengan Menara Eiffel. Polisi beberapa kali maju untuk memukul mundur kelompok itu, memicu kepanikan dan membuat pengunjung berlarian meninggalkan area.

Kekerasan kali ini masih di bawah level pada 17 Oktober, saat sebuah balai kota dibakar dan lebih dari 2.000 toko dijarah selama berjam-jam, ketika otoritas dinilai tidak siap. Tingkat kekerasan pada Sabtu juga lebih rendah dibandingkan demonstrasi lanjutan pada 24 Oktober.

Polisi menangkap 779 orang pada Sabtu, turun dari 2.628 orang pada 17 Oktober dan 1.314 orang pada akhir pekan sebelumnya. Kepolisian Paris dan Marseille melaporkan hanya sejumlah kecil toko yang menjadi sasaran, tanpa kerusakan besar. Sekitar 70.000 personel polisi dikerahkan di seluruh Prancis.

Kepada Associated Press, para demonstran menyampaikan keluhan soal kondisi sehari-hari, mulai dari tikus di ruang kelas, pekerjaan berupah rendah, hingga kesulitan membeli bahan bakar untuk kendaraan.

Polisi kini bersiap menghadapi potensi peningkatan ketegangan ketika sekolah kembali dibuka pada Senin. Sejumlah kelompok telah menyerukan aksi pemblokiran akses.

Pemogokan umum dijadwalkan pada Kamis, meliputi sektor transportasi kereta api dan layanan publik. Pada hari yang sama, pelajar dan serikat pekerja berencana menggelar demonstrasi untuk menuntut kenaikan upah serta kebijakan lain.

Seorang pejabat yang dekat dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron menggambarkan aksi pada Sabtu sebagai "kembalinya ketertiban sesuai prinsip-prinsip republik", namun mengakui situasinya "belum sempurna". Pemerintah saat ini memusatkan perhatian pada aksi yang direncanakan Kamis dan melakukan perundingan dengan serikat pekerja. Pejabat tersebut berbicara tanpa disebutkan namanya karena sesuai kebijakan kepresidenan, ia tidak berwenang memberikan pernyataan dengan identitas terbuka.

Portugal Bubarkan Tenda Aksi Pro-Perumahan di Lisbon

Di Portugal, polisi antihuru-hara membubarkan paksa para demonstran yang bertahan di sebuah alun-alun di Lisbon pada Minggu dini hari, usai aksi menuntut biaya perumahan yang lebih terjangkau.

Ribuan orang sebelumnya menggelar demonstrasi dengan berjalan kaki melintasi kota pada siang hari. Setelah aksi berakhir, beberapa ratus orang bertahan dan mendirikan tenda di Rossio, alun-alun terkenal di pusat kota Lisbon.

Polisi kemudian membongkar tenda-tenda dan memaksa para demonstran meninggalkan kawasan tersebut. Sejumlah orang ditahan.

Aksi protes terkait biaya hidup, terutama tingginya biaya perumahan, telah berlangsung selama beberapa pekan di Portugal. Gerakan ini terinspirasi oleh aksi serupa di Spanyol.

Rekomendasi