Tikar Kecil dan Perjuangan Wati Mengais Rupiah

Di balik barisan massa dan kepulan gas air mata, ada perjuangan Ibu Wati yang menembus perjalanan jauh dari Bogor ke Jakarta dengan KRL.

Auria Setiarum Cahayani
Tikar Kecil dan Perjuangan Wati Mengais Rupiah
Wati, pedagang minuman dan makanan siap seduh dalam aksi massa di Monumen Nasional, Rabu (28/10).

Pagi bagi sebagian masyarakat kecil bukan hanya tentang memulai aktivitas, tetapi juga tentang mencari penghasilan demi menyambung hidup.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil, mereka yang mengandalkan upah harian harus menghadapi ketidakpastian. Ada penghasilan jika bekerja, tetapi kebutuhan hidup terus berjalan setiap hari.

Rp 100 ribu mungkin bukan angka yang besar bagi sebagian orang. Namun, bagi Wati, jumlah tersebut merupakan hasil dari perjuangan panjang setiap harinya.

Dia harus menjajakan minuman dan makanan siap seduh, sekaligus menempuh perjalanan dari Bogor ke Jakarta menggunakan KRL seorang diri. Semua itu dilakukan demi menyambung hidup.

"Dari Bogor naik kereta pukul 10.00-an. Pagi tadi masak dulu, nyuci dulu. Ini enggak pulang sih, soalnya besok kan hari Kamis ada Pasar Tasik, sekalian menginap," tutur Wati saat ditemui di lokasi aksi mahasiswa memperingati Hari Sumpah Pemuda pada Rabu (28/10) di kawasan Monas, Jakarta.

Wati sudah berjualan sejak puluhan tahun lalu di Pasar Tanah Abang. Namun, kondisi pasar yang kian sepi membuatnya harus memutar otak dan tak lagi bisa menggantungkan hidup pada satu tempat saja.

Dia memilih jemput bola ke lokasi potensial dan seasonal, seperti aksi demo pada Rabu (28/10) di Monumen Nasional, Jakarta. Bagi Wati, hasil jualannya saat ini murni untuk memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari tanpa bisa disisihkan untuk menabung.

Wati kini menjadi satu-satunya penopang ekonomi keluarga. Suaminya yang sebelumnya bekerja di proyek mengalami cedera tangan sehingga tak lagi bisa bekerja.

Di tengah aksi massa kali ini, Wati menggelar tikar dan menyusun barang dagangannya, berharap ada aparat maupun warga yang mampir membeli. Dia tak ambil pusing dengan riuhnya tuntutan demo, baginya yang utama adalah mengais rezeki halal agar dapur rumah tetap mengepul.

"Kalau saya yang penting dagang, nyari duit, dan pulang bawa uang dengan aman," tutup Wati.

 

Rekomendasi