Merintis Mimpi dari Gerobak Cilok

Datang ke Job Fair bukan cuma buat melamar kerja biasa. Simak kisah polos 4 anak SMK 9 Jakarta yang berani merajut mimpi besar—dari ambisi kuliah hingga niat rintis bisnis gerobak cilok lewat tiktok!

Auria Setiarum Cahayani
Merintis Mimpi dari Gerobak Cilok
Mereka adalah siswa SMK 9 Jakarta jurusan Bisnis Ritel yang datang ke Jobfair, Pancoran, Jakarta (23/10).

 

Di antara deretan pelamar dewasa berwajah serius di arena job fair, segerombolan remaja berseragam tampak melempar tawa. Langkah mereka ringan, meski persiapan berkas di tangan baru rampung belasan persen.

Mereka adalah Ardian, Faris, Gofar, dan Billi, empat sejoli dari SMK 9 Jakarta jurusan Bisnis Ritel. Di usia yang masih sangat belia dan status sekolah yang belum genap lulus, keberanian mereka menjejakkan kaki di bursa kerja Ibu Kota menjadi bukti bahwa semangat tak perlu menunggu dewasa. Bagi mereka, job fair bukan cuma tempat berburu rupiah, melainkan panggung pertama untuk menguji mimpi-mimpi besar.

Kepolosan khas remaja begitu melengkapi langkah mereka. Namun, dibalik kepolosan tersebut ada ambisi berapi api akan jalan karier yang akan mereka tempuh masing-masing.

"Kalau ada rezeki, saya mau kuliah IT," celoteh Ardian polos saat ditemui Job Fair di Convention Hall SMESCO, Jakarta, Jumat (23/10).

Tak mau kalah, Faris memancarkan ambisi besarnya untuk mendalami Teknik Metalurgi. Sementara Gofar memilih jalan realistis dengan berniat mengambil kelas karyawan agar bisa mandiri membiayai hidup.

Namun, dari keempatnya, cerita Billi adalah yang paling meletup-letup. Di saat teman sebayanya sibuk memikirkan posisi kantor, ia justru memimpikan roda gerobak dan konten digital.

"Saya mau wirausaha jualan cilok dari gerobak dulu. Nanti kalau modalnya cukup, pelan-pelan buka outlet. Terus mau branding di TikTok, bikin konten," tutur Billi mantap.

 

Mimpi Tak Selalu Lahir dari Kerja Kantoran

Bagi Billi, memulai dari bawah bukanlah sebuah gengsi, melainkan proses belajar. Ia tak malu membayangkan dirinya memegang kemudi gerobak di tahap awal usahanya. Namun, pemikirannya tak berhenti di pinggir jalan. Sebagai generasi yang lahir di era digital, Billi paham betul kekuatan strategi pemasaran masa kini.

Meski persiapannya di bursa kerja diakui masih tahap awal, tekad yang memancar dari wajahnya menunjukkan kesiapan untuk bertarung di dunia nyata.

Kisah Billi adalah pengingat sederhana bahwa kesuksesan tak selalu berawal dari kursi kantoran ber-AC. Di tangan seorang anak SMK yang berani bermimpi, sebutir cilok dan sebuah akun TikTok bisa menjadi awal dari laboratorium wirausaha yang menjanjikan.

Rekomendasi