BPS Catat Oli Mesin Ikut Dorong Inflasi Oktober 2026

BPS menyebut Oli Mesin ikut mendorong inflasi Oktober 2026. Transportasi tumbuh 4,87% (yoy) dengan andil 0,59%. Simak rincian kelompok dan komoditas pemicunya.

Immanuel Christian
Oleh Immanuel Christian- Reporter
BPS Catat Oli Mesin Ikut Dorong Inflasi Oktober 2026
Pengisian oli mesin Motul Scooter Power 5W-40 untuk skutik 250cc. (ist)

Pelumas atau oli mesin tercatat ikut mendorong inflasi Indonesia pada Oktober 2026 menurut Badan Pusat Statistik (BPS). Komoditas ini masuk ke jajaran pendorong inflasi pada kelompok transportasi secara tahunan yang mencatat inflasi 4,87% dengan andil 0,59%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut dorongan kelompok transportasi tidak hanya datang dari oli mesin, tetapi juga bensin, tarif angkutan udara, sepeda motor, dan biaya pemeliharaan kendaraan.

"Inflasi pada kelompok transportasi terutama didorong oleh bensin, tarif angkutan udara, pelumas atau oli mesin, sepeda motor dan juga pemeliharaan atau servis serta mobil," ujar Ateng Hartono.

Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers rilis BPS di Kantor BPS, Senin (2/11/2026).

Selain transportasi, BPS mencatat kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi 4,52% (year on year) dengan andil 0,32%, dengan emas perhiasan sebagai salah satu pendorong utama kenaikan harga.

Ateng juga menyebut pelumas atau oli mesin sebagai komoditas yang menyumbang inflasi pada komponen inti secara tahunan. Komponen inti mengalami inflasi 2,56% dengan andil 1,64% terhadap inflasi nasional.

"Adapun komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yaitu emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, laptop, notebook, dan juga pelumas atau oli mesin," kata Ateng Hartono.

Inflasi Oktober 2026: Rincian Kelompok dan Andil, Termasuk Oli Mesin

Pada Oktober 2026, inflasi bulanan (month to month) tercatat 0,22%. Kenaikan ini mendorong Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 112,31 pada September 2026 menjadi 112,56 pada Oktober 2026. Secara tahunan (year on year), inflasi mencapai 3,23%, sementara inflasi tahun kalender (year to date) sebesar 2,40%.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,15% dan mencatat inflasi 0,51%.

"Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini terutama cabai merah dengan andil inflasi sebesar 0,13%, berikutnya cabai rawit sebesar 0,05%, serta tomat sebesar 0,04%," ujar Ateng Hartono.

Berdasarkan komponennya, harga bergejolak (volatile food) naik 0,77% dengan andil 0,13%. Komponen inti meningkat 0,12% dengan andil 0,07%. Adapun harga yang diatur pemerintah naik 0,09% dengan andil 0,02%, terutama karena kenaikan tarif angkutan udara.

"Inflasi Oktober 2026 yang sudah saya sebutkan yaitu sebesar 0,22% utamanya didorong oleh inflasi kelompok bergejolak," kata Ateng Hartono.

Secara tahunan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 4,82% dengan andil terbesar 1,40%. Komoditas penyumbang di antaranya cabai rawit, ikan segar, beras, minyak goreng, daging ayam ras, sigaret kretek mesin (SKM), dan daging sapi.

Rekomendasi