Fenomena Rumah Berhantu Bikin Properti Jepang Seret, Bisnis Investigasi Bermunculan

Di Jepang, rumah berhantu (jiko bukken) sulit laku. Pemilik menawarkan diskon besar hingga memakai jasa investigasi hantu dan ritual pembersihan.

Dreyandra Puteri Valzabilbina
Fenomena Rumah Berhantu Bikin Properti Jepang Seret, Bisnis Investigasi Bermunculan
Seorang wisatawan mengamati sebuah rumah kosong di Namie, Prefektur Fukushima, 11 Februari 2016. Lima tahun pasca bencana nuklir yang dipicu gempa dan tsunami Jepang, semakin banyak wisatawan yang bergabung dengan tur Fukushima (AFP PHOTO/Toru Yamanaka)

Kepercayaan terhadap hal mistis membuat sebagian properti di Jepang berlabel rumah berhantu dan sulit berpindah tangan. Hunian yang pernah menjadi lokasi bunuh diri, pembunuhan, kebakaran fatal, atau kematian tragis kerap ditolak calon penyewa maupun pembeli. Mengutip Deutsche Welle (DW), Minggu (25/10/2026), unit-unit seperti ini dikenal sebagai jiko bukken.

Salah satu contohnya adalah rumah dua lantai di pinggiran selatan Yokohama. Meski masih layak huni setelah renovasi, bangunan tersebut dibiarkan kosong setidaknya lima tahun karena sepi peminat.

Kazutoshi Kodama, Presiden Kachimode Co.—perusahaan yang menangani properti jiko bukken—menyebut faktor budaya sangat menentukan. "Orang Jepang terkadang menganggap kematian sebagai sesuatu yang tidak suci," kata Kodama kepada DW. Ia menambahkan, sebagian orang meyakini kedekatan dengan lokasi kematian membawa kesialan, sehingga enggan berkunjung apalagi menyewa atau membeli. Kondisi ini akhirnya menjadi beban finansial bagi pemilik.

Diskon Sewa Sampai 50% Tetap Sepi Peminat

Untuk menarik calon penghuni, pemilik kerap memangkas harga sewa. Menurut Kodama, di kota besar dengan permintaan tinggi, potongan sewa umumnya sekitar 30 persen, sementara di wilayah lain bisa mencapai 50 persen.

Namun strategi banting harga tidak selalu berhasil. Beberapa unit tetap kosong hingga 500 hari, bahkan ada yang melampaui 1.000 hari tanpa penghuni.

Dari sisi regulasi, penjual dan agen properti wajib mengungkapkan riwayat kelam bangunan kepada calon pembeli. Di sisi lain, situs pelacak jiko bukken yang kini mudah diakses publik membuat informasi tersebut kian transparan dan memengaruhi minat.

Situasi ini membuat investasi rumah murah berisiko tinggi. Joey Stockerman, pendiri platform agen rumah kosong AkiyaMart, menuturkan kisah seorang kenalannya yang membeli rumah di pinggiran Tokyo dengan harga di bawah USD 5.000, sekitar 5 persen dari harga normal.

Alih-alih segera menghasilkan, rumah itu justru menganggur selama dua tahun sebelum akhirnya mendapatkan penyewa.

Jasa Pemeriksaan Rumah Berhantu dan Ritual Pembersihan

Kondisi jiko bukken yang sulit laku memunculkan peluang bisnis baru. Kachimode meluncurkan layanan ghost investigation (investigasi hantu) pada Desember 2022 untuk membantu meyakinkan calon penyewa dan pembeli.

Secara teknis, tim investigator menginap semalam di lokasi mulai pukul 22.00 sampai 06.00. Mereka memasang kamera video dan perekam suara, serta mengukur gelombang elektromagnetik, suhu, kelembapan, tekanan udara, melakukan pemindaian termografi, dan memantau tingkat kebisingan.

Kodama menjelaskan tujuan pemeriksaan adalah memastikan rumah sudah direnovasi dengan baik dan melihat apakah fenomena yang dikhawatirkan penghuni muncul selama periode pengamatan.

Paket inspeksi semalam dipatok 88.000 yen (sekitar USD 560 atau Rp 10 juta). Hasil pengamatan dirangkum dalam laporan resmi sebagai bahan bukti tambahan bagi calon penyewa.

Kodama menegaskan layanan ini bukan pembuktian ilmiah atas keberadaan makhluk halus. Ia menyebut sebagian besar keanehan yang dilaporkan warga biasanya tidak terulang saat investigasi berlangsung.

Selain pemeriksaan tersebut, AkiyaMart juga menggandeng pendeta Shinto untuk menggelar ritual pembersihan rumah dari aura negatif. Menurut Stockerman, layanan ini mulai diminati pemilik properti.

Fenomena rumah angker ini muncul ketika jumlah rumah kosong (akiya) di Jepang meningkat. Data pemerintah per akhir 2024 mencatat sekitar 9 juta rumah kosong, setara 13,8 persen dari total hunian nasional. Selain penurunan populasi di wilayah pedesaan, kuatnya takhayul dan stigma masyarakat menjadi tantangan bagi pemilik yang ingin mencairkan asetnya.

Rekomendasi