Fenomena Ghosting di Dunia Kerja

Di balik keluhan minimnya panggilan kerja, fenomena ghosting pelamar saat tahap wawancara justru marak terjadi. Simak pengakuan jujur rekruter di bursa kerja Jakarta!

Auria Setiarum Cahayani
Fenomena Ghosting di Dunia Kerja
Suasana Job Fair Karir Jakarta (Foto: Winda Nelfira/Liputan6.com)

Di saat ribuan pencari kerja mengeluhkan minimnya panggilan kerja, keluhan yang sama datang dari sudut para rekruter. Pintu kesempatan yang sudah dibuka lebar-lebar sering kali ditinggalkan begitu saja tanpa kabar.

Pengalaman tak menyenangkan ini dibagikan oleh Adel, perwakilan rekruter dari JAC School saat ditemui di arena job fair Jakarta, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (23/10). Dia blak-blakan menyoroti pergeseran etika dan komitmen para pelamar kerja muda, khususnya generasi Gen Z, dalam lima tahun terakhir.

"Fenomena belakangan ini, teman-teman itu kalau sudah apply dan kita undang wawancara, kadang-kadang mereka enggak datang," ujar Adel.

Diberi Panggung, Malah 'Ghosting'

Perilaku menghilang tanpa jejak atau ghosting kini tak hanya terjadi di dunia percintaan, tetapi juga telah menjangkiti etika pencarian kerja. Menurut Adel, mentalitas pelamar muda zaman sekarang cenderung minim usaha (effort) saat dihadapkan pada tantangan proses seleksi.

Di lembaganya, posisi seperti guru preschool sebenarnya terbuka untuk semua jurusan. Pelamar hanya perlu melewati tahapan interview lalu tes micro-teaching, seperti kemampuan mendongeng (storytelling) dan interaksi hangat bersama anak-anak. Namun, tidak sedikit pelamar yang memilih mundur teratur begitu mengetahui adanya tahap uji kemampuan tersebut.

"Generasi sekarang, Gen Z, itu kurang effort sih. Dikasih tantangan dikit misal micro-teaching, malah mundur. Dikasih materi tes, banyak alasan enggak bisa datang. Akhirnya ya hilang begitu saja," tambah Adel.

Adel tak mengelak adanya perbedaan kontras antara etika pelamar era sebelumnya dengan generasi saat ini.

"Kalau zaman sebelumnya enggak ada yang kayak gitu. Kalau sudah janjian pagi pasti datang. Kalau pun berhalangan, mereka tinggal minta reschedule dan tetap hadir. Sekarang malah banyak yang memilih menghilang," ujar Adel.

Meski begitu, Adel memahami bahwa dinamika dan karakter generasi sebelumnya dengan Gen Z terdapat perbedaan. Namun ia berpesan, di tengah ketatnya persaingan pasar kerja, profesionalisme dan komitmen awal tetap menjadi kunci utama yang dinilai oleh perusahaan, jauh sebelum kualifikasi ijazah itu sendiri diperhitungkan.

Rekomendasi