Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan sektor jasa keuangan tetap stabil meski ketidakpastian geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter global masih berlanjut. OJK menilai ketahanan industri terjaga di tengah kondisi pasar keuangan yang volatil.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi menyebut indikator makro terkini memperlihatkan perekonomian domestik masih kuat dengan inflasi yang terjaga. Permintaan dalam negeri serta konsumsi rumah tangga dinilai menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Sejalan dengan itu, OECD menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 sebesar 0,5 persen. Menurut Friderica, revisi tersebut mencerminkan kepercayaan global terhadap daya tahan perekonomian Indonesia.
“Perkembangan positif tersebut didukung oleh sektor keuangan yang terus kontributif terhadap pertumbuhan serta stabilitas sektor keuangan yang tetap terjaga dengan fundamental industri jasa keuangan yang solid,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK di Jakarta, Senin (5/10/2026).
Advertisement
Pasar Modal Jasa Keuangan Tetap Tangguh
Sepanjang September 2026, pasar saham domestik bergerak dinamis seiring meningkatnya volatilitas pasar global akibat eskalasi tensi geopolitik dan kenaikan suku bunga dunia.
Di tengah dinamika tersebut, OJK menilai resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik tetap terjaga. Rata-rata bid-ask spread pasar saham berada di 1,20 persen, relatif stabil dibandingkan Agustus 2026 yang tercatat 1,17 persen.
Jumlah investor pasar modal melanjutkan tren kenaikan seiring penguatan ekosistem digital. Secara month-to-month (mtm), investor bertambah 1,03 juta pada September 2026, sehingga total investor mencapai 32,17 juta atau tumbuh 57,96 persen secara year-to-date (ytd).
Penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal juga tetap kuat. Nilai Penawaran Umum ytd tercatat Rp186,03 triliun. Selain itu, dalam pipeline terdapat 29 rencana Penawaran Umum dengan nilai indikatif Rp26,47 triliun.
Advertisement
Kredit Perbankan Naik 13,65 Persen pada Agustus
Di industri perbankan, pertumbuhan kredit pada Agustus 2026 meningkat menjadi 13,65 persen year-on-year (yoy), dari 13,58 persen yoy pada Juli 2026. Total kredit yang tersalurkan mencapai Rp9.178 triliun.
Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 25,11 persen yoy. Kredit modal kerja tumbuh 11,45 persen yoy, sedangkan kredit konsumsi naik 5,07 persen yoy.
Dilihat dari kategori debitur, kredit korporasi tumbuh paling tinggi sebesar 22,18 persen yoy. Kredit UMKM melanjutkan perbaikan, meningkat 2,32 persen yoy dibanding 1,62 persen yoy pada Juli 2026.
Dari sisi kepemilikan bank, kredit bank BUMN mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 16,41 persen yoy.
Kualitas aset perbankan terjaga. Rasio Non Performing Loan (NPL) gross berada di 2,11 persen, sedikit naik dari 2,10 persen pada Juli 2026. NPL net tercatat 0,84 persen, dibandingkan 0,81 persen bulan sebelumnya.
Loan at Risk (LaR) tercatat 8,56 persen, naik dari 8,39 persen pada Juli 2026. Dari sisi profitabilitas, Return on Assets (ROA) berada di 2,43 persen, sedikit turun dari 2,45 persen pada Juli 2026. Sementara itu, ketahanan modal tetap kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) 24,10 persen, naik dari 23,84 persen pada Juli 2026.
Advertisement
Aset Asuransi dan Dana Pensiun Terus Bertambah
Kinerja industri Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) secara umum stabil dan terjaga hingga Agustus 2026.
Pada industri asuransi, total aset mencapai Rp1.200,55 triliun atau tumbuh 2,56 persen yoy. Untuk asuransi komersial, total aset tercatat Rp982,18 triliun, naik 3,59 persen yoy.
Di industri dana pensiun, total aset per Agustus 2026 naik 6,99 persen yoy menjadi Rp1.724,14 triliun. Pada program pensiun sukarela, aset meningkat 4,31 persen yoy menjadi Rp412,39 triliun.
OJK memproyeksikan kinerja PPDP hingga akhir 2026 tetap tumbuh positif, meski lebih moderat dibanding target awal tahun akibat meningkatnya tekanan perekonomian global. Pertumbuhan program asuransi diperkirakan 2–4 persen dan dana pensiun 4–6 persen, sementara aset industri penjaminan diperkirakan tumbuh 28–30 persen.
Advertisement
Perusahaan Pembiayaan, Pindar, dan Pergadaian
Piutang perusahaan pembiayaan pada Agustus 2026 tumbuh 1,68 persen yoy menjadi Rp514,08 triliun, didukung antara lain oleh kenaikan pembiayaan modal kerja sebesar 5,40 persen yoy.
Profil risiko tetap terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) gross 3,04 persen dan NPF net 0,83 persen. Gearing ratio industri tercatat 2,04 kali, jauh di bawah batas maksimum 10 kali.
Pembiayaan modal ventura pada Agustus 2026 tumbuh 1,05 persen yoy dengan nilai pembiayaan mencapai Rp16,50 triliun.
Pada Lembaga Keuangan Mikro (LKM), pembiayaan terkontraksi 0,33 persen yoy menjadi Rp1,05 triliun, sementara simpanan tumbuh 7,70 persen yoy menjadi Rp0,63 triliun.
Pada industri Pinjaman Daring (Pindar), outstanding pembiayaan Agustus 2026 tumbuh 22,07 persen yoy menjadi Rp106,94 triliun. Tingkat risiko kredit macet agregat, yang tercermin dari Tingkat Wanprestasi 90 hari (TWP90), berada di 4,73 persen.
Industri pergadaian mencatat kenaikan penyaluran pembiayaan 44,60 persen yoy menjadi Rp156,61 triliun pada Agustus 2026. Porsi terbesar disalurkan melalui produk gadai sebesar Rp132,84 triliun atau 84,82 persen dari total pembiayaan.