Budayantara Fest 2026: Rajut Budaya Nusantara & Solidaritas Palestina

Budayantara Fest 2026 di Hutan Kota Srengseng padukan seni Betawi, pemberdayaan UMKM, dan aksi penanaman pohon solidaritas Indonesia-Palestina.

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra- Reporter
Budayantara Fest 2026: Rajut Budaya Nusantara & Solidaritas Palestina
Budayantara Fest 2026: Rajut Budaya Nusantara & Solidaritas Palestina

Kebudayaan bukan sekadar warisan yang dipertunjukkan, melainkan juga kekuatan untuk menyatukan masyarakat dan menumbuhkan solidaritas. Pesan inilah yang diusung dalam Budayantara Fest 2026. Acara yang digelar dalam rangka peringatan Milad ke-25 Ikatan Keluarga Besar Betawi (IKB) Jabodetabek sekaligus Milad ke-2 Budayantara ini berlangsung pada 24–25 Oktober 2026 di Hutan Kota Srengseng, Jakarta Barat.

Mengusung semangat “Dari Budaya untuk Kemanusiaan”, festival ini memadukan pertunjukan seni tradisional, kegiatan sosial, pemberdayaan UMKM, edukasi, serta gerakan solidaritas untuk Palestina. Salah satu agenda utamanya adalah penanaman pohon persahabatan Indonesia–Palestina sebagai simbol kepedulian, perdamaian, dan harapan bagi kemanusiaan.

Melalui festival ini, Budayantara ingin menunjukkan bahwa budaya mampu menjadi jembatan diplomasi yang melampaui batas geografis maupun perbedaan identitas. Kepedulian terhadap Palestina tak hanya disampaikan lewat pernyataan kata-kata, tetapi juga melalui aksi nyata yang menghubungkan seni, lingkungan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dua Hari Merayakan Budaya dan Kemanusiaan

Rangkaian kegiatan hari pertama, Sabtu (24/10/2026), dimulai pukul 07.00 WIB dengan pembacaan Maulid, penampilan hadroh, ceramah agama, serta santunan anak yatim.

Nuansa khas Betawi terasa kental lewat atraksi Palang Pintu dari Sanggar Sliwa Baba Gede dan arakan Ondel-Ondel dari Sanggar Rifki Albani. Usai seremoni pembukaan, agenda dilanjutkan dengan penanaman pohon solidaritas Indonesia–Palestina. Aksi ini dilakukan bersama Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Abdalfatah A.K. Alsattari, serta Staf Khusus Menteri Agama RI, Gugun Gumilar, MA, Ph.D.

Melalui kolaborasi seni, tradisi, dan aksi sosial ini, Budayantara Fest 2026 menegaskan peran penting kebudayaan dalam membangun kehidupan yang lebih peduli dan bermartabat.

Panggung budaya kemudian diramaikan oleh Tarian Betawi Sanggar Macan IKB, Topeng Blantek, Tarian Bujang Ganong Reog Ponorogo, penampilan Sanggar Butherumustra Absrud asal Sumedang, hingga atraksi Debus Macan IKB.Kemeriahan hari pertama ditutup dengan pertunjukan Orkes Melayu Amir Mas Habi.

Memasuki hari kedua, pengunjung dapat menikmati beragam agenda menarik mulai dari lomba mancing, pertunjukan Gambang Kromong Sanggar Betawi Kota Bambu, hingga aksi Nandak Silat. Penampilan Drama Srika Production Dance dan Band Betawi Sueb turut memeriahkan suasana hingga penutupan festival pada pukul 21.00 WIB.

Rangkaian sajian ini menjadi ruang perjumpaan harmonis antara budaya Betawi dan seni Nusantara, sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan tradisi kepada generasi muda.

Pesan Diplomasi Budaya dan Kemanusiaan

Inisiator Diplomasi Budaya dari Budayantara, Renee Partina, menyampaikan bahwa penanaman pohon persahabatan menjadi salah satu pesan utama festival ini. Pohon dipilih sebagai simbol kehidupan yang terus tumbuh, merawat masa depan, dan memberi manfaat bagi generasi mendatang.

"Dalam konteks diplomasi budaya, kegiatan ini membawa pesan bahwa persahabatan antarbangsa perlu dirawat melalui tindakan yang berkelanjutan. Kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap sesama yang sedang menghadapi konflik dan krisis kemanusiaan," jelas Renee.

Semangat tersebut sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal (humankind), yaitu penghormatan terhadap martabat manusia tanpa membedakan suku, agama, maupun latar belakang budaya.

Founder Budayantara, Masdjo Arifin, menambahkan bahwa identitas lokal justru bisa menjadi pijakan kuat untuk membangun persahabatan global.

"Budayantara Fest 2026 membawa semangat bahwa identitas lokal dapat menjadi pijakan untuk membangun persahabatan global. Budaya Betawi dan kekayaan Nusantara dipertemukan dengan pesan solidaritas kemanusiaan untuk memperluas ruang dialog dan kepedulian," tegas Masdjo.

Selain pertunjukan seni, festival ini juga menggandeng para pelaku UMKM dan berbagai komunitas lokal. Keterlibatan masyarakat secara aktif diharapkan dapat memperluas manfaat acara, baik dari segi pelestarian budaya, pemberdayaan ekonomi, maupun penguatan hubungan sosial.

Rekomendasi