Perjuangan Cari Kerja: Diintai Loker Abal-Abal dan Syarat Usia

Kisah Reza dan Didah memotret rumitnya berburu kerja: dari ancaman loker abal-abal, syarat batas usia, hingga pengorbanan tanpa panggilan.

Febika Indriyani
Oleh Febika Indriyani- Reporter
Perjuangan Cari Kerja: Diintai Loker Abal-Abal dan Syarat Usia
Reza (28) Memilih merawat ibunya sebelum fokus bekerja.

Perjalanan berburu kerja tak selalu mulus sesuai skenario. Bagi Reza (28), lulusan D3 Universitas Bina Sarana Informatika, ada panggilan bakti pada keluarga yang harus ia dahulukan. Sebelum kembali menatap dunia kerja, Reza memilih menepi sejenak demi merawat sang ibu yang terbaring sakit.

Kini, setelah situasi berangsur membaik, Reza kembali mengencangkan sabuk untuk menata kariernya. Ia menyambangi arena Karier Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026 di SMESCO, Jakarta Selatan, demi berburu peluang baru.

Reza sebelumnya sempat mencicipi pengalaman sebagai tenaga penjualan (sales) produk Food & Beverage (F&B) UMKM. Namun, masa magang itu terpaksa ia akhiri karena tingkat pendapatan yang dirasa belum sepadan dengan beban kerja. Pengalaman tersebut membuatnya kini lebih cermat dalam memilih tempat berlabuh.

Jebakan Loker Abal-Abal dan Syarat Usia

Job Fair, Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026 di SMESCO, Jakarta Selatan, (23/10).
Job Fair, Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026 di SMESCO, Jakarta Selatan, (23/10).

Proses pencarian kerja juga membuka mata Reza soal maraknya tawaran kerja janggal. Ia mengaku kerap menemui lowongan yang mengatasnamakan posisi administrasi, tetapi saat sesi wawancara justru berbelok menjadi tuntutan mencari nasabah atau investor beresiko dengan skema komisi murni.

Tak berhenti di situ, ia bahkan pernah dimintai uang muka hingga jutaan rupiah dengan iming-iming jaminan langsung diterima kerja. Reza tegas menolak.

“Kita ini kan mencari kerja untuk dapat gaji, bukan malah kita yang disuruh mengeluarkan uang duluan,” tegas Reza.

Selain maraknya indikasi penipuan, Reza menyayangkan kriteria lowongan kerja yang kerap tidak masuk akal—seperti mematok batas usia sangat rendah, tetapi menuntut pengalaman berderet. Padahal, menurutnya, rekam jejak dan keterampilan kandidatlah yang mestinya menjadi indikator utama.

 

Effort Berulang Tanpa Kepastian

Didah (26) pencari kerja di job fair Jakarta Selatan.
Didah (26) pencari kerja di job fair Jakarta Selatan.

Keluh kesah senada dirasakan Didah (26), sarjana S1 Manajemen Sumber Daya Manusia. Usai kontraknya sebagai staf administrasi di sebuah pondok pesantren tuntas pada Juni 2026, Didah harus menyusun strategi dari nol.

Jika dulu ia mendapat pekerjaan lewat jalur rekomendasi internal, kini Didah harus berjuang sendirian mengandalkan aplikasi pencarian kerja hingga rajin menyisir bursa kerja (job fair), termasuk hingga ke Serang, Banten.

Namun, pengorbanan waktu dan materi yang dikeluarkan belum membuahkan hasil. Panggilan wawancara tak kunjung menghampiri.

"Sudah capek-capek, sudah effort cetak berkas ini-itu. Tapi begitu dikumpulkan di sana, sama sekali tidak ada panggilan," ungkap Didah.

Pengalaman Reza dan Didah memotret realitas kelam yang harus dihadapi para pencari kerja usia produktif saat ini. Di antara tuntutan ekonomi keluarga, batasan usia, dan bayang-bayang lowongan abal-abal, para pencari kerja dituntut untuk tidak sekadar pantang menyerah, tetapi juga ekstra waspada.

Rekomendasi