Keranjang Buah dan Perjuangan Pak Daang Demi Dapur Tetap Mengepul

Kisah Pak Daang (62), pedagang buah pikul yang menggantungkan rezeki harian pada barisan aparat di tengah aksi demo Jakarta. Menembus jarak dari Pasar Rebo hingga Monas, bahunya menjadi saksi bisu perjuangan menyambung hidup sejak tahun 1982

Auria Setiarum Cahayani
Keranjang Buah dan Perjuangan Pak Daang Demi Dapur Tetap Mengepul
Daang (62), pria asal Pemalang yang merantau di Jakarta sejak 1982. Ia meniti rezeki dari zaman jualan minyak tanah Rp50/liter hingga kini memikul keranjang buah di tengah kepungan aksi demo.

Masa-masa pensiun tidak berlaku bagi kaum marjinal yang masih butuh uang untuk membeli kebutuhan makan keseharian. Umur hanyalah sebuah angka jikalau hidup memaksa untuk terus berada dalam mode bertahan setiap waktunya.

Daang (62), pria asal Pemalang yang merantau di Jakarta sejak 1982. Dia meniti rezeki dari zaman jualan minyak tanah Rp 50 per liter hingga kini memikul keranjang buah di tengah kepungan aksi demo memperingati Hari Sumpah Pemuda di kawasan Monas, Jakarta, Rabu (28/10).

Perjuangan fisiknya dimulai bangun sebelum matahari terbit, mengambil buah ke Pasar Rebo, lalu memikul keranjang dan berjalan kaki menyusuri kawasan Monas, Lapangan Banteng, hingga Bundaran HI. Di tengah riuhnya aksi massa, ia mengaku pendapatannya sangat bergantung pada para petugas keamanan yang berjaga di lapangan.

"Tadi berangkat ke Pasar Rebo jam 5 pagi ambil dagangan. Nyampe sini jam setengah 11-an... Nanti pulangnya naik TransJakarta kalau sudah capek banget, kadang jam 10 atau 11 malam baru pulang,” jelas Daang dalam suasana aksi massa di Monumen Nasional, Jakarta, Rabu (28/10).

Ketangguhan Daang soal fisik dan mental tak lekang oleh waktu dan perubahan zaman. Pengalaman puluhan tahun membuatnya punya naluri dan strategi tajam dalam membaca situasi jalanan, terutama saat aksi massa berlangsung.

"Kalau mau ada rusuh kan udah kelihatan ciri-cirinya... Kalau situasi mulai enggak tenang, kita langsung minggir dulu, merapat ke tempat anggota (aparat) biar aman,” ujar Daang.

Rasa pegal di bahu menjadi saksi bisu perjuangannya menyusuri jalanan sejak tahun 1982. Pegal itu baru terasa 'ringan' saat potongan buahnya habis diborong oleh aparat keamanan di lokasi demo.

"Alhamdulillah... kalau enggak laku-laku ya berasa berat (di bahu), tapi kalau laku mah enteng," tutur Daang.

Daang juga menyebut penghasilannya tak menentu. Potongan modal untuk distributor buah sering kali memangkas keuntungan bersih yang harusnya setimpal dengan kerja keras bahunya.

"Penghasilan enggak tentu. Kadang dapet Rp 200 ribu, Rp 300 ribu, kadang Rp500 ribu. Tapi itu kan belum bersih, masih dipotong modal buat distributornya,” tutup Daang.

Di usia 62 tahun, bahu Pak Daang mungkin kerap pegal memikul beban buah yang tak selalu habis terjual. Namun, rasa lelah itu seketika menguap berganti ringan saat kepingan rupiah terkumpul di genggaman. Bagi seorang perantau senior, derap langkah kaki di jalanan Jakarta bukan lagi soal mengejar kekayaan, melainkan tentang menjaga martabat dan tanggung jawab keluarga agar tetap berdiri tegak.

Rekomendasi