Jogja Defisit Bahan Gudeg, Pertamina-UGM Bantu Garap Hutan 87 Hektare

Jogja defisit 7 ton nangka per hari untuk gudeg. Pertamina garap hutan 87 hektare di Gunungkidul demi kemandirian pangan

Idris Rusadi Putra
Oleh Idris Rusadi Putra - Reporter
Jogja Defisit Bahan Gudeg, Pertamina-UGM Bantu Garap Hutan 87 Hektare
Ilustrasi pohon nangka. (Gambar oleh Reinout Dujardin dari Pixabay)

 

Selama ini, kuliner khas Yogyakarta, gudeg, ternyata menyimpan fakta mengejutkan. Kebutuhan nangka muda (gori) sebagai bahan baku utamanya mencapai sembilan ton per hari, tetapi produksi lokal DIY baru mampu menyetor dua ton. Alhasil, Jogja harus mengimpor sekitar tujuh ton nangka setiap hari dari luar daerah. 

Melihat celah tersebut, Pertamina bersama Pertamina Foundation, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan DLHK DIY berkolaborasi menggarap Hutan Lestari Wanaboga Nangka seluas 87 hektare di Karangmojo, Gunungkidul.

Langkah strategis ini ditandai dengan panen raya dan penanaman lanjutan pohon nangka pada Sabtu (3/10/2026).

Komisaris PT Pertamina (Persero), Nanik S. Deyang, menegaskan pemanfaatan lahan ini merupakan bentuk keterlibatan dunia usaha dalam mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga identitas kuliner Jogja.

"Yogyakarta identik dengan gudeg, tapi belum punya sumber bahan baku mandiri. Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini adalah bagian nyata dari program ketahanan pangan," ujar Nanik, Senin (5/10).

Pengelolaan kawasan ini melibatkan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang beranggotakan sekitar 400 petani lokal. Untuk menyiasati tanah karst Gunungkidul yang cenderung kering saat kemarau, kawasan ini menerapkan sistem tumpangsari dengan dukungan pengairan berbasis energi bersih.

Perwakilan kelompok tani, Ngatimin, menyebut warga telah merasakan setidaknya tiga kali panen dan berharap pendampingan terus berlanjut hingga ke pengembangan produk turunan.

Hilirisasi Pangan dan Eduwisata

Jogja Defisit Bahan Gudeg, Pertamina Bantu Garap Hutan 87 Hektare
Jogja Defisit Bahan Gudeg, Pertamina Bantu Garap Hutan 87 Hektare

Corporate Secretary PT Pertamina (Persero), Arya Dwi Paramita, serta Direktur Penunjang Bisnis, M. Erry Sugiharto, menekankan bahwa program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ini berorientasi pada dampak jangka panjang.

"Hilirisasi tidak hanya milik sektor pertambangan, tetapi bisa kita mulai dari sebatang pohon nangka untuk mendukung swasembada pangan," tutur Erry. 

President Director Pertamina Foundation, Agus Mashud S. Asngari, menambahkan bahwa dalam jangka panjang kawasan ini diproyeksikan menjadi lumbung pangan berbasis eduwisata.

Guna mendukung operasional panen, Pertamina Foundation turut menyerahkan dua unit kendaraan angkut roda tiga bagi kelompok tani serta 20 paket bantuan pendidikan SESAMA untuk anak-anak sekitar kawasan.

Momen panen raya ini ditutup secara hangat melalui tradisi Kembul Bujono—makan bersama olahan nangka diiringi musik tradisional Rinding Gumbeng khas Gunungkidul sebagai bentuk rasa syukur.

Rekomendasi