Oleh: Ahmad Mikail Zaini I Ekonom Sucor Sekuritas
Pekan ini Badan Pusat Statistik akan mengumumkan pertumbuhan ekonomi triwulan III-2026. Saya memperkirakan angkanya sekitar 5,35% secara tahunan, lebih tinggi dari 5,29% pada triwulan II. Angka itu hampir pasti memancing perdebatan.
Alasannya mudah dipahami. Beberapa bulan terakhir ruang publik dipenuhi kabar muram: indeks saham terkoreksi tajam, rupiah tertekan, Bank Indonesia menaikkan suku bunga, dan keluhan soal daya beli ramai di media sosial. Dalam suasana seperti itu, kabar bahwa ekonomi justru tumbuh lebih cepat terdengar janggal. Apalagi triwulan III biasanya dianggap 'musim sepi' setelah puncak belanja Lebaran.
Namun opini publik dan aktivitas ekonomi tidak selalu bergerak searah. Persepsi dibentuk oleh berita harga saham dan kurs yang bergerak setiap menit. Produk domestik bruto dibentuk oleh jutaan transaksi riil: orang membeli mobil, bepergian, berbelanja, dan perusahaan membangun pabrik. Jika kita membaca data transaksi itu, gambaran triwulan III jauh dari lesu.
Advertisement
Konsumsi yang Bangkit
Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia memberi petunjuk paling jelas. Pada triwulan II, Indeks Penjualan Riil terkontraksi: minus 11,6% pada April, minus 3,9% pada Mei, dan minus 3,0% pada Juni. Memasuki triwulan III, arahnya berbalik positif: tumbuh 1,1% pada Juli dan 1,3% pada Agustus, dan diprakirakan 1,4% pada September. Peralihan dari kontraksi ke ekspansi ini bukan detail kecil. Ini sinyal bahwa belanja rumah tangga, sekitar separuh perekonomian, kembali menguat.
Data lain mengonfirmasi arah yang sama. Penjualan mobil triwulan III melonjak 31,25% secara wholesale dan 25,36% secara ritel. Penjualan sepeda motor tumbuh 8,92%. Pembelian kendaraan adalah keputusan belanja besar; rumah tangga yang benar-benar kehilangan daya beli tidak membeli mobil.
Cara orang berbelanja juga berubah, dan perubahan itu tercatat. Belanja dengan uang elektronik pada Juli–Agustus mencapai Rp226,5 triliun, naik 30,3% dibanding tahun lalu. Transaksi QRIS tumbuh 75,8%. Mandiri Spending Index mencatat belanja masyarakat triwulan III tumbuh 6,0%, lebih tinggi dari 4,3% setahun sebelumnya. Sebagian keluhan soal "pasar sepi" barangkali berasal dari toko yang belum ikut pergeseran ke kanal digital, bukan dari konsumen yang berhenti berbelanja.
Mobilitas pun tumbuh. Perjalanan wisatawan nusantara naik 9,28% pada Juli–Agustus, dan kunjungan wisatawan mancanegara naik 4,63% menjadi 3,12 juta. Penumpang angkutan penyeberangan naik 11,69%, angkutan laut 8,07%, dan kereta 4,97%. Libur sekolah dan diskon transportasi dari pemerintah ikut membantu.
Advertisement
Investasi Sebagai Motor
Meski konsumsi membaik, motor utama triwulan III saya perkirakan adalah pembentukan modal tetap bruto (PMTB). Petunjuknya ada di kredit perbankan. Kredit investasi tumbuh 23,2% dan kredit modal kerja 11,89%, jauh di atas kredit konsumsi yang hanya 4,86%. Kredit investasi lazim dibaca sebagai indikator keyakinan pelaku usaha terhadap prospek ke depan.
Keyakinan itu tercermin di sisi riil. Realisasi investasi triwulan III mencapai Rp528,7 triliun, tumbuh 7,58%, dengan penanaman modal asing melonjak 27,4%. Impor barang modal pada Juli–Agustus naik 14,2% dan impor bahan baku 27,5%. Indeks manufaktur BI (Prompt Manufacturing Index) naik ke 52,28 dari 51,43 pada triwulan sebelumnya. Belanja pemerintah untuk konstruksi juga tumbuh 63,65%. Pabrik tidak mengimpor mesin dan bahan baku sebanyak itu jika tidak berencana berproduksi lebih banyak.
Advertisement
Mengapa Angkanya Bisa Tinggi
Ada dua penjelasan teknis yang perlu dipahami publik. Pertama, efek basis. Pertumbuhan triwulan III-2025 hanya 5,04%, sehingga perbandingan tahunan tahun ini dimulai dari titik yang rendah. Kedua, inflasi terjaga di 3,28% pada September, masih dalam sasaran 2,5±1%. Daya beli riil tidak tergerus seperti yang dikhawatirkan.
Apakah semua baik-baik saja? Tidak. Surplus perdagangan menyempit karena impor tumbuh lebih cepat dari ekspor. Gejolak pasar modal dan tekanan rupiah adalah risiko nyata bagi triwulan IV. Pertumbuhan kredit yang jauh melampaui dana pihak ketiga juga membuat likuiditas bank perlu dijaga.
Tetapi risiko ke depan berbeda dengan kinerja yang sudah terjadi. Menolak angka pertumbuhan hanya karena tidak sesuai suasana hati publik sama kelirunya dengan menutup mata terhadap risiko. Perdebatan yang sehat dimulai dari data yang sama di atas meja.
Ketika BPS merilis angkanya nanti, saya berharap diskusi tidak berhenti pada pertanyaan "benarkah ekonomi tumbuh setinggi itu". Pertanyaan yang lebih berguna: bagaimana menjaga momentum investasi dan konsumsi ini agar tidak patah di tengah gejolak pasar. Itu pekerjaan rumah bersama pemerintah, otoritas moneter, dan dunia usaha.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9388519/original/032522500_1793620051-WhatsApp_Image_2026-11-02_at_18.42.44.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5282297/original/078996200_1752471399-WhatsApp_Image_2025-07-14_at_10.50.41.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5285072/original/058563200_1752656425-Depositphotos_806837076_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9388350/original/005777900_1793609952-WhatsApp_Image_2026-11-02_at_09.57.521.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5088016/original/044652300_1736442219-Stok_Pupuk_Bersubsidi_di_Gudang_Petrokimia_Gresik.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3532280/original/085965300_1628161371-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-1.jpg)