Dulu, mencari pekerjaan terasa lebih mudah bagi Desi Sulasmi Bahri (55). Kini, setelah puluhan tahun berlalu, dia justru mendatangi bursa kerja untuk membantu kedua anaknya menemukan pekerjaan di tengah persaingan yang dirasakannya semakin ketat.
Desi datang ke Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo 2026 di SMESCO, Jakarta Selatan, pada Jumat (23/10). Bukan untuk mencari pekerjaan bagi dirinya sendiri, dia hadir untuk mendukung kedua anaknya yang tengah mencari peluang kerja.
Anak pertamanya yang berusia 30 tahun merupakan lulusan S1 Ekonomi Pembangunan. Setelah kontrak kerjanya berakhir sekitar enam bulan lalu, dia kembali harus mencari pekerjaan.
Sementara itu, anak keduanya yang berusia 26 tahun merupakan lulusan sarjana Pendidikan Ekonomi. Dia juga tengah mencari pekerjaan setelah sempat bekerja di sektor ritel dalam waktu singkat.
Situasi tersebut membuat Desi ikut memikirkan langkah yang bisa ditempuh kedua anaknya. Dia juga kedua anaknya mendatangi bursa kerja agar dapat melihat langsung lowongan yang tersedia dan menemukan peluang yang sesuai.
“Dulu bunda begini, ikut ke peluang-peluang usaha yang seperti ini,” kata Desi saat ditemui merdeka.com di SMESCO, Jakarta Selatan, pada Jumat (23/10).
Desi mengenang pengalamannya ketika mulai bekerja setelah menyelesaikan pendidikan. Dia mengaku tidak mengalami kesulitan berarti saat melamar pekerjaan di sebuah bank asing. Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan dirinya terus mendorong kedua anaknya untuk mencari peluang melalui berbagai jalur.
Namun, menurut Desi, kondisi saat ini berbeda. Banyaknya pencari kerja membuat persaingan semakin ketat, bahkan bagi kandidat yang memiliki pendidikan dan keterampilan yang dinilai memadai.
Anak pertamanya, misalnya, memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik dengan nilai TOEFL mendekati 600. Dia juga pernah bekerja di perusahaan asing dengan sistem kerja jarak jauh yang melibatkan koordinasi lintas negara, termasuk dengan pihak di Jerman dan Dubai.
Meski memiliki pengalaman tersebut, anaknya tetap menghadapi tantangan setelah kontrak kerja berakhir. Kini, dia ingin memperoleh pekerjaan di Jakarta agar bisa lebih dekat dengan lingkungan sosialnya sekaligus membangun karier di perusahaan yang memiliki kehadiran langsung di Indonesia.
“Karena saingannya banyak. Padahal jurusan bagus, pengalaman punya. Anak saya yang besar, yang 30 tahun itu, dia punya skill bahasa Inggris bagus, bahkan TOEFL-nya hampir 600. Tapi kenapa sampai sekarang kayak susah?” ujar Desi.
Advertisement
Support Anak
Dia juga bercerita bahwa anak pertamanya pernah mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil (CPNS) sebanyak dua kali. Menurut penuturan Desi, anaknya memperoleh nilai yang dinilainya tinggi, tetapi belum berhasil lolos. Pengalaman tersebut turut membuat anaknya mempertanyakan peluang yang tersedia bagi pencari kerja.
Desi menyebut anaknya sempat merasa proses mencari kerja tidak mudah ketika tidak memiliki koneksi pribadi. Meski demikian, dia tetap mendorong kedua anaknya untuk berusaha melalui jalur terbuka dan mencari kesempatan berdasarkan kemampuan masing-masing.
Di tengah proses pencarian kerja tersebut, Desi berusaha hadir sebagai pendukung, bukan menambah tekanan bagi kedua anaknya. Dia mengaku tidak membanding-bandingkan mereka dengan orang lain dan memilih membagikan pengalaman sebagai bekal dalam menghadapi proses rekrutmen.
Menurutnya, kegagalan memperoleh pekerjaan tidak seharusnya membuat pencari kerja berhenti mencoba. Ia juga mengingatkan pentingnya memperluas relasi, menjaga hubungan baik dengan orang lain, serta terus berdoa dan mengevaluasi diri.
“Kasih support apa aja. Walaupun dia gagal, saya tetap kasih support,” tutur dia.
Desi menilai bursa kerja seperti Karir Jakarta dan Tenaga Kerja Mandiri Expo menjadi salah satu jalur yang dapat dimanfaatkan pencari kerja untuk bertemu perusahaan dan mengenali kebutuhan pasar. Dia berharap kegiatan serupa semakin banyak tersedia dan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan pekerjaan.
Lebih jauh, Desi berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap penyerapan tenaga kerja usia produktif, terutama mereka yang baru lulus sekolah atau perguruan tinggi, maupun pekerja yang kembali mencari pekerjaan setelah kontraknya berakhir.
“Pokoknya saya ingin usia-usia produktif Indonesia diisi oleh tenaga kerja yang produktif juga. Anak-anak muda jangan sampai ada yang nganggur. Itu adalah PR-nya buat pemerintah,” tandasnya.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9380835/original/085041100_1792740274-WhatsApp_Image_2026-10-23_at_13.35.48.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9380761/original/077360900_1792737563-WhatsApp_Image_2026-10-23_at_13.35.49.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9372077/original/030644000_1791867251-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_09.42.53.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9376198/original/070880000_1792312230-AP26290534189154.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9382079/original/004100000_1792939092-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_18.28.30.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1162899/original/058433200_1457317133-20160307-Mengunjungi-Kota-Hantu-Reaktor-Nuklir-Fukushima---AFP-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/663000/original/IMF-logo.jpg)