Korban PHK Pabrik Sepatu yang Mengadu Nasib Jadi Sopir Bajaj di Ibu Kota

Berawal dari korban PHK di kampung halaman, Yanto mengadu nasib di atas mesin roda tiga ibu kota. Meski bajaj kian tergerus zaman dan terhimpit biaya pangkalan, ia tetap memutar kemudi demi asap dapur keluarga.

Auria Setiarum Cahayani
Korban PHK Pabrik Sepatu yang Mengadu Nasib Jadi Sopir Bajaj di Ibu Kota
Bajaj biru yang dikemudikan Yanto, supir asal Tegal yang mengais rezeki di tengah aksi massa di Monumen Nasional pada Rabu (28/10).

Bertahan hidup di kota metropolitan bukanlah hal yang mudah, apalagi datang sebagai perantau yang awalnya merasa asing dengan ritme dan tatanan jalanan ibu kota.

Namun, rasa gentar itu tak menyurutkan langkah Yanto, seorang sopir bajaj yang mengarungi aspal Jakarta sejak puluhan tahun lalu. Berasal dari Tegal, Jawa Tengah, ia dulunya adalah buruh pabrik sepatu bagian pengiriman yang terpaksa gulung tikar akibat gelombang PHK di tengah krisis ekonomi. Keputusannya menyeberang ke Jakarta bermula dari ajakan seorang kawan untuk mengadu nasib di atas roda tiga.

"Awalnya saya kerja di pabrik sepatu bagian pengiriman di Tegal. Karena ekonomi kacau terus ada pengurangan karyawan (PHK), teman ngajak ke Jakarta, 'Narik bajaj aja yuk', ya udah berangkat," ujar Yanto ditemui di kawasan Monumen Nasional, belum lama ini.

Rasa asing di perantauan tak lagi jadi penghalang bagi Yanto. Demi mengumpulkan pundi-pundi rupiah agar anak dan istrinya di kampung halaman tetap bisa makan layak, ia rela menahan lelah dan hidup hemat dengan mengontrak petakan murah di kawasan Pulogadung.

Bertahan di Roda Tiga yang Kian Suram Tergerus Zaman

Bajaj Jakarta
Bajaj yang mengantar reporter merdeka.com dari arah Monas hingga Bundaran HI.

Yanto tak menampik keluh kesahnya tentang armada bajaj yang kian hari semakin terdesak oleh modernisasi transportasi umum dan maraknya ojek online berbasis aplikasi.

Kehadiran layanan transportasi digital sejak beberapa tahun terakhir menjadi hantaman keras bagi pendapatan harian sopir bajaj konvensional seperti dirinya.

“Bajaj ke depannya suram. Sekarang kan udah ada ojol, aplikasi, terus ada JakLingko gratis, tapi ya disyukuri aja,” ucap Yanto legowo.

Tak hanya berhadapan dengan sepinya penumpang, Yanto juga harus menyisihkan uang pangkalan sebesar Rp25.000 setiap harinya. Potongan ini menjadi "biaya jaminan" wajib agar ia bisa mengetem dan mencari penumpang dengan tenang tanpa intimidasi di sekitar area Monas.

"Setiap hari bayar pangkalan Rp25.000 biar aman nariknya. Ya mau gimana, kita kan nyari aman, yang penting bisa mangkal. Kalau setoran bajaynya sendiri Rp50.000 sehari," jelas Yanto.

Bajaj biru yang dikemudikan Yanto bukanlah milik pribadi, melainkan armada setoran. Di balik kebisingan mesin roda tiga yang kian asing di era modern, Yanto terus memutar kemudinya membuktikan bahwa tumpuan rezeki rakyat kecil akan selalu menemukan jalannya di setiap sudut ibu kota.

Rekomendasi